Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Keindahan dan Keburukan di Alam Raya

Keindahan dan Keburukan di Alam Raya

Apabila manusia memperlakukan alam raya ini sesuai dengan ajaran Allah S.w.t, baik dalam penciptaan maupun fungsi kegunaannya, niscaya tidak dite­mukan keburukan dan kesengsaraan dalam alam ini. Segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah dasar-dasar keindahan padanya, yang dapat melindunginya dan membuatnya berfungsi dengan baik, tanpa membutuhkan pemikiran manusia untuk mengubahnya atau menggantikannya


Setiap generasi manusia pasti menampung peradaban dari generasi sebelumnya, lalu mereka manambahkannya dengan peradaban baru untuk diwariskannya kepada generasi penerus sesudahnya. Begitulah seterusnya, semakin maju zamannya, semakin terwujud pencapaian-pencapain manusia secara lebih cepat. Maka dengan silih bergantinya generasi, dari generasi sebelumnya ke genarsi sesu­dahnya, kita akhirnya mempunyai warisan peradaban yang amat besar untuk kita bangun di atasnya suatu kemajuan bagi kita.

Rahasia Keindahan di Alam Raya

Allah S.w.t meletakkan dasar-dasar keindahan di alam raya ini, yaitu dasar-dasar yang mutlak diperlukan untuk tegaknya kehidupan. Di antara dasar-dasar itu ialah bahwa kehidupan ini tidak akan lurus kecuali bila manusia hanya makan dari hasil jerih payah pekerjaannya sendiri. Rasulullah S.a.w bersabda:

ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده,وأنَ نبي الله داود كان يأكل من عمل يده

"Tidak ada seorangpun memakan makanan yang lebih baik dari pada memakan makanan hasil dari usaha tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud adalah memakan makanan dari hasil tangannya sendiri.".

Islam melarang memberikan upah kepada se­seorang tanpa kerja. Konon ada ungkapan yang mengatakan:

Jika sekiranya tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan, maka hendaklah orang-orang itu diperintahkan menggali sumur kemudian mereka disuruh menguruknya kembali.“.

Dari segi logika, memang pekerjaan model itu tidaklah fair. Bagaimana manusia disuruh menggali sumur lalu disuruh menguruknya kembali?

Kami katakan bahwa hal itu dimaksudkan agar manusia tidak memungut bayaran upah tanpa diimbangi kerja. Karena jika manusia terbiasa mendapatkan upah tanpa kerja, maka konsekuensinya akan terbentuk masyarakat pengangguran yang mengharapkan bayaran tanpa mau bekerja. Akibatnya hilanglah keindahan di alam raya ini dan tersebarlah kerusakan di dalamnya.

Termasuk keindahan di alam raya ini ialah bahwa Allah S.w.t mengharamkan makan harta manusia dengan cara yang tidak sah. Firman Allah S.w.t:

ولا تأكلوا اموالكم بينكم با لباطل وتدلوا بها إلى الحكام لتأكلوا فريقا من اموال الناس با لإثم وأنتم تعلمون

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil. Dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang lain itu dengan cara berbuat dosa, padahal kamu mengerti.“. (QS Al-Baqarah: 188).

Jika anda misalnya memakan harta saya secara tidak sah, berarti anda menghalangi saya dari hasil pekerjaan saya sendiri. Dalam kondisi seperti ini sebaiknya saya mogok kerja saja. Selagi saya bekerja tetapi saya menderita, sementara anda tidak bekerja tetapi anda bisa mengambil hasil pekerjaan saya, lalu untuk apa saya bekerja? Jadi, dengan anda memakan harta orang lain secara tidak sah, seakan-akan anda menghapus keindahan dalam alam raya ini. Oleh sebab itu, hendaklah setiap orang mengambil hasil usahanya sendiri, supaya ia terpacu untuk terus bekerja demi terciptanya kemajuan dalam kehidupan.

Demikianlah kita lihat cara Allah S.w.t menciptakan keindahan di alam raya ini. Hanya manusialah yang datang untuk merusaknya. Maka hilanglah kebaikan dan datanglah kesengsaraan dan keburukan.

Allah S.w.t menciptakan masyarakat lengkap dengan rezekinya. Masing-masing kita diberi oleh-Nya bakat yang tidak diberikan kepada lainnya. Dia menghendaki agar si A unggul dalam tehnik, si B unggul dalam kedokteran dan si C unggul dalam salah satu industri. Setiap orang unggul dalam suatu bidang, tapi diungguli dalam bidang-bidang yang lain. Realitas ini sejalan dengan firman Allah S.w.t:

أنظر كيف فضلنا بعضهم على البعض

Perhatikanlah bagaimana Kami unggulkan sebagian dori mereka atas sebagian yang lain“.(QS Al-Isra: 21).

Allah S.w.t tidak menjelaskan siapakah sebagian yang diunggulkan? dan siapakah sebagian lainnya yang diungguli itu? Mengapa demikian? Sebab masing-masing di antara kita adalah unggul dalam suatu bidang, dan diungguli dalam bidang yang lain.

Seorang arsitek bisa dikatakan ulung, tetapi ia tetap membutuhkan orang lain yang mensuplai kebutuhan pokoknya, berupa makanan, minuman, pakaian dan lain-lain. Jadi, ia unggul dalam salah satu cabang kehidupan, tetapi ia diungguli oleh yang lain dalam beberapa segi kehidupan lainnya.

Seorang dokter pandai, dirinya unggul di bidang kedokteran, tetapi la membutuhkan seorang arsitek yang akan membangunkan rumah untuk tempat tinggalnya, membutuhkan orang yang membuatkan pakaian yang ia pakai, membutuhkan pula orang yang bertani dan menyiapkan makanan baginya.

Seorang pembuat pakaian hebat di bidangnya, tetapi ia membutuhkan seorang dokter yang akan mengobatinya, membutuhkan seorang ahli bangunan yang membangunkan rumah untuknya, membutuhkan seorang petani yang menanam beras untuk makanannya.

Jadi, masing-masing kita memang diunggulkan dalam satu sisi, dan diungguli dalam beberapa sisi lainnya. Sampaipun tukang kebersihan jalan raya yang mengangkut sampah dari rumah-rumah dan gedung-gedung, kita membutuhkannya dari sisi ini. Sebab jika kita biarkan kotoran sampah menumpuk begitu saja, niscaya tersebar luas penyakit dan bak­teri, memenuhi semua tempat. Maka ia diunggulkan di atas kita dalam bidang kebersihan ini. Termasuk juga buruh yang bekerja membersihkan saluran air pembuangan dan kotoran got, ia diunggulkan dari segi ini. Sebab seandainya ia meninggalkan pekerjaannya, pastilah jalan-jalan raya penuh dengan air pembuangan limbah, sehingga kehidupan kita menjadi sulit.

Maka, janganlah anda meremehkan suatu pekerjaan, atau anda katakan, Saya lebih unggul dari pada orang itu, karena ia hanya sebagai buruh got pembuangan air limbah, sedangkan saya seorang dokter atau arsitek. Sebab ia di bidangnya tetap diunggulkan dari pada anda. Anda membutuhkan keberadaannya secara otomatis, karena masyarakat tidak mungkin akan utuh dan terpadu menjadi satu kecuali dengan keberadaan kita semua, mulai dari profesi paling rendah hingga profesi tertinggi.

Agar masyarakat bekerjasama secara sinergis demi pertumbuhan dan kehidupan bersama yang lebih baik, maka Allah S.w.t mengikat bagi masing-masing individu dengan rezeki, supaya setiap orang mau bekerja dengan senang hati untuk mendapatkan rezekinya dan rezeki anak-anaknya. Bahkan rela mencarai pekerjaan guna mendapatkan rezekinya. Ini merupakan keharusan sebagai dasar keindahan di alam raya. Sebab, jika kita semua menjadi dokter atau arsitek, Siapakah yang menyiapkan roti untuk kita makan setiap pagi? Siapakah yang memebersikan jalan-jalan? Siapakah yang bekerja di gorong-gorong, saluran air pembuangan limbah dan lain-lain?


Masyarakat yang tidak dibangun di atas dasar saling melengkapi di antara individu-individunya akan rusak. Tidak mungkin bisa terus bertahan hidup. Tuhan menghendaki agar setiap individu unggul dalam suatu bidang yang bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan agar kehidupan bisa berjalan dengan baik.

Inilah sebuah mukadimah (preambul/pendahuluan) yang harus dipaparkan untuk menguak rahasia keindahan di alam raya ini. Allah S.w.t menciptakan alam raya penuh keindahan, sebagaimana Dia menciptakannya penuh kebaikan. Tetapi ia menjadi rusak karena manusia yang diberi kebebasan memilih apa yang diperintah atau apa yang dilarang. Itulah sebabnya ia merusak alam raya dengan asumsi bahwa ia mengadakan perbaikan di dalamnya. Firman Allah S.w.t:

وإذا قيل لهم لاتفسدوا فى الأرض قالوا إنما نحن مصلحون ألا انهم هم المفسدون ولكن لا يشعرون

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak sadar“. (QS Al-Baqarah: 11-12).

Allah S.w.t menciptakan alam raya ini di atas dasar-dasar yang benar dan aman yang dapat menjamin kehidupan serba baik bagi semua makhluk-Nya. Seandainya manusia memperlakukan alam raya ini sesuai dengan ajaran Allah, baik dalam penciptaan maupun fungsi kegunaannya, niscaya tidak dite­mukan keburukan dan kesengsaraan dalam alam ini. Sebab segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah dasar-dasar keindahan padanya yang dapat melindunginya dan membuatnya berfungsi dengan baik tanpa membutuhkan pemikiran manusia untuk mengubahnya atau menggantikannya.

Keburukan di alam raya ini tidak datang dari asal penciptaan, bukan pula dari dasar-dasar yang ditetapkan pada penciptaan, tetapi campur tangan manusialah yang telah merusaknya. Alam raya ini dari segi penciptaannya sangat tinggi daya kreasinya, la dapat menjalankan tugas sesuai fungsinya yang dikehendaki Allah, dengan harmonis dan selaras, jauh dari hal-hal yang merusak dan mendatangkan penyakit di dalamnya.

Kemudian manusia, karena ia menjauhi ketentuan hukum Allah, maka datanglah berbagai penyakit dan gangguan di masyarakat, datanglah kesengsaraan dan keburukan. Oleh karena itu, Allah S.w.t mengutus para Rasul membawa hukum-hukum Allah untuk memulihkan kembali keharmonisan dan keindahan alam raya ini.

Ketika kita baca firman Allah dalam Al-Quran:

وننزَل من القرأن ماهو شفاء ورحمة اللمؤمنين

Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman“. (QS Al-lsra: 82).

Tahulah kita bahwa tujuan pertama Al-Quran diturunkan adalah untuk mengobati penyakit kronis yang menjangkiti masyarakat akibat mereka jauh dari ketentuan hukum Allah. Ketika mereka sembuh dari penyakit yang menyengsarakannya, datanglah rahmat Allah berkat mereka mengikuti ketentuan hukum-Nya. Maka hilanglah penyakit-penyakit itu dan tidaklah kambuh menyengsarakan mereka untuk yang kedua kalinya.

Allah S.w.t mengadakan dan membentuk alam raya ini di atas aturan-aturan dan undang-undang yang menjadikan kecantikan sebagai sifat dasarnya. Tetapi manusialah yang lantaran ia diberi kebebasan bergerak memilih lalu ia mencampuri urusan alam raya dengan merusaknya. Dengan kebebasan me­milih, manusia dapat memilih suatu pilihan yang tidak sejalan dengan tujuan yang Allah maksudkan secara sah dalam alam raya. Dari sinilah datangnya keburukan, dan dari sinilah datangnya kerusakan.

Yang mengherankan ialah bahwa manusia itu mengaku dirinya berbuat kebaikan di alam raya ini padahal ia berbuat kerusakan, tetapi sewaktu-waktu ia merasakan kesengsaraan dan menanggung derita keburukan dengan berbagai macam kesakitan dan kelelahan yang ditimbulkannya, pastilah ia akan kembali mengikuti aturan hukum Allah sebagai undang-undang keindahan di alam raya ciptaan-Nya, hanya saja kembalinya ke jalan Allah itu bukan berkat dorongan keimanan, akan tetapi semata-mata karena keterpaksaan. Sebab, kehidupan tidaklah mungkin bisa terus berjalan kecuali dengan aturan dan ketentuan hukum yang ditetapkan Allah S.w.t.

Kita dengan sangat menyesal mendatangkan dari masyarakat yang tidak beriman sesuatu yang merusak kehidupan masyarakat kita sendiri, dan kita tinggalkan sistem hukum Allah yang merupakan satu-satunya aturan yang dapat memperbaiki segala urusan kita. Kini masyarakat kita mulai kembali secara terpaksa kepada sistem hukum Pencipta-Nya, setelah terbukti pada akhirnya bahwa kehidupan tidak mungkin bisa lurus kecuali dengan sistem hukum dari langit, baik mereka menerapkannya atas dorongan keimanan atau tidak, karena memang penderitaan dan kesengsaraan dalam kehidupan ini tidaklah mungkin hilang kecuali dengan menerapkan sistem hukum langit.


Keburukan di Alam Raya

Sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas bahwa Allah S.w.t menjadikan keindahan pada setiap makhluk ciptaan-Nya di alam raya ini. Dia menjadikan aturan dan ketentuan sebab musabab sebagai faktor untuk menjaga keindahan itu. Maka orang yang mengikuti sebab musabab, akan memperoleh apa yang diinginkan. Tetapi orang yang mencoba melakukan siasat buruk untuk mengambil sesuatu dengan cara melawan hukum Allah, berarti ia berbuat kerusakan di alam raya ini.

Alam raya ini diciptakan selaras dengan sistem hukum Allah yang ada pada setiap sesuatu; di tempat kerja, di dalam rumah tangga, pada anak-anak, dalam mencari rezeki dan dalam segala dinamika kehidupan. Jika anda menggunakan ketentuan hukum Allah, maka yang datang kepada anda hanyalah kebaikan. Dan jika anda menghindar dari ketentuan hukum Allah, maka yang datang kepada anda hanyalah keburukan. Bukan saja dalam kehidupan duniawi, tetapi di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu ada ungkapan (para arifin) yang mengatakan:

لا خير فى خير يؤدى إلى النار,ولا شرَ فى شرَ يؤدى إلى الجنَة

Tidaklah disebut kebaikan sama sekali suatu kebaikan yang mengantarkan ke neraka. Dan tidaklah pula disebut keburukan sama sekali suatu keburukan yang justru mengantarkan ke surga“.

Bagaimana suatu kebaikan bisa mengantarkan seseorang ke neraka? Baiklah kita ambil contoh: Ada orang yang mencuri dengan maksud menyedekahkan hasil curiannya, la mengambilnya dari orang kaya dan memberikannya kepada orang miskin. Orang-orang menyebutnya pencuri terhormat, padahal ia bukan terhormat dan jauh dari kehormatan, la mengira telah berbuat suatu kebaikan, padahal ia melakukan kejahatan yang besar, lantaran mencuri sesuatu yang diharamkan oleh Allah itu. Tidaklah berguna kebaikan yang dipersembahkannya. Kebaikan itu tidaklah diterima Allah lantaran ia memperolehnya dengan jalan haram. Allah S.w.t tidak menyuruh seseorang membantu-Nya memperoleh rezeki di alam raya-Nya ini, sebab Dia-lah yang memberi rezeki kepada semua makhluk-Nya, sampai harta yang haram-pun suatu rezeki, hanya saja ia adalah rezeki haram.

Allah S.w.t tidak mengizinkan seseorang men­datangkan harta haram, lalu ia mengklaim bahwa dirinya berjasa baik. Manusia tidak dilegalkan untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Dalam konteks ini Allah S.w.t berfirman:

قل أرأيتم ما أنزل الله لكم من رزق فجعلتم منه حراما وحلالا قل ءالله اذن لكم ام على الله تفترون

Katakanlah; “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan oleh Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagian dari padanya haram dan sebagiannya lagi halal”. Katakanlah; “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini, ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?”.“ (QS Yunus: 59).

Begitulah, Allah S.w.t menjelaskan kepada kita bahwa penentuan halal dan haram itu atas izin dan ketetapan dari Allah S.w.t. Manusia tidak berhak menetapkan keharaman bagi sesuatu yang dihalalkan Allah, atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah. Allah S.w.t tidak menginginkan seseorang untuk membantu-Nya dalam mengurus alam raya ini, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia-lah Yang berhak membebani setiap makhluk-Nya, sehingga tidak ada seseorang yang melakukan perbuatan yang diharamkan lalu mengatakan bahwa perbuatannya itu adalah suatu kebaikan. Sebab, sebagaimana yang sudah kami katakan, tidaklah disebut kebaikan sama sekali suatu kebaikan yang mengantarkan ke neraka.

Atau seorang perempuan yang menjual kehor­matannya dengan dalih bahwa sesungguhnya ia melakukan hal itu demi kebaikan pendidikan anak-anaknya. Kita katakan kepada wanita itu: “Apa yang anda perbuat adalah haram, dan tidak akan diterima uang yang anda belanjakan untuk pendidikan anak-anak anda, karena Allah tidak butuh itu semua. Jika anda sabar sejenak, niscaya Allah akan memberi rezeki yang halal untuk dapat anda gunakan memenuhi pendidikan anak-anak anda”.

Demikian pula halnya, tidaklah disebut keburuk­an sama sekali suatu keburukan yang mengantarkan ke surga. Yakni Jika anda menolong orang yang teraniaya, lalu lantaran itu anda mendapatkan kesengsaraan, maka hal itu bukanlah suatu keburukan, tetapi justru suatu kebaikan. Karena anda mendapat balasan sebaik-baik pahala atas pertolongan anda itu. Kemudian jika anda merasa tidak membutuhkan sebagian perlengkapan yang anda miliki lalu anda sumbangkan harganya kepada yang berhak, maka anda dalam hal ini beruntung, bukan merugi, sebab apa yang anda sumbangkan itu menjadi berlipat ganda di sisi Allah S.w.t.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pernah diberi hadiah daging kambing panggang, lalu Beliau menyuruh mem­baginya kepada orang-orang fakir miskin. Maka Siti Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, membagikannya dan hanya menyisakan daging bagian pundak saja, karena Aisyah mengetahui bahwa Rasul S.a.w senang daging bagian pundak. Ketika Rasulullah pulang, Beliau S.a.w menanyakan tentang daging kambing itu, Siti Aisyah R.a menjawab: “Telah kami bagikan dagingnya dan kami sisakan daging bagian pundak.“. Maka Rasul S.a.w mengatakan: “Itu berarti engkau sisakan semua kecuali daging pundak.“.

Inilah standar yang sejati untuk mengukur kebaikan dan keburukan, ia adalah standar yang ditetapkan Allah S.w.t. Tetapi lagi-lagi manusia yang menyalah-gunakan hak kebebasan memilih yang diberikan oleh Allah S.w.t dalam alam raya ini. Maka yang seharusnya ia menggunakan standar Tuhan yang menciptakan dirinya, justru la membuat standar untuk dirinya sendiri.

Untuk lebih memahami hakikat ini, sebaiknya kita menengok ke alam raya bagian atas yang tidak tersentuh campur tangan dan hak pilih manusia. Kita dapatinya begitu tertib dan sangat rapi sehingga dapat memberikan kepada setiap makhluk kehidupan nyaman tanpa merasakan kesengsaraan dan ketimpangan.


Matahari, bulan, bintang, planet, udara dan benda-benda angkasa yang tidak tersentuh oleh campur tangan manusia di bumi, semua menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya tanpa ada satupun yang mengeluh, dan tanpa melelahkan satupun makhluk lain. Tidak ada orang yang mengeluh bahwa matahari terlambat terbit dari waktu yang semestinya, atau ia memberikan pancaran cahayanya hanya kepada sekolompok manusia saja, tidak kepada kelompok yang lain. Tidak ada orang yang merasa dirinya dibuat sulit oleh sistem perjalanan planet, yang mengalami kerusakan dan akhirnya berdampak pada kerusakan alam raya seluruhnya. Tidak seorang pun yang merasa mencari udara untuk bernafas lalu ia tidak menemukannya. Tidak ada orang yang mengatakan bahwa hujan tidak akan turun lagi ke bumi sehingga menyebabkan hancurnya kehidupan di atasnya, termasuk kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Tidak pernah kita mendengar orang yang mengatakan bahwa peredaran bumi mengalami gangguan sehingga bumi menerbangkan apa saja yang ada di permukaannya ke ruang angkasa.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

~ Al Khoir wa Syar karya Syekh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi ~


Semua Nabi dan Rasul Diutus Untuk Membawa Islam

Semua Nabi dan Rasul Diutus Untuk Membawa Islam

Agama yang benar hanyalah satu adanya. Semua Nabi dan Rasul diutus Allah untuk sama-sama menyeru kepada agama yang benar itu, yaitu mengajak umat manusia untuk berpegang padanya, sejak zaman Nabi Adam A.s sampai Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Agama yang dimaksud adalah Islam.


Untuk membawa agama itu, Allah S.w.t. telah mengutus Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ya’qub A.s. Allah S.w.t berfirman: ‘Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan Semesta Alam.’ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata) ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka, janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam’,” (QS Al- Baqarah [2]: 130-133).

Selain itu, Allah S.w.t juga mengutus Nabi Musa A.s kepada Bani Israil untuk menyampaikan agama itu Allah S.w.t berfirman berkenaan dengan para ahli sihir Fir’aun, “Ahli-ahli sihir itu menjawab, `Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami. (mereka berdoa) ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu),'” (OS Al-A’raf [7]: 126-127).

Untuk membawanya pula, Allah S.w.t mengutus Nabi Isa A.s. Allah S.w.t berfirman, “Maka, tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia,’Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para hawariyyun (sahabat-sahabat setia) menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri,'” (QS Ali lmran [3]: 52).

Jika ada yang bertanya, mengapa orang-orang yang mengklaim sebagai pengikut setia Nabi Musa A.s. sekarang berpegang pada akidah yang bukan tauhid, seperti dibawa para Nabi dan Rasul? Mengapa orang-orang yang mengklaim sebagai pengikut Nabi Isa A.s. sekarang berpegang pada akidah yang juga lain?

Menjawab pertanyaan tersebut, Allah S.w.t berfirman di dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang orang yang telah diberi Al- Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.,” (QS Ali Imran [3]: 19).

Dalam surat Al-Syura, Allah S.w.t, juga berfirman: “Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik, agama yang kamu seru kepada mereka. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya) Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang mengguncangkan tentang kitab itu,” (QS Al-Syura [42]. 13-14).

Jadi, semua Nabi dan Rasul diutus untuk membawa Islam, satu-satunya agama yang diridhai Allah S.w.t. Kalangan ahli kitab (yahudi dan nasrani) sebenarnya mengetahui ketunggalan agama ini, sebagaimana mereka juga mengetahui bahwa semua Nabi dan Rasul diutus untuk saling membenarkan agama yang mereka bawa. Tak ada perselisihan mencolok dalam masalah aqidah. Perselisihan itu muncul karena mereka bersilang pendapat soal hal-hal yang justru tidak pernah dikatakan Nabi mereka disebabkan “karena mereka dengki antara mereka sendiri”, begitulah sebagaimana ditegaskan oleh Allah S.w.t.

~ Syekh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi ~
Fiqih Sirah (bagian 12)

Umat Nabi Muhammad S.A.W - Dimuliakan Dengan Rahmat Khusus

Umat Nabi Muhammad S.A.W - Dimuliakan Dengan Rahmat Khusus

Umat Nabi Muhammad S.a.w memikul tanggungjawab yang sangat be­sar, karena ia telah dipilih untuk menerima warisan yang amat mulia itu (Kitabullah Al Qur'an)“


Di antara berbagai kekhususan yang ada pada umat ini (umat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Aalihi wa Shahbihi wa Salam) ialah, mereka dimuliakan Allah S.w.t dengan rah­mat khusus. Hal itu terdapat di dalam Al Qur'an Al-Karim.

Al Qur'an Al-Karim menyebutkan bahwa umat Nabi Muhammad S.a.w terbagi menjadi tiga golongan. Golongan as-Sdoiaun (yakni orang-orang yang terdahulu di dalam kebajikan) adalah yang terdini memeluk Islam. Golongan Muatashid (yang sedang-sedang), yaitu golongan ldhiq (menyu­sul kemudian). Yang ketiga adalah golongan dzdlimun linafsihi (yang me­nganiaya diri sendiri). Golongan ini akan beroleh ampunan Ilahi. Me­ngenai semuanya itu Allah S.w.t berfirman di dalam Al Qur'an:

ثم اورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات باذن الله ذالك هوالفضل الكبير . جنات عدن يدخلونها يحلون فيها من اساور من ذهب ولؤلؤا ولباسهم فيها حرير . وقالوا الحمدلله الذي أذهب عنا الحزن ان ربنا لغفور شكور . الذي احلنا دار المقامة من فضله لا يمسنا فيها نصب ولا يمسنا فيها لغوب

Kemudian Kitab (suci) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang meng­aniaya diri mereka sendiri, ada yang pertengahan (sedang-sedang), dan ada pula mereka yang telah berbuat kebaikan (sebanyak-banyaknya) de­ngan seizin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Bagi mereka (ini) surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya. Mereka dibe­ri perhiasan berupa gelang-gelang emas dan mutiara. Pakaian mereka di dalam surga adalah sutera. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguhlah bahwa Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Syakur), Yang menempatkan kami di dalam tempat yang kekal (surga) sebagai karunia-Nya. Di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.”. (QS. Fathir: 32-35).

Maknanya adalah, bahwa Allah yang Maha Benar (Al-Haq) memba­gi umat Nabi Muhammad S.a.w menjadi tiga bagian (golongan):

Pertama, Golongan ini yang dimaksud dengan firman-Nya “mereka yang menganiaya diri sendiri” (dzalimun linafsihi), yaitu orang-orang yang berlebih-lebihan dalam menunaikan beberapa kewajiban dan menerjang beberapa larangan. Yaitu orang-orang yang pada dirinya bercampur kebajikan dan keburukan.

Kedua, golongan yang disebut muatashid, yaitu orang-orang yang menunaikan kewajiban-kewajibannya dan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah S.w.t. Ada kalanya mereka meninggalkan hal-hal yang sunnah (mustahabbat) dan berbuat hal-hal yang tidak disukai Allah S.w.t (makruhdt).

Ketiga, yang disebut sabiaun bil-khairat, yaitu orang-orang yang me­nunaikan kewajiban, meninggalkan semua yang diharamkan, bahkan meninggalkan juga beberapa hal yang mubah (yang boleh dilakukan).

Ibnu ‘Abbas R.a mengatakan, “As-sabiqu bil-khairdt (golongan keti­ga) masuk surga tanpa melalui perhitungan (bighairi hisab). Al-muqtashid (golongan kedua) masuk surga dengan rahmat Allah S.w.t, sedangkan Adz-dzdlimu linafsihi (golongan pertama) masuk surga dengan Syafa'at Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Aalihi wa Shahbihi wa Salam”.

Demikianlah menurut riwayat yang dituturkan oleh sejumlah kaum Salaf (kaum Muslimin yang hidup se-zaman dengan Nabi Muhammad S.a.w), yang kemudian diperkuat kebenarannya oleh hadits yang ber-isnad baik dan kokoh. Di antaranya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (bin Hanbal) dengan isnad dari Abu Darda’ yang menu­turkan: “Aku mendengar Rasulullah S.a.w berkata, bahwa firman Allah S.w.t yang menyatakan: Kemudian Kitab (Suci) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, ada yang pertengahan (se­dang-sedang), dan ada pula mereka yang berbuat kebajikan (sebanyak-ba­nyaknya) dengan seizin Allah; maksudnya adalah orang-orang sabiaun bil-khairdt, mereka itu masuk surga tanpa melalui perhitungan. Adapun orang-orang yang muatashid (pertengahan atau sedang-sedang), me­reka akan menghadapi perhitungan yang mudah (ringan). Sedangkan orang-orang yang menganiaya diri sendiri (dhalamu anfusahum), me­reka akan tertahan selama mahsyar berlangsung, kemudian mereka ber­oleh karunia rahmat. Mereka itulah yang kemudian mengucapkan’, “Alhamdulillah yang telah meniadakan kesedihan dari kami. Sungguhlah bahwa Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (syakur).'” Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Menurut hemat kami, itulah yang sesuai dengan maksud ayat terse­but di atas. Orang yang dzalimun linafsihi (menganiaya diri sendiri) ia tertahan di mahsyar karena keadaannya (amal kebajikannya) lebih ren­dah nilainya dibanding dengan orang yang sabiq bil-khairat dan orang yang muatashid. Selama tertahan itu ia mengalami kesedihan, duka cita, dan kebingungan. Manakala telah beroleh rahmat dari Allah S.w.t, ia masuk surga. Ia teringat akan keadaan dirinya (kekurangan-kekurang­annya), kemudian berucap, “Alhamdulillah yang telah meniadakan kese­dihan dari kami.”. Karena dalam ayat tersebut setelah Allah S.w.t menye­but tiga golongan manusia dan menyebut pula bahwa mereka masuk surga, sesudah itu Allah S.w.t menyebut juga bahwa mereka ini (orang-orang yang menganiaya diri sendiri) mengucapkan, “Alhamdulillah yang telah meniadakan kesedihan dari kami.”.

Tidak dapat dibayangkan, bahwa orang yang sabiq bil-khairat atau orang yang muatashid mengalami kesedihan, sebab mereka tidak meng­hadapi hal-hal yang sangat menakutkan atau menyedihkan. Jadi, ha­nya golongan yang ketiga itulah (dzalimun linafsihi) yang disebut meng­alami kesusahan dan kebingungan. Atas dasar penjelasan tersebut nya­talah bahwa umat ini (umat Nabi Muhammad S.a.w) adalah umat yang dirahmati Allah S.w.t (marhumah), sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Al-Hanafiyyah R.a, bahwa umat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Aalihi wa Shahbihi wa Salam memang marhumah,

Orang yang dzalimun linafsihi beroleh ampunan, orang yang muatashid masuk surga, dan orang yang sabiq bil-khairat ber­oleh derajat tinggi di surga.”.

Demikianlah yang dikatakan oleh Muham­mad bin Al-Hanafiyyah R.a, sebagaimana diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauriy dan lain-lain. Semuanya itu merupakan karunia Allah semata-mata bagi tiga golongan dalam umat Nabi Muhammad S.a.w. Mereka masuk surga yang penuh kenikmatan menurut derajatnya masing-ma­sing. Hal itu membuktikan kemuliaan umat ini dalam pandangan Allah S.w.t, suatu kemuliaan yang tidak murah dan mudah didapat, karena sebelum itu Allah S.w.t menegaskan lebih dahulu, bahwa Dia memilih umat ini untuk mewarisi Kitab Suci dan mengamalkannya benar-be­nar. Mengenai itu firman Allah S.w.t menyatakan, “Kemudian Kami waris­kan Kitab Suci (Al Qur'an) kepada orang-orang yang Kami pilih.”. Konsekuensi dari perolehan karamah (kemuliaan) yang amat besar di akhirat nanti, umat Nabi Muhammad S.a.w memikul tanggungjawab yang sangat be­sar, karena ia telah dipilih untuk menerima warisan yang amat mulia itu. Warisan yang memikulkan berbagai kewajiban (takdlif) yang harus diindahkan dan ditunaikan.

Dengan demikian maka kemuliaan yang dikaruniakan Allah S.w.t kepada umat ini sesungguhnya adalah jasa (imbalan, balasan baik) yang dikaruniakan Allah S.w.t, bahkan kepada orang yang pernah berbuat keburukan. Juga sebagai jasa atas kesetiaan umat ini dalam menjaga baik-baik warisan yang diamanatkan kepadanya, yaitu Kitab Suci (Al Qur'an) dan keterpilihannya sebagai umat yang dimuliakan Allah.

~ Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani ~
Pembahasan kitab Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah

Bahaya Memakan Makanan Haram dan Subhat

Bahaya Memakan Makanan Haram dan Subhat

Adapun mengkomsumsi barang haram dan subhat tidak diragukan lagi, pasti akan mengalihkan seseorang dari perbuatan taat dan mendorongnya pada perbuatan maksiat


Sebagaimana yang kita ketahui, dunia didirikan atas dasar ujian dan bencana, serta ditambah lagi dengan kesengsaraan dan kepedihan, dan diliputi oleh berbagai macam tipu daya dan hal-hal yang melalaikan. Oleh karena itu, banyak hal-hal yang menghalangi manusia dari perbuatan taat, dan banyak pula hal-hal yang dapat mengajak seseorang kepada kemaksiatan, kemudian walaupun banyak sekali yang menjadi penghalang bagi ketaatan dan pendorong kepada berbuat kemaksiatan. Maka kesemuanya (Penghalang dari Perbuatan Taat) itu tercakup dalam empat sebab utama, yaitu:

1. Kebodohan
2. Keimanan yang lemah
3. Angan-angan kosong
4. Memakan makanan haram dan subhat

Dan Insya Allah S.w.t kami akan menjelaskan tiap-tiap bagian dari empat perkara ini dengan penjelasan yang singkat, yang akan menjadikan kita lebih berhati-hati atas keburukan dan rintangan-rintangan yang ditimbulkannya, serta bagaimana cara membebaskan diri darinya. Semoga Allah S.w.t memberi taufiq-Nya.

1. Kebodohan

Adapun kebodohan merupakan sumber dari segala keburukan, penyebab dari berbagai macam bencana, kebodohan berikut orang-orangnya termasuk dalam sabda Nabi S.a.w secara umum:

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكر الله وعالم ومتعلم

Artinya: “Dunia itu terlaknat, terlaknatlah apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikrullah, orang ‘alim dan orang yang menuntut ilmu.

Dan diriwayatkan:

 ان الله لما خلق الجهل قال له أقبل فأدبر , فقال له أدبر فأقبل , فقال له : وعزتي ما خلقت خلقا أبغض إلي منك ولأ جعلنك فى شرار خلقي

Artinya: “Sesungguhnya Allah ketika menciptakan kebodohan, Dia berkata kepadanya: “Kemarilah, ia pun pergi. Lalu Allah berkata kepadanya: “Pergilah”, maka ia pun datang. Allah berkata kepadanya: ”Demi Kemulian-Ku, Aku tidak pernah menciptakan suatu makhluk pun yang lebih Aku benci dari pada dirimu, dan Aku pasti akan menjadikanmu dikalangan makhluk-Ku yang paling jahat.”.

Imam Ali K.w berkata: “Tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari kebodohan, dan musuh seseorang adalah kebodohannya.”.

Celanya kebodohan itu telah diketahui baik secara akal maupun melalui riwayat-riwayat, hampir tidak ada yang tersembunyi dari seorangpun. Dan orang yang bodoh sudah pasti akan terjerumus dalam perbuatan meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, karena ia tidak mengetahui bagaimana cara melakukan ketaatan sebagai-mana yang diperintahkan Allah S.w.t, dan begitu pula terhadap perbuatan kemaksiatan seperti apa yang semestinya harus dihindari, dan tak seorang pun yang dapat keluar dari gelapnya kebodohan melainkan dengan cahaya ilmu. Sungguh indah syair yang dikatakan oleh Syeikh Ali bin Abi Bakar:

Kebodohan bagaikan api yang membakar agama seseorang, sedangkan ilmu bagaikan air yang memadamkannya.“.

Oleh karena itu, hendaknyalah engkau mempelajari ilmu yang Allah S.w.t wajibkan bagimu untuk diketahui, sedangkan untuk lebih memperluas ilmu bukan merupakan kewajibanmu, Justru kewajibanmu adalah mempelajari ilmu aqidah, yang mana keimananmu tidak akan sempurna tanpanya. Dan hendaknya engkau juga mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya agar engkau dapat menunaikan setiap apa yang Allah S.w.t wajibkan bagimu dalam melaksanakan ketaatan kepadanya, dan bagaimana cara untuk menghindar dari setiap perbuatan kemaksiatan yang dilarang Allah S.w.t, karena hal ini merupakan suatu kewajiban yang harus segera dikerjakan tanpa di tunda-tunda lagi.

Malik bin Dinar R.a pernah berkata: “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk dirinya sendiri, maka ilmu yang sedikit dapat mencukupinya, dan barangsiapa yang menuntut ilmu untuk kepentingan manusia, sesungguhnya kepentingan manusia banyak sekali.”.

2. Keimanan yang Lemah
Pembahasannya pada halaman berikut: Menambah Keimanan dan Memperkuat Keyakinan

3. Angan-angan Kosong
Perihal ini dibahas pada halaman berikut: Angan-angan Kosong

4. Memakan Makanan Haram dan Subhat

Adapun mengkomsumsi barang haram dan subhat tidak diragukan lagi pasti akan mengalihkan seseorang dari perbuatan taat dan mendorongnya pada perbuatan maksiat.

Telah diriwayatkan Rasulullah S.a.w bersabda:

من أكل الحلال أطاعت جوارحه شاء أم أبى ومن أكل الحرام عصت جوارحه شاء أم أبى

Artinya: “Barangsiapa yang makan dan sumber yang halal, niscaya seluruh anggota tubuhnya pasti akan berbuat ketaatan, dan Barangsiapa yang makan dari sumber yang haram, niscaya seluruh anggota tubuhnya pasti akan berbuat kemaksiatan.”.

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

كل ما شئت فمثله تعمل

Artinya: “Makanlah apa saja yang engkau kehendaki, maka perbuatanmu sesuai dengan apa yang engkau makan.

Salah seorang ‘Arifin Billah berkala: “Tidak ada sesuatu pun yang memutuskan makhluk dari kebenaran dan mengeluarkan mereka dari lingkungan kewalian kecuali dikarenakan mereka tidak teliti terliadap apa yang mereka makanan.

Orang yang mengkonsumsi barang haram dan subhat meskipun ia adalah orang yang taat, ketaatannya itu tidak diterima karena Allah S.w.t berfirman :

إنما يتقبل الله من المتقين

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”. (QS Al-Maidah: 27).

Dan Allah S.w.t itu dzat yang baik, tidak menerima melainkan yang baik.

Oleh karena itu, engkau harus benar-benar mencegah dirimu wahai saudaraku dari penggunaan barang haram, dan cegahlah dirimu dari penggunaan barang subhat karena wara’, dan engkau hendaknya mencari barang yang halal, karena mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban setelah hal-hal yang fardhu.

Apabila engkau telah mendapatkannya, maka makanlah darinya sesuai kebutuhanmu, dan pakailah pakaian yang halal sesuai dengan kebutuhanmu, janganlah engkau berlebihan dalam penggunaannya karena sesuatu yang halal bukan digunakan untuk berlebihan.

Hindarilah, janganlah engkau terlalu kenyang, walaupun didapat dari makanan yang halal, karena akan menjadi awal dari segala keburukan, lalu bagaimana jika makanan itu didapatkan dari barang haram?

Rasulullah S.a.w bersabda:

ما ملأابن ادم وعاء شرا من بطنه , حسب ابن ادم لقيمات يقمن صلبه, فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه

Artinya: “Tidak sekalipun manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya, cukuplah bagi manusia beberapa suap yang dapat menegakkan punggungnya, jika hal itu tidak dapat dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya.”.

~ al-Alamah al-Habib Abdullah bin Alwi al Haddad ~
Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli Khair Wad-Din

Perindu Husnul Khatimah

Perindu Husnul Khatimah

Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua anugerah-Mu di dunia dan akhirat sebagai bentuk penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi S.A.W


Syekh Nawawi bin Umar Al-Jawi, menjelaskan ungkapan Imam Ibnu Hajar R.a, berkata, “Imam Ibnu Hajar R.a berkata, ‘Telah mengijazahkan kepadaku Sayyidi As-Sayyid Ahmad Al-Mirshafi Al-Mishri se­telah sebelumnya aku diijazahi oleh guru­ku, Sayyidi As-Sayyid Abdul Wah­hab bin Ahmad Farhat Asy-Syafi`i, dari masyayikh mereka, secara musalsal bil awwaliyah, sampai kepada Abdullah bin Umar bin Ash` dari Nabi S.a.w, bahwa Be­liau, Sayyi­dul Akhlaq wal Khalaiq (Penghulu sekalian Akhlaq Mulia dan se­kalian Makhluk) S.a.w bersabda:

Orang-orang yang hatinya pe­nuh kasih sayang disayangi oleh Yang Maha Pemilik kasih sayang Tabaraka wa Ta`ala. Maka sa­yangi dan kasihilah siapa pun yang ada di muka bumi, niscaya kalian akan di­sayangi dan dikasihi oleh siapa pun yang ada di langit.’”.

Imam Ali bin Abi Thalib R.a berkata, “Jadilah engkau di sisi Allah sebaik-baik manusia dan jadilah engkau dalam pan­dangan nafsu seburuk-buruk manusia dan jadilah engkau seseorang di antara manusia.”.

Makna ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib, “Jadilah engkau di sisi Allah se­baik-baik manusia dan jadilah engkau da­lam pandangan nafsu seburuk-buruk ma­nusia”, janganlah pernah merasa me­miliki kemuliaan yang membuatmu me­rasa lebih baik dari orang lain. Makna ini sebagaimana dikatakan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, qad­dasallahu sirrahu. Beliau berkata, “Apa­bila bertemu dengan seseorang, hen­dak­lah engkau melihatnya lebih mulia atas dirimu dan engkau katakan, ‘Tentu ia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya dariku di sisi Allah S.w.t’.

Bila yang engkau jumpai adalah se­orang anak yang masih belia usianya, ka­takanlah, ‘Anak ini sungguh belum ber­buat durhaka kepada Allah S.w.t sedang aku sungguh teramat banyak berbuat durhaka dan kemaksiatan kepada-Nya. Sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku.’. Dan bila yang engkau jumpai ada­lah seseorang yang sudah berumur, kata­kanlah, ‘Sungguh orang ini lebih dahulu ber­ibadah kepada Allah S.w.t jauh sebe­lum aku, (maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’.

Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang alim berilmu, katakanlah, ‘Sungguh orang ini telah dianugerahi se­suatu yang belum diberikan kepadaku, telah sampai kepada pengetahuan yang aku belum mengetahuinya, telah menge­tahui berbagai sesuatu yang belum aku ketahui, dan ia beramal dengan ilmunya, (sedang aku beramal dengan kebodoh­anku, maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’.

Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang bodoh, tidak berilmu, kata­kanlah, ‘Sungguh orang ini, bilapun ber­buat dosa, ia berbuat dosa dengan ke­bodohannya, sedangkan aku berbuat dosa dengan ilmuku, dan sungguh aku tidak tahu bagaimana keadaannya di saat-saat kematian datang menjemput dan tidak tahu pula bagaimana diriku di saat-saat kematian menjemput diriku nantinya.’.

Bila yang engkau jumpai adalah se­orang yang kafir, katakanlah, ‘Sungguh aku tidak tahu, boleh jadi kelak ia akan mati dengan husnul khatimah dan amal yang baik sedang aku boleh jadi pula akan menjadi kafir dan mati dalam ke­adaan su’ul khatimah — na`udzu billahi min dzalik (Sehingga, bila demikian adanya, sungguh tiada diragukan bila ia akan lebih baik dariku)’.”.

Adapun ungkapan, “…dan jadi­lah engkau seseorang di antara ma­nusia”, maknanya adalah bahwa se­sung­guhnya Allah S.w.t membenci me­lihat seorang hamba yang membeda-beda­kan diri dari orang lain, sebagai­mana dijelas­kan dalam hadits Nabi S.a.w.


Itulah sebabnya, sebagian ulama ba­nyak mendawamkan doa ini dalam mu­najat mereka.

Allaahummaj‘alnii shabuuraa waj‘alni syakuuraa waj‘alni fi ‘ainii shaghiiraa wa fii a‘yuninnasi kabiiraa.

“Ya Allah, jadikanlah hambamu ini se­orang yang sabar, dan jadikanlah daku seorang hamba yang senantiasa bersyu­kur atas segala karunia-Mu. Jadi­kanlah daku seorang hamba yang se­nantiasa merasa kecil dalam pandangan mataku dan besar dalam pandangan manusia.”.

Maknanya, orang-orang yang hati­nya penuh dengan sifat-sifat kasih sayang dan belas kasih terhadap siapa pun yang ada di atas permukaan bumi, baik dari kalangan anak Adam bahkan juga hewan, selain hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, de­ngan berbuat kebaikan terhadap mere­ka, niscaya Yang Maha Rahman akan mengasihi dan mencintainya. Karena itulah sayangi dan belas kasihilah siapa pun yang dapat engkau sayangi dari ber­bagai macam dan jenis makhluk Allah S.w.t, bahkan yang tidak memiliki akal sekalipun, dengan memberikan kasih sayang, berbuat baik kepada mereka, dan banyak mendoakan mereka dengan doa rahmat dan ampunan, niscaya kali­an akan disayangi dan dikasihi oleh para malaikat dan Dia, Yang rahmat-Nya me­li­puti bagi seluruh penduduk langit, yang jumlah mereka jauh lebih besar dari jumlah penduduk bumi.

Seorang shalihin bermimpi bertemu Imam Al-Ghazali R.a. Imam Al-Ghazali pun ditanya, “Apa yang Allah S.w.t perbuat padamu?”, Imam Al-Ghazali menjawab, “Aku dibawa dan dihadapkan di hadapan-Nya kemudian Allah S.w.t berfirman kepada­ku, ‘Dengan bekal apa engkau mengha­dap-Ku?’. Maka aku pun mulai menyebutkan amal-amalku.

Lalu Allah S.w.t berfirman, ‘Aku tidak menerimanya. Sesungguhnya yang Aku terima darimu adalah saat suatu hari se­ekor lalat singgah di atas tempat tintamu untuk minum darinya di saat engkau te­ngah menulis. Kemudian engkau tidak me­lanjutkan menulis sampai lalat itu ke­nyang menghirup darinya karena eng­kau berbelas kasih terhadapnya.’.

Kemudian Allah S.w.t berfirman, ‘Wa­hai para malaikat-Ku, bawalah ham­baku ini dan hantarkan ia ke dalam surga’.”.


Teramat mahalnya nilai kasih sayang ini, bahkan Syekh Nawawi menegas­kan, dan di antara sebab yang menda­tang­kan husnul khatimah di antaranya adalah mendawamkan doa berikut ini:

Allaahumma akrim hadzihil-ummatal muhammadiyyah bi jamiili ‘awa-idika fid-daarain ikraaman liman ja‘altahaa min ummatihi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.

“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua anuge­rah-Mu di dunia dan akhirat sebagai ben­tuk penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi S.a.w.”.

Di antaranya pula mendawamkan doa berikut ini di antara sunnah Subuh dan fardhunya:

Allaahummaghfir li ummati sayyi­dinaa Muhammad. Allaahummarham ummata sayyidinaa muhaamad. Allaahummastur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaah­um­majbur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaahumma ashlih ummata sayyidinaa Muhammad. Allahumma ‘aafi ummata sayyidina Muhammad. Allahum­mahfazh ummata sayyidinaa Muham­mad. Allahummarham ummata sayyidi­naa Muhammad rahmatan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin. Allaahummaghfir li um­mati sayyidinaa muhmmad maghfiratan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin. Allaahum­ma farrij ‘an ummati sayyidinaa muham­mad farajan ‘aajilan ya rabbal ‘aalamiin.

“Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, tutupilah (segala aib dan cela) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, tamballah (segala kekuarangan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, perbaikilah (keadaan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, sehatkan dan sejahterakanlah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, peliharalah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, berikanlah kelapangan bagi umat penghulu kami, Nabi Muhammad, kelapangan yang segera tiada tertunda, wahai Tuhan seru sekalian alam.”.

Juga dengan mendawamkan doa berikut ini:

Ya rabba kulli syai’ biqudratika ‘alaa kulli syai’ ighfir lii kulla syai’ wa laa tasalnii ‘an kulli syai’ wa laa tuhaasibnii fii kulli syai’ wa a‘thinii kulla syai’.

“Wahai Tuhan segala sesuatu, de­ngan kekuasaan-Mu atas segala se­suatu, ampunilah aku atas segala se­suatu (dari kesalahan yang aku lakukan), jangan Engkau pertanyai aku tentang se­gala sesuatu (dari dosa dan kedurhaka­an yang aku perbuat), jangan Engkau hi­sab aku pada segala sesuatu (dari se­mua keburukan yang aku berani untuk me­lakukannya), dan karuniakanlah ke­padaku segala sesuatu (dari segala ke­baikan di dunia dan akhirat).”.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

~ Nashaih al-‘Ibad Syarh al-Munbbihat ‘ala al-Istimdad li Yaum al-Ma‘ad li Al-Imam Syihab ad-Din Ahmad ibn Hajar karya Syaikh Muhammad An-Nawawi bin Umar Al-Jawi ~


Intinya Ilmu

Intinya Ilmu

Semua ilmu yang kita cari, hendaknya ilmu yang bisa lebih mendekatkan diri kita pada Allah S.w.t


Dalam sebuah hadits Nabi S.a.w, disebutkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang muslim, laki-Iaki dan perempuan. Dari hadits tersebut mungkin akan timbul pertanyaan dalam diri kita: ”Apakah kita (sebagai seorang muslim atau muslimah) sudah melaksanakan kewajiban menuntut ilmu?

Jika sudah, berarti kita sudah berupaya menjadi muslim yang sejati. Namun jika belum, tentunya setiap hari malaikat pencatat amal akan sibuk 'mengoleksi' catatan dosa untuk kita. Hal ini disebabkan karena dengan meninggalkan menuntut ilmu berarti meninggalkan kewajiban, dan barang siapa meninggalkan kewajiban berarti melaksanakan kemaksiatan, dan barang siapa melaksanakan kemaksiatan maka akan dicatat sebagai dosa. Selanjutnya mungkin juga akan muncul pertanyaan lagi:

Apakah ilmu yang tersebar di muka bumi ini harus kita pelajari semua?”, atau ”sudah gugurkah kewajiban menuntut ilmu dengan belajar di tempat-tempat kursus, atau sekolah-sekolah formal yang bersifat umum?

Ternyata ilmu yang dimaksud sebagai suatu hal yang wajib dicari kaum muslimin adalah ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah S.w.t dan menjauhi larangan-larangan-Nya (pelaksanaan ibadah wajib). Hal ini disebabkan karena suatu ibadah tidak akan diterima sebagai suatu ibadah jika pelaksanaannya tanpa didasari ilmu, sedangkan Allah S.w.t menciptakan manusia di dunia ini dimaksudkan agar beribadah kepada-Nya. Allah S.w.t berfirman dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.

Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa semua ilmu yang kita cari hendaknya ilmu yang bisa lebih mendekatkan diri kita pada Allah S.w.t. Barang siapa bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayah (petunjuk) pada dirinya, maka antara ia dengan Allah S.w.t tidak akan bertambah (dekat), kecuali bertambah jauh. Wal'iyadzu billah.

Syekh Nasr bin Muhammad As-Samarkandh menuqil sebuah hadits yang diriwayatkan Syekh Abdullah bin Masur Al-Hasyimi: Ada seorang laki-laki datang pada Rasulullah S.a.w dan berkata: ”Saya datang kepadamu Ya Rasulullah, agar engkau memberi tahu kepadaku tentang ghoroibul ilmi (aneh-anehnya ilmu atau ilmu-ilmu yang masih asing)”. Nabi S.a.w bertanya: ”Apa yang telah kamu perbuat pada intinya ilmu?”, orang tadi kembali bertanya: ”Apa itu intinya ilmu?”, Nabi Sa.w berkata: ”Apakah kamu mengenal Allah 'Azza wa Jalla?”, dijawab: ”Ya, aku mengenal-Nya”. Nabi S.a.w bertanya: ”Apa yang kamu lakukan untuk memenuhi hak-hak-Nya?”, orang tadi menjawab: ”Masya Allah” (Allah berkehendak terhadap segala sesuatu). Dalam hal ini orang itu terkejut (tersadar akan adanya sesuatu yang terlalaikan olehnya) dengan pertanyaan Nabi S.a.w tersebut. Nabi S.a.w bertanya lagi: ”Apakah kamu tahu kematian?”, dijawabnya: ”Ya, aku rnengetahuinya (bahwa kematian pasti akan menghampiri siapapun yang bernyawa)”, Nabi S.a.w berkata: ”Apa yang kamu persiapkan untuk menyambut kedatangannya?”, orang tadi menjawab: ”Masya Allah”. Kemudian Nabi S.a.w berkata: ”Pergilah, dan fikirkan semua (yang telah aku sampaikan), setelah itu kembalilah kepadaku, sehingga aku akan ajarkan kepadamu tentang ghoroibul ilmi”.

Ilmu yang dimaksud sebagai suatu hal yang wajib dicari kaum muslimin adalah, ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah S.w.t dan menjauhi larangan-larangan-Nya

Setelah waklu berjalan beberapa tahun, orang laki-laki tadi kembali mendatangi Nabi S.a.w, lalu Nabi S.a.w menasehati orang tersebut: ”Apapun yang tidak kamu sukai jika terjadi pada dirimu maka hendaknya kamu juga jangan berharap hal itu terjadi pada saudaramu muslim, dan apapun yang kamu sukai (atau kamu harapkan) bisa terjadi pada dirimu, maka hendaknya kamu juga berharap hal itu bisa terjadi pada saudaramu muslim, dan hal inilah termasuk Ghoroibul Ilmi”.

Kemudian Rasulullah S.a.w melanjutkan nasehatnya; ”Bahwa persiapan untuk menyambut kematian adalah intinya ilmu, maka lebih utama jika seseorang selalu sibuk dalam mempersiapkan kematian. Barang siapa dikehendaki Allah S.w.t untuk mendapatkan petunjuk-Nya, maka Dia akan melapangkan dadanya (orang itu) dengan Islam. Dan barang siapa dikehendaki Allah S.w.t menjadi orang yang tersesat, maka Dia akan menyempitkan dadanya dengan kesusahan (jauh dari Islam/ajaran Islam). Adapun ciri orang yang hatinya disinari dengan Nur Islam yaitu apabila orang itu menjauh dari duniawi dan kembali (mendekat) pada kehidupan yang kekal ukhrawi, serta mempersiapkan datangnya kematian”.

Semoga Allah S.w.t mengakhiri kehidupan kita dengan akhir yang bagus dan terpuji (Husnul Khotimah). Aamiin.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

~ Al Habib Hasan Al Jufri - Penjelasan tentang Tanbihul Ghofilin ~



Baca juga: Pancaran Sinar Kebeningan Hati

Metode Rasulullah S.A.W Dalam Mengajar

Metode Rasulullah S.A.W Dalam Mengajar

Dalam metode pengajaran dan mengajak kepada kebaikan, Rasulullah S.a.w memakai metode Al-Qur'an dari firman Allah:

١٢٥. ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”. (QS. An-Nahl: 125) 

Dalam ayat mulia ini terdapat gambaran sempurna untuk bermacam cara ajakan kepada setiap golongan manusia dan sistem yang baik yang telah digariskan oleh ayat yang mulia yang selaras dengan berbagai macam corak manusia dan karakter mereka. Sebagian ada yang ahli ilmu yang mencari kebenaran, ada orang awam, dan ada yang apriori dan menentang.

Dan masing-masing golongan dari mereka ada cara tertentu dan metode untuk mengajak mereka dan memberi tahu mereka tentang dasar-dasarnya. Rasulullah mengajak bicara umat sesuai dengan kapasitas akal mereka. Sabda Beliau selalu sesuai dengan situasi dan kondisinya. Maka sabda Beliau cocok untuk semua golongan dengan penjelasannya selaras dengan golongan tersebut dan mengajak bicara sesuai dengan bahasa mereka.

Allah S.w.t telah menganugrahkan kepada Nabi-Nya kewibawaan dan menjadikan sabda-sabda Nabi-Nya disenangi dan diterima di setiap hati manusia dan tidak membutuhkan penjelasan selainnya.

Imam al-Qodli Iyadl berkata:

Allah S.w.t telah menaruh mahabbah diatas sabda Nabi-Nya dan melapisinya dengan mudah diterima. Allah juga mengumpulkan kepada Nabi-Nya antara kewibawaan dan kemanisan. Walaupun tanpa diulangi dan si pendengar juga tidak membutuhkan pengulangan maka sabda Beliau tidak berkurang satu kalimat pun, tidak membuat kaki terpeleset (tersesat) dan tidak rusak hujjahnya.”.

Apabila kita melihat ketiga golongan di atas maka kita akan memahami bahwasannya ayat ini terkhusus kepada setiap golongan dengan cara tertentu.

Maka golongan pertama (golongan ahli ilmu) cara mengajak dan mengajari mereka ialah menggunakan kata-kata ilmiyah yang benar dan dengan dalil yang menjelaskan kebenaran yang menghilangkan kerancuan. Karena mereka tidak akan puas kecuali dengan dalil-dalil jelas yang menghilangkan kesalah fahaman mereka, serta menguatkan argumentasi kepada mereka sehingga mereka mendapatkan petunjuk ke jalan Allah.

Adapun golongan kedua (orang-orang awam) maka cara mengajak dan mengajari mereka ialah dengan petuah-petuah yang bagus yakni ucapan-ucapan yang memuaskan dan yang bermanfaat sesuai cara yang tidak samar bagi mereka dengan menasehati mereka dan memberitahukan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Maka mereka tidak membutuhkan lagi penguat ucapan, karena mereka orang awam yang tidak membutuhkan dalil dan mereka tidak mengetahui kerancuan-kerancuan.

Adapun golongan ketiga (para penentang) maka cara mengajak dan mengajari mereka ialah dengan membantah mereka dengan cara yang baik, halus, memilih pendapat yang ringan dan menggunakan pendahuluan-pendahuluan yang masyhur untuk menenangkan kekacauan mereka dan memadamkan kobaran hati mereka sehingga mereka kembali kepada jalan Allah.

Terkadang pengajaran Rasulullah S.a.w kepada umatnya dengan metode tanya jawab yakni salah satu diantara shahabat menyampaikan pertanyaan kemudian Beliau menjawabnya, seperti dalam hadits yang menerangkan kebajikan dan dosa. Diriwayatkan dari an-Nuwas bin Sam'an R.A, beliau berkata:

“Aku bertanya kepada Rasulullah S.a.w tentang kebajikan dan dosa, lalu Rasulullah S.a.w menjawab: “Kebajikan adalah bagusnya budi pekerti, dan dosa adalah sesuatu yang membuat bimbang hatimu dan sesuatu yang tidak kamu sukai bila dilihat oleh orang lain.”. Dengan metode seperti inilah para perempuan bertanya kepada Rasulullah S.a.w kemudian Beliau menjawabnya.

Dengan ini kita memahami bahwasannya metode Nabi S.a.w dalam pendidikan diletakkan dalam rancangan yang lurus.

~ Karakter Pendidikan Abuya As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki  ~

Baca selengkapnya, download pdf Karakter Pendidikan Abuya As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki - karya K.H. Muhammad Najih Maimoen.

Mutiara Tiga Kata

Mutiara Tiga Kata

"Apabila Allah S.w.t menghendaki kebaikan atas seseorang hamba-Nya yang beriman maka dipintarkannyalah ia perihal agama, Dia zuhudkan terhadap harta benda dan Dia sadarkan akan aib-aibnya"

Ibnu Hajar Al-Asqalani meriwayatkan, suatu hari Rasulullah S.a.w mengunjungi para sahabat. Beliau bertanya: "Bagaimana keadaan kalian?", para Sahabat menjawab: "Kami beriman kepada Allah", Rasul S.a.w: "Apa bukti iman kalian?", Sahabat berkata: "Kami bersabar atas cobaan, kami bersyukur atas limpahan kehidupan dan kami rela (ridha) apa pun anugerah Tuhan", Rasul pun bersabda: "Demi Dzat yang menguasai ka’bah, sungguh kalian mukmin sejati".

Hambakan diri kepada Allah dengan ikhlas dan sepenuh hati. Jika kalian belum mampu rela, jalankanlah (kehidupan) dengan lapang dada, sebab sesuatu yang kalian cela (benci) bisa jadi banyak kebaikannya. Allah S.w.t berfirman kepada para Nabi:

"Barangsiapa berjumpa dengan-Ku sedang ia mencintai-Ku akan Kumasukkan ia ke taman surga-Ku, Barangsiapa berjumpa dengan-Ku sedang ia takut akan siksa-Ku, akan Aku jauhkan ia dari api neraka-Ku, dan barangsiapa berjumpa dengan-Ku dengan malu-malu, akan Kubuat lupa malaikat-Ku, untuk menyiksanya".

Ibnu Mas’ud R.a mengatakan: "Taatilah sepenuhnya perintah Allah, sungguh engkau insan yang paling berbakti, jauhilah semua larangan Allah, sungguh engkau insan zuhud nan suci, dan terimalah dengan rela pemberian Allah, sungguh engkau insan kaya di bumi".

Ketika Shaleh al-Marqadi melewati sebuah perkampungan sunyi, ia bertanya: "Wahai puing-puing desa, di manakah pendudukmu? di manakah generasimu? dan di manakah penghunimu dahulu?", Terdengarlah suara menjawab: "Mereka telah binasa, jasadnya musnah ditelan bumi, sedang tanggung jawab mereka belum jua terlunasi".

Sayyidina Ali R.a mengatakan: "Berilah hadiah sesukamu pada siapa saja, niscaya engkau menjadi rajanya. Minta-mintalah jika engkau mau pada siapa saja, niscaya engkau menjadi budaknya, dan mandirilah dari ketergantungan pada siapa saja, niscaya engkau sederajat dengannya".

Yahya bin Mu’adz berkata: "Memilih duniawi akan lupa ukhrawi, cinta duniawi akan benci ukhrawi, dan benci duniawi akan cinta ukhrawi (akhirat)".

Ibrahim bin Adham pernah ditanya: "Mengapa engkau tinggalkan hartamu? padahal engkau kaya raya?", la menjawab: "Aku melihat alam kubur, betapa menggelisahkan sedangkan aku tak punya pelipur, aku memandang arah perjalanan, betapa jauh nian sedang aku tak punya cukup perbekalan, dan aku dapati Dzat Maha Memaksa begitu mudahnya putuskan perkara sedang aku tak punya cara untuk menangkal putusan-Nya".

Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya: "Mengapa engkau tenang di sisi Allah?" la menjawab: "Janganlah engkau merasa aman dengan wajahmu yang tampan, dengan suaramu yang indah, serta lisanmu yang fasih".

Ibnu Abbas berkata: Kata “Zuhud” terdiri dari tiga huruf:: Za, Ha’ dan Dal
Za’: Zadun lil Ma’ad (bekal menuju hari kembali)
Ha’: Hudan lid-Din (petunjuk menuju jalan Ilahi)
Dal: Dawamun ‘ala Tha’ah (selalu taat dan berbakti)

Pada kesempatan yang lain Ibnu Abbas mengatakan:
Za’: Tarkuz-Zinah (meninggalkan menghias raga)
Ha’: Tarkul-Hawa (meninggalkan kesenangan jiwa)
Dal: Tarkud-Dunya (meninggalkan harta benda)

Hamid al-Laqqaf berkata kepada seseorang yang mendatanginya: "Bungkuslah agamamu seperti halnya engkau bungkus mushafmu dengan menjalani tiga perilaku: Bicaralah seperlunya, milikilah harta secukupnya dan bergaullah sekadarnya. Kemudian ketahuilah, sumber sikap zuhud adalah: Menjauhi segala larangan, menjalani semua kewajiban dan meninggalkan paham kebendaan".

Luqman al-Hakim bertutur pada anaknya: "Anakku, diri manusia dibagi menjadi tiga. Sepertiga pertama untuk Allah, ialah alat kelaminnya. Sepertiga kedua untuk dirinya, ialah amal perbuatannya, dan sepertiga berikutnya untuk cacing tanah, ialah jasad raganya".

Sayyidina Ali R.a. berkata: "Tiga amalan dapat mempermudah hafalan dan menghilangkan dahak di tenggorokan ialah Siwak, Puasa dan membaca Al-Qur’an".

Seorang sufi berkata: "Tiga elemen istana Allah; (yaitu) Sakit, Fakir dan Sabar".

Ibnu Abbas R.a pernah ditanya: "Hari, bulan dan perbuatan apa yang terbaik menurut Anda?" la menjawab: "Hari Jum’at, bulan Ramadhan dan Shalat lima waktu tepat pada waktunya". Ibnu Abbas meninggal pada hari Jum’at, tiga hari berikutnya Sayyidina Ali mendengar kabar bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya tentang hari, bulan dan perbuatan apa yang terbaik beserta jawabannya di atas. Kemudian Ali R.a. mengatakan; Andai saja seluruh ulama dari dunia timur hingga belahan dunia barat ditanya persoalan tadi, tentu jawaban mereka akan sama dengan Ibnu Abbas; hanya saja aku akan menjawab lain:

"Sebaik-baik amal ialah amal yang diterima oleh Allah. Sebaik-baik bulan ialah bulan dimana engkau bertobat kepada Allah, dan sebaik-baik hari ialah hari dimana engkau mati, dengan tetap (dalam keadaan) iman kepada Allah".

Seorang penyair mengatakan: "Tidakkah engkau melihat bagaimana siang dan malam menggodaku, sedang aku selalu bermain dalam kesendirianku dan bersama orang-orang di sekitarku. Wahai.. jangan pernah engkau tergiur keelokan dunia, sebab ia bukanlah tempat tinggal yang sesungguhnya, berbuatlah untuk dirimu sendiri sebelum engkau dijemput mati dan jangan pernah engkau tertipu lantaran banyak teman mengitarimu".

Sebuah maqalah mengatakan: "Apabila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang hamba-Nya yang beriman maka dipintarkannyalah tentang agama, Dia zuhudkan terhadap harta benda dan Dia sadarkan akan aibnya".

Dalam sebuah pertemuan, Rasulullah S.a.w bersabda: "Kucintai tiga perkara dari dunia ini; Parfum, Perempuan dan Shalat". Kemudian Abu Bakar R.a berkata: "Begitupun aku, mencintai tiga hal dari dunia; Memandang wajah Rasulullah, Mendermakan harta kepada Rasulullah, dan putriku (Aisyah) dibawah naungan Rasulullah". Umar R.a menyela: "Aku pun cinta tiga perkara dari dunia; Amar ma’ruf, nahi munkar, dan memakai pakaian rakyat jelata".

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Baca juga: Tasawwuf - Penyucian Jiwa dan Akhlak yang Baik

Sosok Ulama Akhirat

Sosok Ulama Akhirat

"Siapa yang tidak mengetahui berlawanannya dunia dengan akhirat (mulianya akhirat dan hinanya dunia) serta kemadha­ratannya, ia bukan termasuk ulama"

Bila pada bagian lain (pada Kitab Al-Mursyid Al-Amin) terdapat kajian yang menjelaskan 'bahaya-bahaya' yang dihadapi para Ahli Ilmu (Bahaya-bahaya Ilmu), maka pada bahasan ini, Imam Al-Ghazali menerangkan masalah yang tak kalah penting, yakni Tanda-tanda Ulama Akhirat. Penjelasan ini dapat menjadi pa­tokan bagi mereka yang menggeluti ilmu, baik ketika belajar dan terlebih lagi se­telah menjadi pengajar.

Imam Al-Ghazali mengatakan: "Ulama akhirat adalah ulama yang tidak memakan dunia dengan agamanya dan tidak menukar akhiratnya dengan dunia­nya, karena mereka mengetahui mulianya akhirat dan hinanya dunia. Dan barang siapa tidak mengetahui berla­wanannya dunia dengan akhirat serta kemadha­ratannya, ia bukan termasuk ulama".

Sesungguhnya serendah-rendahnya derajat orang alim adalah ia mengetahui kehinaan dunia, kerendahan, kekeruh­an, dan terputusnya dunia, (serta mengetahui) kebesaran akhirat, kekalnya, kejernihan nikmatnya, dan kemuliaan kerajaannya. Dan ia mengetahui bahwa keduanya (dunia dan akhirat) itu berlawanan dan keduanya seperti dua orang madu, jika engkau ridhakan salah seorang dari keduanya, engkau memurkakan yang lainnya. Dan keduanya seperti dua piringan timbang­an; jika engkau unggulkan salah satu dari keduanya, berarti engkau ringankan yang lain. Dan keduanya itu seperti timur dan barat; jika engkau mendekati salah satu dari keduanya, engkau menjauh dari yang lain. Dan keduanya itu seperti dua buah kendi, yang salah satu dari keduanya penuh sedangkan yang lain kosong. Jika kamu tumpahkan darinya kepada yang lain hingga penuh, yang lain menjadi kosong.


"Ia mengetahui bahwa dunia dan akhirat itu berlawanan,
seperti timur dan barat, jika ia mendekati salah satu dari keduanya,
maka ia menjauh dari yang lainnya"


Sesungguhnya orang yang tidak mengetahui kehinaan dunia, kekeruhan­nya, dan bercampurnya kelezatan dunia dengan kesakitannya, kemudian terpu­tusnya dunia, ia tidak jernih darinya, maka ia orang yang rusak akalnya, ka­rena kesaksian dan pengalaman me­nun­jukkan yang demikian itu. Bagai­mana termasuk ulama, orang yang tidak mempunyai akal?

Imam Al-Ghazali mengatakan: "Dan barang siapa mengingkari hal tersebut, berarti ia mengingkari apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an, hadits-hadits, dan kandungan kitab-kitab suci lain yang diturunkan serta ucapan para nabi". Kemudian beliau tegaskan: "Dan barang siapa mengetahui hal itu kemudian ia tidak mengamalkannya, ia adalah tawanan setan, karena sesung­guh­nya ia telah dirusak oleh nafsu syah­watnya dan dikalahkan oleh nasibnya yang celaka. Dan barang siapa mengi­kutinya, pastilah ia binasa. Dan mana mungkin orang yang derajatnya seperti ini dimasukkan ke dalam golongan ulama".

Allah S.w.t berfirman, ketika Daud bermunajat kepada-Nya, “Tahukah kamu, apa yang akan Aku perbuat terhadap orang alim apabila ia lebih mementingkan syahwatnya daripada cintanya kepada-Ku?, yaitu Aku tidak memberikan kepadanya kenikmatan bermunajat kepada-Ku. Hai Daud, janganlah kamu bertanya kepada-Ku tentang orang alim yang telah dimabuk oleh keduniawiannya sehingga ia meng­halangimu dari jalan mencintai-Ku. Me­reka adalah pembegal (di) jalan hamba-hamba-Ku. Hai Daud, jika engkau me­lihat seseorang yang menuntut ilmu, jadilah engkau sebagai pelayannya. Hai Daud, barang siapa kembali ke jalan-Ku dengan berlari, niscaya Aku tuliskan baginya pahala orang syahid. Dan barang siapa Aku catatkan pahala syahid baginya, berarti Aku tidak akan mengadzabnya dengan neraka selama-lamanya.”.

~ Kitab Al-Mursyid Al-Amin - Imam Al-Ghazali ~

Penjelasan oleh K.H. Saifuddin Amsir

Kekhususan Umat Nabi Muhammad S.A.W

Kekhususan Umat Nabi Muhammad S.A.W

Tulisan berikut adalah pada bagian awal dari kitab Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah karya Abuya Sayyid Al Maliki, dimana disebutkan kekhususan-kekhususan umum atau ciri-ciri umum yang dikaruniakan Allah S.w.t ke­pada umat Nabi Muhammad S.a.w. Adapun mengenai berbagai kekhususan yang berkaitan dengan amal-amal peribadatan, dibahas pada bagian selanjutnya.

Keyakinan Yang Sempurna Pada Umat Ini

"Tidak ada umat lain yang beroleh limpahan karunia lebih utama atau sama dengan yang dilimpahkan Allah S.w.t kepada umat Nabi Muhammad S.a.w"

Di antara kemuliaan umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam ialah bahwa Allah S.w.t melimpahkan keyakinan yang sebesar-besarnya kepada umat ini. Mengenai hal itu Al-Ma’shum Sayyidina Muhammad S.a.w menyatakan kesaksiannya:

ما اعطيت امة من اليقين افضل مما اعطيت امتى

“Tiada umat yang dianugerahi keyakinan lebih afdhal (utama) dari­pada yang dianugerahkan Allah kepada umatku.”.

Yakni, tiada umat lain yang hatinya oleh Allah dilimpahi sinar caha­ya untuk dapat membuka dada guna mengenal-Nya hingga dapat bermujahadah melawan nafsunya sendiri berdasarkan jalan yang selurus-lurusnya, hingga masalah akhirat bagi mereka seolah-olah dapat dili­hat dengan terang dan nyata. Tidak ada umat lain yang beroleh limpahan karunia lebih utama atau sama dengan yang dilimpahkan Allah kepada umatku (Beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam).

Umat-umat terdahulu tidak memperoleh hal itu, kecuali seorang demi seorang. Allah S.w.t mengaruniai umat ini (umat Nabi Muham­mad S.a.w) dengan mengenal ta’addub (tata krama terhadap Allah) dan didekatkan kedudukan mereka di sisi-Nya sedekat-dekatnya. Di dalam Taurat, Allah menamai mereka Shafwatur-Rahman (pilihan Yang Maha Pengasih). Di dalam Injil, mereka disebut sebagai Ulama’, ‘Ulama, Abrar, dan Atqiya’ (orang-orang yang sabar, orang-orang berilmu, orang-orang yang patuh, dan orang-orang bertakwa). Dengan demikian maka ke­utamaan yang dikaruniakan Allah kepada umat ini sesungguhnya ada­lah sinar cahaya untuk menanggalkan (membuka/melepas) penutup hati mereka hingga berbagai masalah dapat mereka lihat dengan terang.

قل ان الهدى هدى الله ان يؤتى احد مثل ما اوتيتم

"Katakanlah (hai Nabi), sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ada­lah petunjuk Allah, dan (janganlah engkau percaya) bahwa akan diberi­kan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu". (QS. Ali ‘Imran: 73).

Para ulama mengatakan, bahwa Yaqin (keyakinan) berbeda-beda, terbagi dalam tiga peringkat, yaitu ‘ilmul-yaqin, ‘ainul-yaqin, dan haqqul-yaqin. ‘Ilmul-yaqin adalah pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh melalui pengamatan dan istidlal (dalil argumentasi). Ainul-yaqin adalah kesanggupan melihat hal-hal yang gaib seperti menyaksikan hal-hal yang kasat mata. Sedangkan Haqqul-yaqin adalah kesanggupan menyaksikan hal-hal yang gaib demikian lekat dan terpadu dengannya.

As-Sariy As-Suqthiy mengatakan, “Al-Yaqin adalah ketenangan Anda pada saat terjadinya berbagai gejolak di dalam dada (yakni di dalam hati), karena Anda yakin benar bahwa kesedihan Anda karena gejolak itu tidak bermanfaat bagi Anda dan tidak akan mendatangkan sesuatu yang Anda perlukan”.

Penghapusan Beban Berat

Mengenai itu Allah S.w.t berfirman di dalam Al-Qur'an:

 الذين يتبعون الرسول النبي الأمي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة والإنجيل يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ويضع عنهم إصرهم والأغلال التي كانت عليهم

"(Orang-orang beriman ialah) mereka yang mengikuti Rasul dan Nabi yang ummi (tuna aksara), yang namanya mereka temukan termaktub di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka; yang menyuruh mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka berbuat kemungkaran; yang meng­halalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk; dan yang membuang (menghapuskan) dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka". (QS. Al-A’raf: 157).

Yang dimaksud beban berat yang membelenggu adalah ketentuan-ketentuan yang membuat orang tidak dapat bergerak. Makna ayat terse­but ialah, bahwa Allah S.w.t tidak mewajibkan umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam melakukan sesuatu yang berada di luar kesanggupannya, dan tidak mensyariatkannya seperti yang disyariatkan bagi umat-umat sebelum­nya (sebelum umat Nabi Muhammad S.a.w). Misalnya seperti yang di­wajibkan atas orang-orang Bani Israil, mereka diwajibkan melakukan amalan-amalan yang sukar dan berat. Hal itu diibaratkan dengan ran­tai-rantai besi yang membelenggu leher mereka.

Beban berat yang membelenggu mereka (kaum Yahudi) banyak jenisnya, antara lain sebagai berikut:

Bagian yang Terkena Najis Harus Dipotong

Orang yang pakaiannya terkena najis, ia harus memotong bagian yang terkena kotoran itu. Untuk menyucikannya (membersihkannya) tidak cukup kalau hanya dicuci. Demikian menurut hadits yang diketengah­kan oleh Bukhari di dalam Shahih-nya (Bab Al-baul Inda Sibdihatu Oaumin; Kitabul-Wudhu’). Bahkan sebagian dari mereka beranggapan, orang ha­rus memotong apa saja yang terkena najis, meskipun bagian dari tu­buh mereka. Hal itu menurut lahirnya riwayat dari Abu Dawud, yang antara lain menyatakan:

كانوا إذا اصاب البول جسد احدهم قطعوا ما اصابه البول منهم

“Pada zaman dahulu apabila tubuh mereka terkena air kencing, mereka diharuskan memotong bagian tubuh yang terkena najis itu.” (Bab Al-Istibru Minal-Baul).

Riwayat Muslim mengenai itu mengatakan, bahwa yang harus di­potong ialah kulitnya, yakni bagian tubuh yang terkena air kencing harus dikupas kulitnya. Al-Qurthubi menakwilkan, yang dimaksud de­ngan kulit adalah pakaian yang terbuat dari kulit. Riwayat Bukhari me­negaskan bahwa yang dimaksud dengan kulit ialah pakaian. Mungkin saja di antara mereka (para perawi hadis) ada yang meriwayatkannya dengan makna tersebut. Demikian disampaikan di dalam Al-Fath/330. Adapun umat Nabi Muhammad S.a.w disyariatkan untuk membersih­kannya cukup disiram dengan air dan dicuci saja. Cara demikian itu cukup dilakukan, baik yang terkena najis itu bagian dari masjid, paka­ian ataupun badan. Demikianlah yang diterangkan rinciannya dalam kitab-kitab sunnah.

Tidak Makan Bersama Isteri yang Sedang Haid

Orang-orang Yahudi zaman dahulu apabila isterinya sedang haid, me­reka pantang makan bersama, bahkan tidak mau menghubunginya, tidak mau tinggal bersama di dalam satu rumah, dan membiarkan pe­rempuan-perempuan yang sedang haid itu tinggal seorang diri ter­asing di rumah. Demikianlah yang ditegaskan dalam Hadits Shahih (yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad) dari Ibnu Katsir.

Lain halnya dengan umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, Agama umat ini (Islam) membolehkan suami bergaul dengan isteri yang sedang haid; makan, minum dan tidur bersama, yang dilarang oleh syariat Islam hanyalah bersenggama dan istimta’ (bersenang-senang) dengan menyentuh bagian-bagian badan yang terletak di antara pusar dan lutut. Itu merupakan upaya pencegahan agar tidak terperosok dalam per­buatan terlarang.

Demikianlah, agama Islam dengan hukum syariatnya, menjaga baik-baik kecenderungan dan sifat-sifat kemanusiaan manusia di samping hati nurani dan ruhaninya. Agama Islam menyerasikan keterpaduan antara tuntutan jasmani dan tujuan ruhani. Itu merupakan minhaj (cara) yang sangat tinggi dalam memperlakukan manusia, yaitu cara yang sepenuhnya selaras dengan fitrah manusia yang diciptakan Allah S.w.t.

Ketetapan Hukum Qishash (Hukum Setimpal), Baik dalam Hal Kesalahan yang Disengaja Maupun dalam Hal Kekeliruan

Berlakunya hukum qishash sudah merupakan ketetapan di kalangan Bani Israil. Bahkan kesalahan yang tak disengaja (kekeliruan) pun ha­rus dikenakan hukuman Qishash. Di kalangan mereka tidak ada hukum diyat, baik dalam hal pidana pembunuhan maupun serangan yang mengakibatkan luka badan. Hal itu terdapat dalam Shahih Bukhari (Bab Diyat: XI1/205). Mengenai kenyataan tersebut Allah S.w.t menyatakan di dalam firman-Nya:

 وكتبنا عليهم فيها ان النفس بالنفس

"….Dan Kami telah tetapkan alas mereka, di dalam Taurat, bahwa jiwa dibalas dengan jiwa…". (QS. Al-Ma’idah: 48).

Namun Allah S.w.t meringankan umat Nabi Muhammad S.a.w de­ngan penetapan hukum diyat (tebusan nyawa, luka-luka dan sebagainya). Ketentuan hukum diyat merupakan pengganti hukum qishash bagi pelaku pidana tersebut yang dimaafkan oleh keluarga (wali) korban. Mengenai ini Allah S.w.t berfirman:

 كتب عليكم القصاص فى القتلى الحر بالحر والعبد بالعبد والأنثى بالأنثى فمن عفي له من أخيه شيء فالتباع بالمعروف واداء اليه باحسان ذالك تخفيف من ربكم ورحمة.

"Diwajibkan qishash berkenaan dengan orang-orang yang mati dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa (yakni si pembunuh) yang mendapat permaafan dan saudaranya, maka, hendaklah ia (yang memaaf­kan) menindaklanjuti dengan baik, dan (yang diberi maaf) hendaknya pula. Itu merupakan keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat"… (QS.A1-Baqarah: 178).

Tobat dengan Bunuh Diri

Setelah mereka (kaum Yahudi) menyembah-nyembah anak sapi, Nabi Musa A.s. menjelaskan kepada mereka, jika mereka benar-benar hen­dak bertobat, maka mereka harus bunuh diri. Mengenai itu, Allah S.w.t telah berfirman di dalam Al Qur'an:

 فتوبوا الى بارئكم فاقتلوا انفسكم

"…hendaklah kalian bertobat kepada Tuhan yang menjadikan kalian (Pencipta kalian) dan bunuhlah dirimu". (QS. Al-Baqarah: 54).

Demikian juga mengenai cara bertobat dari sejumlah perbuatan maksiat, mereka harus memotong anggota badan yang digunakan un­tuk berbuat maksiat. Seperti potong lidah dalam hal berbuat dusta, pemenggalan buah zakar dalam hal perbuatan zina, dan pencukilan mata dalam hal perbuatan melihat perempuan yang bukan keluarganya. (Al-Mawahib: V/381).

Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad S.a.w, Allah S.w.t mempermu­dah cara bertobat. Allah S.w.t menerima tobat dan berkenan memaaf­kan berbagai kejahatan, bahkan lebih senang daripada senangnya seorang ibu menemukan kembali anak susuannya yang hilang. Allah S.w.t berfirman:

 ومن يعمل سوءا او يضلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما

"Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya diri sendiri, kemu­dian ia mohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. An-Nisa': 110).

Mempermalukan Orang yang Berbuat Maksiat

Orang-orang Bani Israil zaman dahulu, jika ada seorang di antara me­reka berbuat maksiat, esok paginya ia melihat di pintu rumahnya tertulis “Si Fulan berbuat ini dan itu, dan kafaratnya (dendanya) begini dan begitu”. Hal itu dapat disaksikan oleh umum. (Al-Khashaish: III/4).

Lain halnya dengan umat Nabi Muhammad S.a.w, Allah S.w.t me­mandang perbuatan seperti di atas lebih baik ditutup. Mengenai itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam telah menegaskan:

كل امتى معافى الا المجاهرين ان يعمل الرجل بالليل عملا ثم يصبح وقد ستره الله تعالى فيقول : يا فلان. عملت البارحة  كذا وكذا وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف سترالله عنه..  متفق عليه

“Semua umatku dapat beroleh maaf kecuali orang-orang yang me­ngungkapkan (sendiri kesalahannya) yang diperbuat di malam hari (lalu mengungkapkannya sendiri) pada pagi harinya, padahal Allah telah menutupi kesalahannya. Ia mengatakan (kepada orang lain): ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat begini dan begitu’. Padahal perbuatannya itu telah ditutupi Allah, Tuhannya, namun keesokan harinya ia membuka sendiri perbuatannya yang telah ditutupi Allah.”. (Hadits Muttafaq alaihi).

Hukuman Dosa atas Niat Buruk Meskipun Tidak Diwujudkan dengan Perbuatan

Setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah S.w.t dan telah diturunkan kepadanya Kitab Suci niscaya memberitahu umatnya bahwa Allah S.w.t akan memperhitungkan apa yang telah mereka perbuat dan yang mere­ka sembunyikan di dalam dada. Kaum Bani Israil dahulu menghujat para Nabi dan Rasul mereka dan mengatakan, “Mengapa kami di­kenakan hukuman atas niat buruk yang kami tidak mewujudkannya dengan perbuatan?” Mereka mengingkari para Nabi dan Rasul seraya berkata, “Kami mendengarkan tetapi kami tidak mau menaati!” Setelah orang-orang yang beriman dari kalangan mereka mengatakan, “Kami mendengar, kami mau menaati, kami berserah diri, dan kami pun ber­iman kepada Allah, mengimani malaikat-Nya, Kitab Suci-Nya, dan Rasul-rasul-Nya,” Allah S.w.t lalu menenteramkan mereka, bahwa Dia tidak memperhitungkan niat dalam hati mereka kecuali niat yang di­wujudkan dalam perbuatan. Allah S.w.t berfirman di dalam Al Quran:

 لها ما كسبت وعليها ماكتسبت

"Ia—seseorang—beroleh pahala dari kebajikan yang dilakukannya, dan ia beroleh siksa dari kejahatan yang diperbuatnya". (QS. Al-Baqarah: 286).

Hukuman atas Kekeliruan dan Kelupaan

Kaum Bani Israil dahulu dikenakan hukuman segera (hukuman di du­nia) berupa pengharaman suatu makanan atau minuman atas dosa-dosa mereka, baik yang besar maupun yang kecil. (Al-Mawahib: 384).

Tidak demikian halnya dengan umat Nabi Muhammad S.a.w, Allah S.w.t membebaskan mereka dari dosa kekeliruan dan kelupaan, dan dari sesuatu yang dipaksakan kepada mereka. Hal itu ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad (bin Hanbal), Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu Majah, Thabrani, dan Daruquthni dengan isnad yang baik, dipandang baik pula oleh An-Nawawl. (Al-Mawahib: 384 dan Al-Khashaish: IH/202).

Mereka Diharamkan Melakukan Kegiatan pada Hari Raya Mereka

Hari raya mereka (kaum Yahudi) adalah hari Sabat (Sabtu). Mereka telah menyatakan sumpah dan janji akan mengagungkan hari Sabtu, akan sepenuhnya menunaikan kewajiban yang diperintahkan Tuhan, dan tidak akan melakukan kegiatan atau pekerjaan apa pun pada hari Sabat. Oleh sebab itu setelah ternyata mereka mencederai sumpah dan janji mereka lalu berupaya menangkap ikan pada hari itu, Allah S.w.t menjatuhkan hukuman atas mereka dengan firman-Nya:

كونوا قردة خاشئين

"Jadilah kalian kera yang hina". (QS. Al-Baqarah: 65) Lihat juga Surah Al-A’raf: 163.

Beban hukuman yang seberat itu ditiadakan Allah S.w.t bagi umat Nabi Muhammad S.a.w. Pada hari-hari raya (hari-hari besar) mereka, yaitu hari Jum'at, sebelum dan sudah shalat Jumat mereka boleh bermuamalat (melakukan kegiatan sosial, ekonomi, dsb). Mengenai hal, itu Allah S.w.t berfirman:

يا ايهاالذين امنوا اذا نودي للصلوة من يوم الجمعة فاسعوا الى ذكرالله وذروا البيع . ذلكم خير لكم ان كنتم تعلمون . فاذا قضيت الصلوة فانتشروا في الارض وابتغوا من فضل الله …

"Hai orang-orang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan salat Jum'at, hendaknya bersegeralah kalian ingat akan Allah dan tinggalkanlah jual-beli (dan semua pekerjaan). Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui. Apabila salat telah ditunaikan, hendaklah kalian bertebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah …". (QS. Al-Jumu’ah: 9-10).

Wabah Penyakit Tha’un Melanda Umat-Umat Terdahulu Sebagai Azab.

Tha’un adalah jenis penyakit yang mematikan. Rasulullah S.a.w memberitahu kita bahwa zaman dahulu berbagai bencana dan malapetaka -seperti wabah tha’un- ditimpakan Allah S.w.t atas berbagai umat sebagai azab. Bagi umat Nabi Muhammad S.a.w apa pun yang terjadi dan mereka alami hanya sebagai rahmat dan pembuktian mengenai ke­benaran Allah. Demikianlah menurut Hadits Shahih. (Al-Mawahib: V/391 dan Al-Khashaish: IH/221).

Diharamkan Beberapa Jenis Makanan Yang Baik Bagi Mereka

Itu mempakan hukuman yang dijatuhkan Allah S.w.t atas orang-orang Bani Israil, disebabkan oleh pembangkangan, kezaliman, dan peleceh­an mereka terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah S.w.t. Keserakahan membuat mereka lebih menyukai makanan yang bermu­tu rendah dengan berdalih, “Allah akan mengampuni kami!” Berkait­an dengan itu Allah S.w.t berfirman di dalam Al Quran:

فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبات احلت لهم وبصدهم عن سبيل الله كثيرا

“Maka disebabkan oleh kezaliman orang-orang Yahudi itu, Kami haram­kan atas mereka makanan yang baik-baik, (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, karena mereka banyak merintangi (manusia) dari jalan Allah”. (QS.An-Nisa': 160).

Allah S.w.t telah menjelaskan berbagai hal yang terlarang bagi me­reka, yaitu:

Semua hewan yang berkuku utuh (yakni hewan yang tidak berkuku-belah) dan unggas, seperti unta, burung unta, itik, dan sejenis­nya. Semuanya itu diharamkan bagi mereka.

Gajih (lemak) sapi dan kambing diharamkan bagi mereka, dan ga­jih lainnya yang berada di dalam tulang (sumsum), isi perut, gajih yang ada pada ponok—sebagaimana yang terdapat di dalam surah Al-An’am. (Ibnu Katsir: 11/200).

Lain halnya dengan umat Nabi Muhammad S.a.w, Allah S.w.t meng­halalkan bagi mereka segala yang baik (QS. Al-Ma’idah: 5), dan meng­haramkan bagi mereka segala yang buruk (QS. Al-A’raf: 157).

Mereka Diharamkan Mengambil Ghanimah (Rampasan Perang)

Dahulu, apabila berhasil mengalahkan musuh dalam suatu peperang­an dan beroleh harta jarahan (sitaan) perang, mereka diharamkan mengambil atau menerima bagian apa pun dari harta rampasan itu. Mereka harus mengumpulkan semuanya itu di suatu tempat untuk kemudian dimus­nahkan dengan api (QS Ali ‘Imran: 183).

Sebaliknya bagi umat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Aalihi wa Shahbihi wa Salam, Allah S.w.t mengha­lalkan harta ghanimah bagi mereka, karena kemuliaan Nabi S.a.w yang memimpin mereka. Bagi umat Beliau S.a.w, harta ghanimah halal dan barakah. Demikian ditegaskan dalam hadits sahih muttafaq ‘alaihi, dan dinyatakan di dalam Al Qur'an Al-Karim:

فكلوا مما غنمتم حلالا طيبا

Maka makanlah dari sebagian harta rampasan perang yang kalian per­oleh itu sebagai makananyang halal dan baik.”. (QS Al-Anfal: 69).

Mereka Diharamkan Beribadah Kecuali di Tempat-tempat Khusus

Umat-umat zaman dahulu (termasuk Bani Israil), tidak bersembah­yang kecuali di tempat-tempat khusus, seperti di dalam biara-biara, kuil-kuil dan sebagainya. Siapa yang tidak dapat hadir di tempat-tem­pat tersebut, ia tidak dibolehkan sembahyang di tempat lain, di mana saja di muka bumi. Bila ia sudah tiba kembali di tempat semula, ia harus meng-qadhd semua sembahyang yang tertinggalkan (yang terle­wat selama dalam perjalanan atau bepergian). (Al-Fath: 1/436).

Menurut Al-Bazzar, hadits berasal dari Ibnu ‘Abbas menuturkan, “Tidak seorang pun dari para Nabi yang beribadah sebelum tiba di mihrabnya.”. (Al-Fath: 1/438).

Lain halnya bagi umat Nabi Muhammad S.a.w, bagi mereka Allah S.w.t menjadikan muka bumi ini sebagai tempat untuk menunaikan shalat. Tidak ditentukan tempat khusus untuk menunaikan shalat, atau dilarang shalat di tempat lain, demikian di dalam Shahih Bukhari (Al-Bukhari, Bab Tayamum).

Mereka Diwajibkan (hanya) Menggunakan Air dalam Bersuci

Umat-umat zaman dahulu diwajibkan oleh syariatnya masing-masing harus menggunakan air dalam bersuci, tidak boleh digunakan selain air. Bila air tak dapat ditemukan, orang tidak bersembahyang, kemu­dian ia harus meng-qadhd’ semua sembahyang yang terlewat bila sudah menemukan.air untuk bersuci.

Bagi umat Nabi Muhammad S.a.w tidaklah demikian. Allah S.w.t menjadikan bumi ini suci. Manakala orang hendak menunaikan salat dan ia tidak dapat menemukan air, ia boleh menggunakan tanah un­tuk bersesuci (tayamum). Demikian ditegaskan dalam Hadits Shahih (Al-Al-Fath: 1/438 dan Al-Mawahib: V/264).

(note: sampai pada akhir tulisan di atas, pembahasan ini belum selesai, yakni berkelanjutan..)

~ Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani ~



Baca juga : Ujian Umat Nabi Muhammad S.A.W

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia