Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label CintaRasul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CintaRasul. Tampilkan semua postingan
Menjadi Pecinta Rasulullah Sejati

Menjadi Pecinta Rasulullah Sejati

Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna kecuali dengan mencintai utusan Allah kepada mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Keluarga dan para Sahabatnya.

Mencintai Nabi Muhammad S.a.w termasuk ushul iman (pokok iman) yang bergandengan dengan cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Allah S.w.t telah menyebutkannya dalam satu ayat dengan menyertakan ancaman bagi orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada kerabat, harta, negara serta lainnya daripada cinta kepada keduanya.

Allah Ta'ala berfirman;

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

"Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.“. (QS. Al-Taubah: 24).

Syekh Abdurrahman bin Nashir al-Sa'di berkata dalam tafsirnya, Tafsir al-Karim al-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Mannan, “Dan ayat yang mulia ini adalah dalil paling agung menunjukkan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, mendahulukannya atas kecintaan segala sesuatu. Juga menunjukkan ancaman keras dan kebencian sangat atas orang yang lebih mencintai salah satu dari yang telah disebutkan daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya.“.

Kemudian Syekh Sa'di menyebutkan tanda-tandanya, “Adalah apabila hadir padanya dua perkara yang bertentangan. Salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya dan tidak disukai oleh jiwanya. Sementara yang lain disukai dan diinginkan oleh jiwanya. Tapi ia mengesampingkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Atau ia menguranginya. Maka jika ia mengutamakan apa yang disuka oleh nafsunya atas apa yang Allah cintai, hal itu menunjukkan bahwa ia berlaku zalim dan meninggalkan apa diwajibkan atasnya.“.

Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna kecuali dengan mencintai utusan Allah kepada mereka, yaitu Nabi Muhammad S.a.w. Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih menghormati kedudukan Beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat baik dan membantunya. Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan seorang mukmin.

Rasulullah S.a.w bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Ibnu Baththal, makna hadits ini adalah orang yang sempurna imannya pasti tahu bahwa hak Nabi S.a.w lebih utama baginya daripada hak bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia. Karena melalui Nabi S.a.w kita terselamatkan dari neraka dan diselamatkan dari kesesatan.

Ketika Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah S.a.w, dan menempatkan posisi cintanya kepada Beliau 'di bawah' kecintaannya terhadap dirinya sendiri, Rasulullah S.a.w menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada Beliau S.a.w di atas segala-galanya.

Maka wajib mendahulukan dan mengutamakan kecintaan kepada Nabi S.a.w atas kecintaan kepada diri sendiri, anak, kerabat, keluarga, harta, dan tempat tinggal serta segala sesuatu yang sangat dicintai manusia.

Memang setiap orang berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pencinta Nabi S.a.w, namun klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti sunnahnya), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena ber ittiba' kepada Beliau merupakan tuntutan dari keyakinan bahwa Beliau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau dijadikan sebagai suri teladan yang harus ditiru, dicontoh, dan diikuti dalam perjalanan untuk ke surga.

Allah Ta'ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِر

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.". (QS. al-Ahzab: 21)

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar mengambil setiap yang Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam berikan dari urusan dien (agama) ini dan meningalkan apa yang Beliau larang.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.". (QS. Al-Hasyr: 7).

Hal tersebut karena Beliau tidak berbicara tanpa bimbingan wahyu dan menuruti hawan nafsu, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)“. (QS. Al-Najm: 3-4).

Sehingga seorang pecinta Nabi S.a.w akan membenarkan setiap yang Beliau beritakan, mentaati apa yang Beliau perintahkan, meninggalkan apa yang Beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkannya.

Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“. (QS. Ali Imran: 31).

Jujurnya orang yang beriman kepada Allah, mengharapkan kecintaan dan ridha-Nya serta dimasukkan ke surga-Nya adalah dengan mengikuti Rasulullah S.a.w dalam semua keadaannya, dalam semua perkataan dan perbuatannya, pada persoalan pokok agama dan cabang-cabangnya, dalam bathin dan dzahirnya. Maka siapa yang mengikuti Rasulullah S.a.w itu menunjukkan benarnya pengakuan cinta kepada Allah Ta'ala.

Al Qadli 'Iyadl Rahimahullah, berkata: “Di antara bentuk cinta kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariahnya, berangan-angan hidup bersamanya, . . . “.

Ibnu Rajab, dalam Fathul Bari Syarh Shahih al Bukhari, menyebutkan bahwa kecintaan bisa sempurna dengan ketaatan, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.".“. (QS. Ali Imran: 31).

Karenanya klaim cinta kepada Nabi S.a.w taklah hanya dengan sekedar memperingati hari kelahiran Beliau, sementara perilakunya banyak menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunannya Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Wallahu Ta'ala A'lam.

~ Oleh Badrul Tamam ~

Mengagungkan Rasulullah S.A.W - Sebuah Hakikat Kemurnian Tauhid

Mengagungkan Rasulullah S.A.W - Sebuah Hakikat Kemurnian Tauhid

Tiada se­orang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah S.a.w, dan tiada seorang pun lebih agung di mataku daripada Beliau S.a.w


Dalam kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail Alaihis Salam, di antara inti makna penting yang terkandung di dalamnya ada­lah sebuah kemurnian tauhid dan hakikat iman itu sendiri. Bahwa, dalam hal ibadah kepada Allah S.w.t, Nabi Ibrahim tidak menimbang perkara agama de­ngan pikirannya, melainkan semata-mata tunduk dan pasrah terhadap ke­hendak dan perintah Allah S.w.t. Bahkan di saat pikiran dan akal 'sempit' manusia tidak bisa menerima bila harus membunuh (menyembelih) putranya sendiri, Nabi Ibrahim me­nafikan semua itu dan sepenuhnya tun­duk patuh kepada perintah Allah S.w.t.

Bila itu adalah perintah Allah, tidak ada celah sedikit pun bagi akal untuk menim­bangnya selain patuh dan tunduk ke­pada Yang Maha Pemberi perintah. Ka­rena yang demikian itulah inti dan haki­kat kemurnian tauhid yang sesungguh­nya. Karena, bila dalam hal ini akal sem­pit manusia masuk, maka sesungguhnya dia tengah mencontoh perilaku makhluk Allah yang pertama kali menimbang-nimbang perkara agama hanya dengan akal pikirannya, yakni Iblis, yang karena perbuatannya itu Iblis terusir dari rahmat Allah S.w.t. Na‘udzu billah min dzalik.

Untuk lebih memahami dari makna-mak­na kemurnian tauhid dan hakikat iman, marilah kita menyimak apa yang dituturkan oleh Sayyidina Al Habib Ali Al-Jufri dalam salah satu majelisnya.

Kita meng­agungkan Nabi S.a.w karena Allah telah mengagungkan Nabi S.a.w dan meme­rintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengagungkan Beliau S.a.w

Setelah Allah S.w.t menciptakan Adam A.s dari tanah dan meniupkan ke­padanya ruh dari sisi-Nya dan memerin­tahkan para malaikat supaya bersujud kepada Adam, timbullah dua bentuk ke­samaran. Yaitu, pertama, kesamaran yang berasal dari dzat yang tidak ter­dapat padanya kesombongan (al-kibr) akan tetapi ingin memahami sesuatu, me­reka adalah para Malaikat. Dan, ke­dua, kesamaran yang berasal dari dzat yang padanya terdapat kesombongan, yakni Iblis.

Para malaikat berkata, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Mereka ber­kata, ‘Mengapa Engkau hendak men­jadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan me­numpahkan darah, padahal kami se­nantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’.”. (QS Al-Baqarah: 30).

Ini adalah pertanyaan untuk mencari penjelasan. Perkataan itu diucapkan oleh para malaikat karena merasa samar dalam perkara tersebut.

Para malaikat adalah makhluk Allah S.w.t yang sepenuhnya beribadah ke­pada Allah dan bertasbih kepada-Nya. Mereka makhluk yang tercipta dari caha­ya, yang tidak pernah mendurhakai Allah dalam segala hal yang diperintahkan-Nya dan senantiasa menunaikan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Tiba-tiba Allah ciptakan satu makhluk yang terbuat dari tanah, belum pernah satu kali pun sujud kepada-Nya, dan ti­dak pula tampak adanya keutamaan dan keistimewaannya dibanding mereka, para malaikat. Dalam kondisi semacam itu, Allah justru berfirman kepada me­reka, “Sujudlah kalian kepadanya (Sesungguhnya Aku telah menjadikan se­orang khalifah di muka bumi).”.

Malaikat berkata, “Bagaimana mung­kin wujud seperti itu disebut khalifah (wa­kil Allah)? Padahal kami senantiasa ber­sujud dan menunaikan segala perintah?

Allah S.w.t berfirman, “Sesungguh­nya Aku lebih mengetahui segala apa yang tidak kalian ketahui.” (QS Al-Baqarah: 30).

Mendapat jawaban dari Allah S.w.t semacam itu, para malaikat pun berhenti sampai batas itu. “Benar, Maha Suci Eng­kau. Engkau Maha Mengetahui segala apa yang kami tidak ketahui.”. Maka sele­sailah masalahnya.

Sedangkan Iblis memiliki kesom­bong­an di dalam dirinya. Ia menisbahkan segala perbuatan dan ibadahnya kepa­da dirinya sendiri dan tidak kepada taufiq Allah S.w.t. Ia memandang bahwa diri­nya lebih mulia dari selainnya.

Kala itu Iblis berkata, “Bagaimana mung­kin, ia tercipta dari tanah, dan Eng­kau ingin aku sujud kepadanya?

Allah berfirman, “Apakah yang meng­halangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” (QS Al-A`raf: 12).

Menjawablah Iblis, “Aku lebih baik daripadanya.” (QS Al-A`raf: 12).

Iblis membanding-bandingkan diri­nya dengan Adam. “Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A`raf: 12).

Allah berfirman, “Turunlah engkau dari surga itu....” (QS Al-A`raf: 13).

Perhatikan!.. Di sini permasalahan sesungguhnya berasal dari dalam diri Iblis yang kemudian menjadi tabiat. Apa tabiatnya?.. Yakni menolak sujud, men­durhakai Allah S.w.t, dan tidak melak­sanakan perintah Allah S.w.t.

Tabiat ini telah mencegah Iblis dari me­lakukan apa yang diperintahkan ke­padanya. Setelah itu keluarlah darinya ucapan, “Aku lebih baik darinya.”. Sete­lahnya muncul lagi sikap untuk menetap­kan dirinya dalam kebathilan dan kedur­hakaan. “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS Shaad: 82).

Kepada siapa Iblis berkata demiki­an?.. Iblis berkata demikian kepada Tu­han, Yang Maha Agung. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi. Siapa yang dia ten­tang?!.. yang dia tantang adalah Allah S.w.t.

Demikianlah Iblis, yang karena kesungguhan ibadahnya kepada Allah sampai dijuluki thawus al-malaikah (mah­kota para malaikat) harus terusir dari rahmat Allah S.w.t selama-lamanya karena dia telah menimbang perkara agama dengan kesempitan akal pikiran­nya, sehingga lahir di dalam hatinya sifat ujub, yang kemudian berkembang men­jadi takabur, dan berkembang lagi men­jadi hasad, dan seterusnya hingga men­jadi makhluk terlaknat karena telah menobatkan dirinya sebagai penentang, pendurhaka, dan pengingkar sejati ter­hadap Allah S.w.t, Tuhan Penciptanya. Naudzu billah mindzalik.

Berkaitan dengan makna-makna ini, banyak di kalangan umat Islam, baik se­cara sadar maupun tidak, dan karena ke­bodohannya, telah menjerumuskan diri­nya ke jurang perilaku dan sikap yang di­pilih oleh Iblis dibanding memilih peri­laku dan sikap yang dipilih oleh para ma­laikat dan Nabi Ibrahim A.s dan hamba-hamba Allah yang shalih seperti mereka. Yakni, menimbang perkara-perkara aga­ma dengan kesempitan dan kepicikan akal pikiran mereka sendiri.

Di antara kesalahan sikap dan peri­laku keberagamaan yang sangat fatal itu adalah pandangan mereka yang meng­anggap pengagungan terhadap Nabi S.a.w dan para Shalihin dalam bentuk apapun sebagai perbuatan kufur dan syirik, (juga beranggapan) hal tersebut bukan hanya wajib dijauhi te­tapi juga harus diperangi pelakunya karena dianggap telah menyalahi syari’at Islam dan menyebarkan paham kufur dan syirik. Hal ini tidak lain semata-mata karena menurut akal dan pikiran mereka, bahwa Rasulullah S.a.w tidak lain hanyalah se­orang manusia biasa, sama seperti ma­nusia lainnya. Mengagungkan Nabi S.a.w berarti telah menyekutukan Allah S.w.t dengan makhluk, karena peng­agung­an semata-mata hanya ditujukan kepada Allah S.w.t.

Dalam hal ini, sesungguhnya mereka lupa dan bodoh terhadap makna bahwa sesungguhnya pengagungan terhadap Nabi S.a.w tidak lain semata-mata me­nunaikan perintah Allah S.w.t. Kita meng­agungkan Nabi S.a.w karena Allah telah mengagungkan Nabi S.a.w dan meme­rintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengagungkan Beliau S.a.w. Mudahnya, bila kita mengagungkan Nabi S.a.w, berarti kita mengikuti jejak para malaikat, Nabi Ibrahim A.s, dan orang-orang yang meng­ikuti mereka, yang taat dan patuh kepada perintah Allah S.w.t. Dan bila kita ber­buat sebaliknya, dengan meremehkan makna keagungan yang telah Allah beri­kan kepada Nabi S.a.w, kita telah mengi­kuti jejak Iblis, yang terusir dari rahmat Allah karena menimbang perkara agama dengan akal pikirannya yang sempit. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.

Untuk lebih memahami makna peng­agungan antara makna adab dan iba­dah, yang keduanya merupakan hakikat sesungguhnya dari penghambaan dan ibadah kepada Allah S.w.t, mari kita re­nungi dan cermati apa yang diungkap­kan oleh Sayyidina Abuya Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dalam kitabnya Ma­fahim yajib an-tushahhah.

Perkara agung yang harus diperhatikan de­ngan sebaik-baiknya ialah kewa­jib­an mengagungkan Nabi S.a.w dan me­ninggikan kedudukan Beliau S.a.w di atas sekalian makhluk

Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani berkata, “Banyak orang salah da­lam memahami hakikat ta`zhim (penga­gungan) dan hakikat ibadah, sehingga mereka mencampur-adukkan antara ke­duanya secara jelas dan nyata. Mereka memandang segala bentuk pengagung­an adalah ibadah kepada Yang Maha Agung. Berdiri (menyambut), mencium tangan, menga­gungkan Nabi S.a.w dengan ucapan ‘Say­yidina dan Maulana’ (Penghulu dan Junjungan kami), berdiri di hadapan makam Beliau pada saat ziarah dengan pe­nuh adab dan rendah diri, dalam pan­dangan mereka semua itu adalah ghu­luw (perilaku berlebihan) yang mengarah kepada beribadah kepada selain Allah S.w.t, (dan juga dalam pan­dangan mereka) semua itu adalah kebodohan dan keingkaran yang tidak diridhai oleh Allah S.w.t, dan perbuatan tidak berdasar yang ditolak oleh ruh syari’at Islam.

Adalah Nabi Adam A.s manusia pertama dan hamba Allah pertama dari para ham­ba Allah yang shalih dari kalangan manusia. Allah perintahkan para malai­kat untuk bersujud kepadanya sebagai penghormatan dan pengagungan bagi­nya karena apa yang telah Allah anu­gerahkan kepadanya dari ilmu sekaligus juga sebagai pemberitahuan kepada mereka tentang kesuciannya di antara segenap makhluk-Nya.

Allah S.w.t berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para ma­laikat, ‘Sujudlah kalian semua kepada Adam, maka mereka pun bersujud, ke­cuali Iblis. Ia berkata: Apakah aku bersu­jud kepada makhluk yang Engkau cipta­kan dari tanah? Iblis berkata: Terang­kanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?’.” (QS Al-Isra’: 61-62). Dan pada ayat yang lain Iblis berkata, “Aku lebih baik daripada­nya. Engkau ciptakan aku dari api se­dang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A`raf: 12). Dan pada ayat yang lain lagi Allah S.w.t berfirman, “Maka ber­sujudlah seluruh malaikat itu bersama-sama kecuali Iblis. Dia enggan untuk (ikut bersujud) bersama mereka yang sujud itu.” (QS Al-Hijr: 30-31).

Di sini, para malaikat mengagungkan siapa yang Allah agungkan sedangkan Iblis menyombongkan diri dari sujud ke­pada makhluk (Nabi Adam A.s) yang di­ciptakan dari tanah. Iblis adalah makhluk pertama yang 'menimbang' perkara aga­ma hanya dengan pikirannya dan ber­kata, “Aku lebih baik darinya.” Dia mendasarkan pikirannya itu dengan dalil penciptaan dirinya yang tercipta dari api dan penciptaan Nabi Adam A.s yang berasal dari tanah. Dengan pendasaran semacam itu, Iblis menganggap remeh perkara penghormatan terhadap Nabi Adam dan menolak sujud kepada­nya. Dengan itu, Iblis adalah makhluk pertama yang menyombongkan dirinya. Ia tidak mengagungkan siapa yang Allah agungkan, sehingga Iblis diusir dari rah­mat Allah Sw.t karena kesombongan­nya terhadap hamba yang shalih ini (Nabi Adam Alaihi Salam). Dalam konteks ini, apa yang diperbuat Iblis itu sesungguhnya hakikat takabur (kesombongan) terhadap Allah S.w.t, karena sesungguhnya sujud kepada Nabi Adam itu tidak lain semata-mata karena perintah Allah S.w.t.

Dan sesungguhnya sujud kepada Nabi Adam di sini adalah pemuliaan dan penghormatan baginya yang diperin­tahkan atas mereka. Dan Iblis sesung­guhnya bagian dari hamba-hamba yang mentauhidkan Allah, tetapi sungguh tiada berguna baginya tauhidnya.

Di antara penjelasan yang mene­rangkan ihwal pengagungan terhadap para Shalihin adalah firman Allah S.w.t yang mengisahkan Nabi Yusuf A.s, “Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka semua merebahkan diri seraya bersujud kepada Yusuf.” (QS Yusuf: 100). Mereka, para saudara Nabi Yusuf, sujud kepada Nabi Yusuf sebagai penghormatan dan pengagungan baginya. Dan sujud para saudara Nabi Yusuf kepadanya dijelaskan dalam firman Allah S.w.t “Wa kharruu (dan mereka bersujud)”, yang su­jud semacam demikian dibolehkan da­lam syari’at mereka, atau seperti sujud­nya para malaikat kepada Nabi Adam sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan serta menjalankan perintah Allah S.w.t, yang itu adalah tafsir dari mimpi Nabi Yusuf Alaihi Salam, sedangkan mimpi para Nabi adalah wahyu.

Adapun mengenai Nabi kita, Sayyi­dina Muhammad S.a.w, Allah S.w.t ber­firman pada hak Beliau S.a.w, “Sesung­guhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Supaya kalian ber­iman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkannya dan membesar­kan­nya....” (QS Al-Fath: 8-9).

Allah juga ber­firman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya....” (QS Al-Hujarat: 1). Firman-Nya juga, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi....” (QS Al-Hujarat: 2). Allah pun berfirman, “Ja­nganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan seba­hagian kalian kepada sebahagian yang lain....” (QS An-Nur: 63).


Allah S.w.t melarang untuk berbuat lancang di hadapan Beliau S.a.w, baik dengan ucapan maupun dengan adab yang buruk dengan mendahului Beliau S.a.w berkata-kata.

Abu Muhammad Makki berkata, “Yakni, jangan mendahului Beliau dalam pembicaraan, jangan berkata kasar ke­pada Beliau, dan jangan memanggil Be­liau seperti kalian memanggil sebagian kalian yang lain. Akan tetapi, agung­kan­lah Beliau, besarkan Beliau, dan panggil­lah Beliau dengan panggilan yang paling mulia yang Beliau sukai untuk dipanggil de­ngan panggilan itu, yaitu ‘Wahai Ra­sulullah... Wahai Nabi Allah...’. Yang demikian ini sebagaimana firman Allah S.w.t, ‘Janganlah kalian jadikan panggil­an Rasul di antara kalian seperti panggil­an sebahagian kalian kepada sebaha­gian yang lain...’ (QS An-Nur: 63).”, Ayat ini turun karena ada sekelompok orang yang mendatagi Nabi S.a.w dan berseru, “Hai Muhammad, keluarlah dan temui kami.”, Allah menghardik mereka dengan mensifati mereka dengan kejahilan dan menegaskan bahwa kebanyakan mere­ka tidak memiliki akal.

Amr bin ‘Ash R.a berkata, “Tiada se­orang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah S.a.w dan tiada seorang pun lebih agung di mataku daripada Beliau S.a.w. Sungguh aku tiada sanggup untuk memenuhi pandangan mataku pada Beliau sebagai penggagunganku kepada Beliau S.a.w. Dan bila saja aku diminta untuk mensifati Beliau, sungguh aku tiada sanggup melakukannya, karena aku tidak dapat memenuhi pandangan mataku pada Beliau S.a.w.” (HR Muslim).

Urwah bin Mas‘ud berkata kepada orang-orang Quraisy: “Wahai segenap orang Quraisy, sungguh aku telah men­datangi Kisra di kerajaannya dan Kaisar di kerajaannya dan juga Najasyi di istananya. Demi Allah, aku tidak pernah sekali pun melihat seorang raja di tengah rakyatnya seperti Muhammad di antara para sahabatnya.”. Ungkapan ini dikata­kan oleh Urwah setelah ia datang ber­sama serombongan Quraisy mengha­dap Nabi S.a.w pada peristiwa Qadhiy­yah.

Urwah menyaksikan bagaimana penga­gungan para sahabat kepada Rasulullah S.a.w, yang tidaklah Rasulullah S.a.w ber­wudhu kecuali mereka berebut sisa air wudhu Nabi S.a.w, seolah mereka hen­dak saling membunuh untuk men­da­patkan bekas wudhu Beliau S.a.w, dan tidak pula Nabi S.a.w meludah atau membuang riak kecuali para Sahabat sa­ling berebut untuk mendapatkan ludah mu­lia Rasulullah S.a.w dan mengusap­kan­nya ke wajah dan badan mereka, ti­dak pula jatuh sehelai rambut pun dari rambut Rasulullah S.a.w kecuali mereka sa­ling berebut mendapatkannya. Jika Be­liau memerintahkan sesuatu, mereka bersegera menunaikan perintahnya. Bila Beliau berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapan Beliau dan ti­dak menghadapkan pandangan mereka ke arah Beliau karena mengagungkan Beliau S.a.w....

Kesimpulannya, di sini terdapat dua perkara agung yang harus diperhatikan de­ngan sebaik-baiknya. Pertama, kewa­jib­an mengagungkan Nabi S.a.w dan me­ninggikan kedudukan Beliau S.a.w di atas sekalian makhluk. Kedua, memurnikan ke­tuhanan dan meyakini sepenuh hati bahwa Allah S.w.t Maha Esa pada dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan pada perbuat­an-perbuatan-Nya dari sekalian makh­luk-Nya. Barang siapa meyakini adanya kebersekutuan makhluk pada Tuhan Yang Maha Pencipta S.w.t pada semua itu, ia telah berbuat syirik, seperti orang-orang musyrik yang meyakini adanya si­fat ketuhanan pada sekalian berhala dan kepatutannya untuk disembah. Dan ba­rang siapa yang merendahkan Nabi S.a.w pada sesuatu dari kedudukan Be­liau S.a.w, sungguh orang itu telah ber­buat maksiat atau bahkan kafir.

Adapun siapa yang berbuat semak­simal mungkin dalam mengagungkan Nabi S.a.w dengan berbagai macam ben­tuk pengagungan dan tidak mensifati Beliau S.a.w dengan sesuatu dari sifat-sifat Al-Bari (Yang Maha Pencipta) S.w.t, sungguh orang itu telah melakukan ke­be­naran dan telah menjaga sisi ketuhan­an dan risalah seluruhnya. Yang demiki­an itulah pandangan yang tiada ke-eks­treman di dalamnya.

Bila di dalam ungkapan kaum muk­minin terdapat penyandaran (isnad) se­suatu kepada selain Allah S.w.t, kita wa­jib memaknai ungkapan itu kepada ma­jaz ‘aqli (makna yang tidak sesungguh­nya, bukan makna hakiki) dan tidak ada jalan (thariq) untuk mengkafirkan mere­ka. Karena majaz aqli telah digunakan dalam Al-Qur’an.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Baca juga: Suci Lahir dan Bathin

Memperingati Manusia Agung

Memperingati Manusia Agung

"Kewajiban kita mengagungkan Allah, mengagungkan Rasulullah, mengagungkan para Sahabat Rasulullah, mengagungkan para Auliya` Allah."

Di dalam hadis, Rasulullah S.a.w bersabda: “Aku adalah orang yang pertama sekali memohon syafa`at dan aku adalah orang yang pertama kali diterima syafa`atnya oleh Allah”. Lihatlah di dalam hadis ini! Rasulullah mengajar agar kita menjalin hubungan dengannya, menjalin hubungan yang erat dengan Rasulullah S.a.w. Dahulu para sahabat berkumpul yang dalam perkumpulan itu para sahabat mengingat Allah, mereka berkumpul mengingat Nabi Muhammad S.a.w, mengingat orang-orang yang dimuliakan oleh Allah S.w.t.

Lihat keadaan kaum muslimin sekarang, berbeda dengan keadaan para sahabat Rasulullah, kaum muslimin di zaman kita berkumpul mengingat orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, menyebut nama-nama orang yang hina di sisi Allah, sehingga betapa banyak kaum muslimin yang terpengaruh dengan pemikiran barat, pemikiran orang-orang yang tidak pernah sujud kepada Allah S.w.t.

Kewajiban kita kaum muslimin adalah kita menyuburkan keimanan di dalam hati kita, kita tingkatkan keimanan kepada Allah dan tanamkan pada hati-hati kita bahwa kemuliaan hanya milik Allah dan Rasulullah, keagungan hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman di dalam al-Qur'an: “Kemuliaan, keagungan adalah milik Allah, milik Rasulullah dan milik mereka yang beriman kepada Allah. Adapun mereka orang-orang munafiqin tidak mengetahui kalau kemuliaan adalah milik Allah.”.

Oleh karena itu ayyuhal ikhwan, mari kita agungkan Allah, kita agungkan mereka orang-orang yang diagungkan Allah, muliakanlah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah. Kewajiban kita mengagungkan Allah S.w.t, mengagungkan Rasulullah S.a.w, mengagungkan para sahabat Rasulullah, mengagungkan para Auliya` Allah.

Disebutkan ketika pada suatu hari para sahabat berkumpul, mereka menyebut tentang keistimewaan para Nabi-nabi yang terdahulu. Beberapa dari mereka mengatakan: “Lihatlah Nabi Ibrahim yang dijadikan oleh Allah sebagai Khalilullah.” Maka beberapa sahabat yang lain mengatakan: “Tapi lihat Nabi Musa yang lebih agung yang dijadikan oleh Allah sebagai Kalimullah, orang yang bicara langsung dengan Allah.” Beberapa lagi mengatakan: “Lihat Nabi Isa a.s. yang dijadikan oleh Allah sebagai ruhullah sebagai kalimatullah!” Beberapa lagi mengatakan tentang Nabi Adam yang diciptakan oleh Allah secara langsung.

Ketika mereka sedang menyebutkan keistimewaan para nabi yang terdahulu, datang kepada mereka Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika Nabi Muhammad datang pada mereka dan mengucapkan salam kepada mereka, Rasulullah mengatakan kepada mereka:

Wahai para sahabatku, kalian berkumpul pada saat ini menyebutkan tentang keistimewaan para Nabi Utusan-utusan Allah, kalian mengatakan bahawa Nabi Ibrahim adalah Khalilullah dan memang demikian Nabi Ibrahim adalah Khalilullah. Dan kalian menyebutkan bahwa Nabi Musa adalah Kalimullah, Nabi yang berbicara langsung dengan Allah, yang bermunajat langsung dengan Allah, dan memang demikian adanya Nabi Musa sebagai Kalimullah. Dan demikian pula dengan Nabi Isa dan Nabi Adam, yang mereka adalah orang yang mulia di sisi Allah `Azza wa Jalla.”.

Kemudian Nabi S.a.w mengatakan kepada mereka: “Dan ketahuilah wahai para sahabatku bahwa aku adalah Habibullah, aku adalah Kekasih Allah, aku adalah orang pertama yang akan memberikan syafa`at kepada umat manusia di hari kiamat nanti, aku adalah orang yang termulia dari semua makhluk yang diciptakan Allah, aku adalah Nabi pertama yang akan memasuki surga dan bersamaku orang-orang fuqara` dari kalangan orang-orang mukminin (orang-orang yang beriman kepada Allah).”.

Lihatlah Rasulullah, bagaimana Beliau S.a.w mengajarkan kita agar kita menjalinkan hubungan dengannya, agar kita selalu menguatkan hubungan dengan Rasulullah. Allah dan Rasul-Nya lebih pantas kita agungkan, lebih pantas kita muliakan kalau memang kita beriman kepada Allah S.w.t dan Rasulullah S.a.w.

~ Al Habib Umar bin Hafidz ~

Petikan ceramah di kediaman Sayyid Thohir bin Yahya, Semarang
Sebagaimana juga tercatat dalam buku “Singa Podium” halaman 34 – 37.
tulisan ini diteruskan dari: www.pondokhabib.wordpress.com


Kecintaan Kepada Rasulullah S.A.W

Kecintaan Kepada Rasulullah S.A.W

Kita patut bersyukur diberikan malam yang cerah karena dapat menumbuhkan kekhusyukan sehingga kita bisa bergembira dapat membaca sejarah hidup mulia baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kita berharapa majelis semacam ini dapat membuka pintu rahmat dan ampunan Allah dan menjadi sarana terkabulnya segala permintaan dengan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada rasa senang yang paling agung seperti kesenangan kita terhadap Wujudul Musthafa, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kegembiraan Allah dikumpulkan menjadi satu yaitu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka jika rasa cinta kita berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka Allah akan memberikan semua yang kita butuhkan.

Disebutkan dalam maulid, “.. Demikianlah bumi dan langit bergelimang wangi-wangian riang gembira, menanti lahirnya insan termulia”, sungguh merupakan sastra indah yang mengungkapkan bahwa semua yang ada di alam ini menyambut kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Semua mengungkapkan cintanya karena bisa bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lahirnya Beliau membawa perubahan di alam ini, sehingga semua makhluk cinta kepada Beliau. Disebutkan dalam sebuah kata mutiara, “apabila kau perbaiki dzohirmu dengan mengikuti sayyidul a’dzom dan para salaf sholeh, maka Allah akan memperbaiki bathinmu dengan bisa menyaksikan ayat-ayat Allah”. Banyak diantara orang shaleh berharap mempunyai cinta semacam itu. Kita mengenal pengarang Maulid Simthud Durar, Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi R.a, Beliau selalu meminta diberikan kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Banyak qashidah yang mengaku mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lisan kita senang berhiaskan qashidah tersebut, tapi di sisi lain kita juga tidak mau dianggap sebagai pembohong.

"Kita menginginkan cinta itu benar-benar ada di hati kita"

Maka para ulama mengajak kita untuk senantiasa mengikuti apa yang telah Beliau ajarkan, sebagaimana kita mempelajari Syamail. Kita berusaha mengenal pribadi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk diikuti, namun perlu juga kita tambahkan dengan meminta cinta itu kepada Allah. Menumbuhkan cinta itu tak semudah yang kita bayangkan. Para sahabat yang sering duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun masih meminta doa agar diberikan cinta dalam hatinya. Jadi kita butuh untuk meminta cinta tersebut sebagaimana orang yang istiqomah selalu meminta keistiqomahan tersebut tetap ada pada dirinya.

Disebutkan pula dalam sebuah qashidah bahwa rasa cinta yang muncul di hati sangat penting. Rasa yang membawa kita berjalan jauh dan lisan kita tak pernah bosan menyebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Itulah cinta dalam hati yang harus kita pelihara. Meminta kepada Allah untuk tidak melenyapkan rasa ini. Kita tidak menginginkan untuk saat ini saja bisa berkumpul, tapi seumur hidup bahkan kelak di hari kiamat bisa berkumpul dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kisah yang indah tentang Waraqah bin Naufal yang dibutakan matanya, seketika bisa melihat karena memandang wajah mulia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sementara mata kita terhijab dengan banyak dosa. Mata kita melihat yang semestinya tidak boleh dilihat. Kita ingin mata ini dapat melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam walau dalam mimpi. Apalagi jika dapat bertemu langsung.

Setiap kita beruluk salam, malaikat selalu menyampaikan kepada Beliau. Ketika kita Mahallul Qiyam, kita yakini bahwa Beliau hadir di tengah-tengah kita. Bahkan dikisahkan oleh shohibul maulid, bahwa di awal pembacaan Maulid Simthud Durar ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hadir.

Dikatakan oleh para ulama, bahwa dengan terulangnya kebaikan, maka akan muncul cahaya demi cahaya. Kita inginkan cahaya tersebut. Kita berharap ketika kita keluar dari majelis ini, dosa kita diampuni. Hal ini merupakan fitrah manusia, selalu menginginkan yang terbaik. Dikatakan oleh baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , “Di zaman yang akan datang, amal ummatku akan lebih baik 50 derajat dibanding para sahabatku”. Para sahabat bertanya, “Kenapa begitu?”, Rasul menjawab,”Karena di zamanku jika kalian ada permasalahan, maka datang wahyu yang menjawab pertanyaan tersebut, jika ummat yang akan datang, mereka sedikit penolongnya”. Dikatakan dalam hadist lain, bahwa ummat akan datang akan tetap seperti para sahabat, yaitu mendapat apa yang mereka ingnkan, selama lisannya basah berdzikir kepada Allah S.w.t. Ada dua dzikir yang membuat kita, tempat kita, dan orang-orang di sekeliling kita dimuliakan oleh Allah, yaitu Dzikir menyebut Nama Allah S.w.t dan menyebut Nama Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ada beberapa Pesan Nabi yang dikisahkan dalam sebuah hadist, “Di dalam surga ada kamar-kamar yang beraneka macam warna. Dalam kamar tersebut bisa terlihat bagian luarnya, dan dari luar bisa terlihat bagian dalamnya. Di dalam kamar itu ada kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan tidak pernah dirasakan oleh hati”. Para sahabat bertanya, “Untuk siapa kamar yang indah seperti itu? Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ”Ada empat golongan yang akan mendapat kenikmatan tersebut. Pertama, Orang yang senantiasa menyebarkan salam. Kedua, Orang yang memberi makan. Ketiga, orang yang berpuasa. Keempat, Mereka yang sholat saat manusia lain sedang lupa (tertidur). Sahabat bertanya, “siapa yang mampu melakukan hal tersebut?”. Rasul tersenyum dan menjelaskan, “Pertama, jika bertemu dengan saudara maka ucapkan salam, jika itu dilakukan, maka dia telah menyebarkan salam. Kedua, Siapa yang memeberi nafkah keluarganya dengan halal, maka ia telah dikatakan memberikan makan, dengan kata lain, mereka yang bertanggung jawab atas keluarganya dengan harta halal. Ketiga, Orang yang senantiasa berpuasa Ramadhan dan enam hari bulan syawal. Maka ia terhitung berpuasa sepanjang tahun. Keempat, orang yang sholat Isya berjama'ah dan sholat Shubuh berjama'ah, maka dia terhitung melakukan ibadah sepanjang malam”. Semoga kita mendapatkan berkah.

Wallahu a’lamu bishawab

~ Mauidoh Hasanah oleh Al-Habib Ali Haddad bin Idrus Al Habsyi ~
sumber: Majeli Riyadlul Jannah



Lihat kategori: Rasulullah | Maulid | ShalawatHikmah | Download | Aswaja | Sekte


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia