Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat. Tampilkan semua postingan
Nasehat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A

Nasehat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A

Sahabat Rasul S.a.w, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq R.a, beliau berkata:

”Kegelapan itu ada lima dan pelitanya pun ada lima. Jika tidak waspada, lima kegelapan itu akan menyesatkan dan memerosokkan kita ke dalam panasnya api neraka. Tetapi, barangsiapa teguh memegang lima pelita itu maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.”.

1). Kegelapan pertama adalah Hubb al-Dunya (cinta dunia). Rasulullah S.a.w bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.”. (HR Baihaqi). Manusia yang berorientasi duniawi, ia akan melegalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Untuk memeranginya, Abu Bakar memberikan nasehat pelita berupa Takwa. Dengan takwa, manusia lebih terarah secara positif menuju jalan Allah, yakni jalan kebenaran.

2). Kegelapan selanjutnya adalah Berbuat Dosa. Kegelapan ini akan tercerahkan oleh Taubat Nashuha (tobat yang sungguh-sungguh). Rasulullah S.a.w bersabda, ”Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila ia berhenti dari berbuat dosa dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya.”. (HR Ahmad). Inilah Al-roon (penutup hati) sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an surat Al Muthaffifin (83) ayat 14.

3). Kegelapan kubur akan benderang dengan adanya Siraj (lampu penerang) berupa bacaan laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah. Sabda Nabi S.a.w, ”Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.”, para Sahabat bertanya, ”Wahai Rasulallah, apa wujud keikhlasannya?”, Beliau S.a.w menjawab, ”Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.”.

4). Alam akhirat sangatlah gelap, untuk meneranginya, manusia harus memperbanyak Amal Shaleh. QS Al-Bayyinah (98) ayat 7-8 menyebutkan, orang yang beramal shaleh adalah sebaik-baik makhluk, dan balasan bagi mereka adalah surga ‘Adn. Mereka kekal di dalamnya.

5). Kegelapan kelima adalah Shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) dan Yaqin adalah penerangnya. Yaitu, meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal yang gaib, termasuk kehidupan setelah mati. Dengan keyakinan itu, kita akan lebih aktif mempersiapkan bekal sebanyak mungkin menuju alam abadi (akhirat).

Demikian lima wasiat dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq R.a. Semoga kita termasuk pemegang kuat lima pelita-pelita itu, sehingga menyibak seluruh kegelapan-kegelapan dan mengantarkan kita kepada kebahagiaan abadi di surga. Amin.


Al Abadillah al-Arba’ah - Pakar Keilmuan Era Sahabat

Al Abadillah al-Arba’ah - Pakar Keilmuan Era Sahabat

Bagi umat yang rajin mengikuti majelis ta'lim, atau lebih khusus lagi di kalangan penuntut ilmu (ilmu hadist), santri dan mahasiswa, di pondok pesantren maupun perguruan tinggi Islam, tak asing di telinga mereka istilah 'Empat Abdullah' (R.a).

Mereka adalah para Sahabat mulia yang dikenal sebagai pakar-pakar keilmuan era sahabat. Al Abadillah al-Arba’ah (Empat orang yang bernama Abdullah), yaitu: Abdullah bin Amr bin Al-Ash R.a, Abdullah bin Abbas R.a, Abdul­lah bin Umar R.a dan Abdullah bin Zubair R.a.

Berikut kami ketengahkan secara ringkas mengenai riwayat Empat Abdullah ini, agar kita semakin mengenal dan semoga kita bisa meraih hikmah dan keteladanan, dari mereka para Sahabat mulia yang se-zaman dengan Baginda Rasulullah S.a.w.


Sayyidina Abdullah bin Amr bin Ash R.a (W 63 H)

Beliau adalah seorang dari Abadilah yang faqih, ia memeluk agama Islam sebelum ayahnya, kemudian hijrah sebelum penaklukan Mekkah. Abdullah adalah seorang ahli ibadah yang zuhud, banyak berpuasa dan shalat, sambil menekuni hadits Rasulullah S.a.w. Jumlah hadits yang diriwayatkannya mencapai 700 hadits. Setelah meminta izin dari Nabi untuk menulis, ia lalu memulai mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi S.a.w. Mengenai hal ini Abu Hurairah R.a berkata:

“Tak ada seorangpun yang lebih hapal dariku mengenai hadits Rasulullah, kecuali Abdullah bin Amr bin al-Ash. Karena ia mencatat sedangkan aku tidak”.

Abdullah bin Amr R.a meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Darda, Muadz bin Jabal, Abdurahman bin Auf, dan beberapa yang lain. Yang meriwayatkan darinya antara lain Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab, as-Sa’ib bin Yazid, Sa’ad bin Al-Musayyab, Thawus, dan Ikrimah.

Sanad paling shahih yang berpangkal darinya ialah yang diriwayatkan oleh Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya Abdullah.

Abdullah bin Amr wafat pada tahun 63 Hijriyah, pada malam pengepungan Al-Fusthath.


Sayyidina Abdullah bin Abbas R.a (W 68 H)

Abdullah bin Abbas R.a adalah sahabat ke-lima yang terbanyak meriwayatkan hadist sesudah Sayyidah Aisyah R.a, ia meriwayatkan 1.660 hadits.

Beliau adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah S.a.w dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti Harits saudari Ummul Mukminin Maimunah.

Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan 'Kyai Umat Islam'. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Ibnu Abbas dilahirkan di Mekkah dan besar di saat munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah S.a.w sehingga beliau mempunyai banyak riwayat Hadist Sahih dari Rasulullah S.a.w. Beliau ikut di barisan Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.a dalam perang Jamal dan perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fiqih, genetis Arab, peperangan dan sejarah.

Abdullah lahir tiga tahun sebelum hijrah dan Nabi S.a.w mendoakannya: “Ya Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”. Allah mengabulkan doa Nabi-Nya, sehingga Ibnu Abbas terkenal dengan penguasaan ilmu dan pengetahuannya perihal agama yang luas dan mendalam, ummat menjadikan ia yang paling dicari untuk dimintai fatwa penting sesudah Sayyidina Abdullah bin Mas’ud R.a, selama kurang lebih tiga puluh tahun. Begitu pula tentang ilmu fiqih, tafsir, bahasa arab, sya’ir, ilmu hitung dan fara’id.

Tentang Ibnu Abbas, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata: ”Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti dari pada Ibnu Abbas tentang ilmu hadits Nabi S.a.w, serta keputusan-keputusan yang dibuat Abu Bakar, Umar, dan Utsman (R.a)“.

Orang suatu hari menyaksikan ia duduk membicarakan ilmu fiqih, satu hari untuk tafsir, satu hari lain untuk masalah peperangan, satu hari untuk syair dan memperbincangkan bahasa Arab. "Sama sekali aku tidak pernah melihat ada orang alim duduk mendengarkan pembicaraan beliau begitu khusyuknya kecuali kepada beliau. Dan setiap pertanyaan orang kepada beliau, pasti ada jawabannya”.

Menurut Imam An-Nasa’i, sanad hadits Ibnu Abbas paling Shahih adalah yang diriwayatkan oleh az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utba, dari Ibnu abbas. Sedangkan yang paling Dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Marwan as-Suddi Ash-Shaghir dan Al-Kalabi, dari Abi Shalih. Rangkaian ini disebut silsilah Al-Kadzib (silsilah bohong).

Ibnu Abbas mengikuti Perang Hunain, Thaif, Penaklukan Mekkah dan Haji Wada’. Ia menyaksikan penaklukan Afrika bersama Ibnu Abu as-Sarah. Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama Sayyidina Ali bin Abi Thalib K.w.

Ia wafat di Thaif pada tahun 68 Hijriyah. Ibnu al-Hanafiyah ikut menshalatkannya.

(Biografi Ibnu Abbas dalam Al-Ishabah no.4772).


Sayyidina Abdullah bin Umar R.a (W 72 H)

Periwayatan paling banyak berikutnya sesudah Abu Hurairah R.a adalah Abdullah bin Umar. Ia meriwayatkan 2.630 hadits.

Abdullah adalah putra khalifah ke-dua Sayyidina Umar bin Khatthab R.a, saudara kandung Sayyidah Hafshah Ummul Mukminin. Ia salah seorang di antara orang-orang yang bernama Abdullah (Al-Abadillah al-Arba’ah) yang terkenal sebagai pemberi fatwa. Tiga orang lain ialah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin al-Ash dan Abdullah bin az-Zubair.

Ibnu Umar dilahirkan tidak lama setelah Nabi S.a.w diutus, umurnya 10 tahun ketika ikut masuk Islam bersama ayahnya. Kemudian mendahului ayahnya, ia hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud ia masih terlalu kecil untuk ikut perang, sehingga tidak mendapat izin. Tetapi setelah selesai perang Uhud ia banyak mengikuti peperangan, seperti perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta penyerbuan Basrah dan Madain.

Az-Zuhri tidak pernah meninggalkan pendapat Ibnu Umar untuk beralih kepada pendapat orang lain. Imam Malik dan az-Zuhri berkata: ”Sungguh, tak ada satupun dari urusan Rasulullah dan para sahabatnya yang tersembunyi bagi Ibnu Umar”. Ia meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Sayyidah Aisyah, saudari kandungnya Hafshah dan Abdullah bin Mas’ud. Yang meriwayatkan dari Ibnu Umar banyak sekali, diantaranya Sa’id bin al-Musayyab, al Hasan al Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ibnu Sirin, Nafi’, Mujahid, Thawus dan Ikrimah.

Abdullah bin Umar wafat pada tahun 73 Hijriyah, ada yang mengatakan bahwa Al-Hajjaj menyusupkan seorang ke rumahnya yang lalu membunuhnya. Dikatakan pula, mula-mula ia diracun kemudian ditombak. Pendapat lain mengatakan bahwa Sayyidina ibnu Umar R.a meninggal secara wajar.

Sanad paling Shahih yang bersumber dari ibnu Umar adalah yang disebut Silsilah adz- Dzahab (silsilah emas), yaitu Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar. Sedang yang paling Dlaif: Muhammad bin Abdullah bin al-Qasim dari bapaknya, dari kakeknya, dari ibnu Umar.

(Biografi Ibnu Umar dalam Al-Ishabah no.4825 dan Tahdzib al-Asma’ 1/278, Thabaqat Ibn Sa’ad 4/105).


Sayyidina Abdullah bin Zubair R.a (W 94 H)

Abdullah bin Zubair adalah seorang pemimpin masa Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Talib K.w dan awal khilafah Bani Umayyah. Dia adalah bayi pertama yang lahir di kalangan Muhajirin di Madinah. Ayahnya bernama Zubair bin Awwam dan ibunya, Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia sepupu dan juga kemenakan Nabi Muhammad S.a.w dari istrinya, Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar R.a.

Ia termasuk salah seorang dari “Empat ‘Ibadillah” (empat orang yang bernama Abdullah) dari 30 orang lebih Sahabat Nabi S.a.w yang dikenal menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an. Tiga orang ‘Ibadillah lainnya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khatab, dan Abdullah bin Amr bin Ash.

Ibnu Zubair telah mengenal perang sejak berusia 12 tahun, yaitu ketika bersama ayahnya turut dalam Perang Yarmuk, dan empat tahun kemudian kembali menyertai ayahnya yang menjadi anggota pasukan Amr bin Ash di Mesir. Ibnu Zubair juga mengambil bagian dalam ekspedisi Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh melawan orang-orang Byzantium di Afrika. Semua peristiwa tersebut mengundang kekaguman penduduk Madinah kepadanya.

Di masa Khalifah Sayyidina Usman bin Affan R.a, ia duduk sebagai anggota panitia yang bertugas menyusun Al-Qur’an ke dalam sebuah kitab.


Sayyidina Zahid R.A dan Bidadari

Sayyidina Zahid R.A dan Bidadari

Pada zaman Rasulullah S.a.w, hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah.

Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah S.a.w datang dan mengucapkan salam, Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

"Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja?", Rasulullah S.a.w menyapa. "Allah bersamaku ya Rasulullah", kata Zahid. "Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah?", tanya Rasulullah S.a.w, Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?", "Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!", kata Rasulullah S.a.w.

Kemudian Rasulullah S.a.w memerintahkan sekretarisnya untuk membuat selembar surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita.

Akhirnya, surat itu diberikan kepada Zahid, yang kemudian ia sendiri yang mengantarkan surat tersebut ke rumah Said, seorang bangsawan Madinah yang terkenal itu. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam, kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

"Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul S.a.w yang mulia, diberikan untukmu saudaraku.", Said menjawab, "Adalah suatu kehormatan buatku.".

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat kaget, karena tradisi Arab dalam hal perkawinan yang selama ini berlaku adalah, biasanya seorang bangsawan harus menikah dengan keturunan bangsawan pula, dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya pula, itulah yang dinamakan 'Sekufu'.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?", Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat aku berbohong.". Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini. bukankah lebih baik disuruh masuk?", "Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau, supaya engkau menjadi istrinya,", kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah..!", dan Zulfah merasa dirinya terhina. Maka Said berkata kepada Zahid, "Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau, bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah S.a.w bahwa lamaranmu ditolak.".

Mendengar Nama Rasul S.a.w disebut ayahnya, Zulfah 'spontan' berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama Rasul?", akhirnya Said berkata, "Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.".

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu, ia teingat akan firman Allah S.w.t dalam surat 24: 51. Zulfah lalu berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, kenapa tidak sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah S.a.w, kalau begitu segera aku harus dinikahkan dengan pemuda ini".

Dalam surat An-Nuur, Allah S.w.t berfirman;

٥١. إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan: 'Kami mendengar, dan kami patuh (taat)'. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.". (QS An-Nuur [24]: 51).

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa, baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara, segera ia pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul S.a.w yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

"Bagaimana Zahid?"

"Alhamdulillah diterima, ya Rasulullah,", jawab Zahid.

"Sudah ada persiapan?"

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasulullah, saya tidak memiliki apa-apa.".

Akhirnya Rasulullah S.a.w menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli keperluan dan persiapan perkawinannya. Di saat yang bersamaan, dalam kondisi itulah Rasulullah S.a.w menyerukan umat Islam untuk berjuang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat pasukan perang kaum Muslimin sudah bersiap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini?", Sahabat menjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?". Zahid beristighfar beberapa kali sambil berkata, "Kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda (perang) yang terbagus.". Para sahabat menasehatinya; "Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?" (yakni menyarankan bagaimana kalau kali ini, ia tak ikut saja, karena akan melangsungkan pernikahan), Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin!".

Lalu Zahid mengumandangkan ayat sebagai berikut;

٢٤. قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ 

"Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik". (QS At-Taubah [9]: 24).

Dengan semangat fisabilillah yang berkobar, Zahid (Aswad) berangkat ke medan perang, maju menghadapi musuh dalam pertempuran yang sengit, yang pada akhirnya Zahid gugur sebagai syahid di jalan Allah.

Rasulullah S.a.w berkata; "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.".

Lalu Rasulullah S.a.w membacakan Al-Qur'an surat 3: 169-170 dan 2: 154):

١٦٩. وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
١٧٠. فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُواْ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.". (QS Ali 'Imran [3]: 169-170).

١٥٤. وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ 

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.". (QS Al-Baqarah [2]: 154).

Pada saat itulah para sahabat yang hadir meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata, "Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.".

~ Diceritakan oleh Al Habib Munzir Al Musawa ~
Naskah asli pada sumber: http://www.sarkub.com/2014/sayyidina-zahid-r-a-dan-bidadari/



Baca juga: Sayyidina Ali K.W dan Tiga Orang Pendeta

Umair Ibnul Humaam R.A - Pahlawan Badar yang Berani

Umair Ibnul Humaam R.A - Pahlawan Badar yang Berani

"Umair telah mendapatkan apa yang diharapkannya, yaitu Ridha Allah S.w.t dan Surga-Nya"

Umair ibnul Humaam R.a adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad S.a.w yang bertaqwa dan berani serta sangat rindu untuk mati syahid. Setiap malam ia berdoa kepada Allah S.w.t:

اللهم قد نامت العيون ، وغارت النجوم ، وأنت حي قيوم . اللهم طلبي الجنة بطيء ، وهربي من النار ضعيف . اللهم اجعل لي عندك هديا ترده إلى يوم القيامة ، إنك لا تخلف الميعاد ".

"Allaahumm Qod Naamatil 'Uyuun , Wa Ghoorotin Nujuum , Wa Anta Hayyun Qoyyuum. Allaahumma Tholabil Jannata Bathii-un, Wa Harobii Minan Naari Dho'iifun. Allaahummaj'al Lii 'indaka Hadyan Tarudduhu ilaa Yaumil Qiyaamah, innaka Laa Tukhliful Mii'aad."

"Ya Allah, telah tidur banyak mata dan terbenam bintang-bintang, sedang Engkau Maha Hidup dan Maha Berdiri. Ya Allah, upayaku menggapai Surga-Mu sangat lambat dan upayaku lari menjauhi Neraka amat lemah. Ya Allah, jadikanlah bagiku di sisi-Mu bagian petunjuk / pemberian yang Engkau kembalikan hingga hari qiyamat."

Di hari perang Badar, pada tanggal 17 Ramadhan Tahun 2 Hijriyah (17 Maret 624 M) tatkala 313 tentara kaum muslimin sudah saling berhadapan dengan tidak kurang dari 1000 tentara kaum musyrikin, Rasulullah S.a.w bersabda memberi semangat kepada kaum muslimin: "Bangkitlah kalian untuk masuk Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi.".

Umair ibnul Humaam R.a yang berada di barisan terdepan bertanya kepada Nabi S.a.w: "Wahai Rasulullah, surga hamparannya seluas langit dan bumi?", Beliau S.a.w menjawab: "Ya.". Lalu Umair berujar: "Bagus, bagus!".

Rasulullah S.a.w bertanya, "Apa yang membuatmu mengatakan 'Bagus, bagus' ?!", Umair menjawab, "Demi Allah, tidak ada apa-apa Ya Rasulullah, kecuali harapan agar aku termasuk penghuninya.". Nabi S.a.w pun bersabda, "Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.".

Mendengar jawaban Nabi S.a.w, wajah Umair berseri gembira, kemudian ia mengeluarkan beberapa butir kurma untuk memakannya sambil menatap barisan musuh di hadapannya. Lalu ia berujar, "Jika aku harus hidup hingga usai memakan kurma-kurma ini, sungguh kehidupan yang terlalu panjang.".

Maka Umair R.a membuang semua kurmanya, lalu menghentakkan kudanya dan langsung menerjang sendirian barisan musuh sambil berucap lantang:

Kami berlari menuju Allah tanpa bekal
Kecuali Taqwa dan Amal untuk kembali
dan Sabar karena Allah dalam Berjihad

Kedatangan Umair yang gagah berani pun disambut barisan seribuan kaum musyrikin, akhirnya beliau gugur sebagai syahid sesuai doa dan harapannya selama ini.

Rasulullah S.a.w dan para sahabat sempat terhenyak kaget dan terdiam sebentar melihat tindakan heroik seorang muslim yang sangat gagah dan berani menerjang seribuan musuh sendirian. Lalu Nabi S.a.w pun menanyakan tentang sosok muslim yang menyerang musuh tersebut.

Setelah Nabi S.a.w diberi tahu bahwa penyerang tersebut adalah Umair yang tadi bertanya tentang surga, maka Beliau S.a.w berkata bahwa Umair telah mendapatkan apa yang diharapkannya, yaitu Ridha Allah S.w.t dan Surga-Nya.

Peristiwa heroik Umair Ibnul Humaam R.a tersebut telah berhasil membangkitkan semangat tempur kaum Muslimin melawan kaum musyrikin dalam perang Badar, sehingga akhirnya kaum Muslimin memetik kemenangan besar.

Rodhiyallaahu 'an 'Umair ibnul Humaam wa Jamii'i Ahli Badr


Sumber: www.habibrizieq.com


Thufail bin Amru - Cahaya di Dahinya

Thufail bin Amru - Cahaya di Dahinya

Kisah seorang sahabat yang jarang terdengar dan dikisahkan  dengan kemuliaan Allah Swt telah diberi petunjuk untuk mendapatkan apa yang dicita citakan.  Mengislamkan kaumnya, dengan bukti dan tanda di kening yang selalu memancarkan sinar sebagai janji Rasulullah kepadanya.

Dia Ath- Thufail bin Amru Ad-Dausi,  berasal dari kabilah Daus Zahran, termasuk keturunan bangsawan.  Dia seorang penyair  yang lihai  berbicara, orator  ulung, dan piawai dalam mempengaruhi orang. Cepat dalam berpikir sigap dalam bertindak.

Dia telah sampai di Makkah bertemu dengan orang-orang kafir Quraisy. Mereka berkata, “Jangan engkau dekati dia, karena dia adalah tukang sihir, penyair, dukun dan orang gila. Berhati¬-hatilah, jangan engkau dengarkan omongannya.”  Ath- Thufail menuturkan, “Demi Allah! Mereka tetap menakut-nakutiku sehingga aku mengambil kapas, lalu kusumbatkan ke telingaku.”

Dia bercerita, suatu hari ia masuk ke Masjidil Haram, sedangkan kapas masih tetap berada di telinganya. “Aku tidak mendengar apapun.”  Dia lalu melihat wajah Rasulullah Saw seraya berkata, “Setelah aku melihat wajahnya, aku tahu bahwa wajahnya bukan wajah seorang pendusta.”

Ath-Thufail berkata, “Aku mendengar beliau Saw membaca, tetapi aku tidak mendengar, karena di telingaku ada kapasnya. Lalu ia melepas kapas tersebut dan inilah langkah pertama yang dilakukannya. Rasulullah mulai membaca ayat-ayat Al Qur’an. Setelah ia mendengar perkataan tersebut, terjadi sesuatu pada dirinya. Apakah orang  kafir jika memiliki akal mampu mendengar,mampu berpikir dan mampu bertindak atau mereka lupa dan pura pura tidak tahu.

Siapakah yang mampu mendengar kalimat, “Qaaf, demi Al Qur ‘an yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya), bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, “lni adalah suatu yang amat ajaib’. ” (Qs. Qaaf (50): 1-2)

“Siapakah kamu?” tanya Thufail. “Aku adalah utusan Allah,” jawab beliau. “Siapakah yang mengutusmu?” Tanya Thufail lagi. “Allah,” jawab Rasul.  Ath- Thufail bertanya lagi, “Kepada apa kamu berdakwah?” Lalu beliau memberitahukan dan membacakan kepadanya beberapa ayat.

Secara spontan Thufailpun  pun berkata, bersyahadat, masuk Islam. Maka Rasulullah SAW menyuruhnya untuk kembali ke kabilahnya dan mendakwahi mereka.  Thufail pun kembali sebagai seorang juru dakwah.  Namun kabilahnya tetap kafIr. Perbuatan zina telah menguasai mereka. Maka Thufail menemui Rasulullah Saw  : ”Berdoalah untuk kebinasaan mereka, wahai Rasulullah!”

Tetapi Nabi Muhammad SAW bersikap sebagaimana difirmankan oleh Allah,
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs. Al Qalam (68): 4)   “Lalu Rasulullah membaca Qs. Ali ‘Imran (3): 159)   dan Qs. At – Taubah (9): 128)

Lalu Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya, hendak berdoa untuk kebaikan mereka. Rasulullah Saw bersabda, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah (petunjuk tersebut) kepada mereka. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah kepada mereka. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kabilah Daus dan datangkanlah kepada mereka.”

Thufail  meminta kepada Rasul Saw supaya menjadikan untuknya suatu bukti.  Rasulullah berdoa untuknya, maka tampaklah cahaya di dahinya yang dapat bersinar di malam hari. Tapi karena takut disangka penyakit, ia meminta Rasulullah memindahkan sinarnya ke tongkatnya. Maka dipindahkanlah cahaya itu ke tongkat. Jika ia mengangkat tongkatnya, bersinarlah bukit-bukit Zahran.

Kepada kabilahnya, yang  telah bersiap-siap, sebagaimana doa Rasulullah SAW.  Thufail berkata, “Aku menyeru kalian kepada kalimat ‘Laa ilaaha illallah Muhammadur-Rasulullah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).” Kemudian ia memperlihatkan bukti kepada mereka.  Semua orang pun  masuk Islam,  dengan berbondong-bondong.

Thufail dan rombongan besarnya ikut pertempuran Aramram setelah hijrah ke Madinah.  Selanjutnya, Ath- Thufail terus-menerus berdakwah dan berjihad,  hingga ia mati syahid dalam perang Yamamah.

suara-islam.com

Hudzaifah bin al-Yaman - Sang Penjaga Rahasia

Hudzaifah bin al-Yaman - Sang Penjaga Rahasia


Namanya Hudzaifah bin al-Yaman, terkenal dengan julukan Shahibu Sirri Rasulillah (penjaga rahasia yang dipercaya oleh Rasulullah Saw). Orangnya sangat disiplin dan teguh memegang rahasia. Siapa pun tidak akan bisa membujuk atau memaksanya untuk membuka rahasia.

Salah satu problem besar yang dihadapi oleh umat Islam di Madinah adalah keberadaan kaum munafiqin, yang secara sengaja menyebarkan isu-isu yang tidak benar terhadap Nabi dan kaum Muslimin. Mereka suka membuat intrik-intrik dan tipu muslihat yang menyulitkan kaum Muslimin.

Rasulullah SAW tahu siapa saja mereka dan siapa tokoh-tokohnya, tetapi beliau tidak bisa mengumumkannya karena sehari-hari mereka menampilkan diri sebaimana orang-orang beriman lainnya, bahkan juga datang shalat berjamaah di masjid bersama Nabi-kecuali shalat Subuh dan Isya yang berat bagi mereka melakukannya.

Nabi memberikan daftar nama-nama kaum munafiqin kepada Hudzaifah dan memintanya untuk merahasiakannya kepada siapa pun. Hudzaifah juga ditugasi mengawasi gerak-gerik dan kegiatan mereka untuk mencegah bahaya yang mungkin akan mereka timpakan kepada kaum Muslimin. Rahasia itu dipegang sangat erat oleh Hudzaifah sampai Rasulullah SAW wafat.

Tatkala menjabat khalifah, Umar bin Khathab pernah bertanya kepada Hudzaifah apakah ada pegawainya yang munafik. Hudzaifah menjawab, ada satu orang, tapi dia tidak mau menyebutkan namanya. "Maaf wahai Amirul Mukminin, saya dilarang Rasulullah mengatakannya."

Hudzaifah bukanlah berasal dari Yaman walaupun bapaknya bernama al-Yaman. Bapaknya orang Makkah, dari Bani 'Abbas. Oleh karena suatu utang darah dari kaumnya, al-Yaman terpaksa menyingkir ke Yatsrib-yang kemudian bernama Madinah. Di Yatsrib, al-Yaman berlindung dan bersumpah setia pada Bani 'Abd Asyhal, sampai kemudian menikah dengan perempuan dari suku tersebut. Dari perkawinan itulah lahir Hudzaifah. Walaupun sering bolak-balik ke Makkah, al-Yaman lebih banyak menetap di Madinah.

Dengan latar belakang orang tua seperti itu, tatkala pertama kali bertemu dengan Nabi di Makkah-sebelum beliau hijrah-Hudzaifah menanyakan apakah dia termasuk Muhajirin atau Anshar. Nabi menjawab: "Jika engkau ingin digolongkan kepada Muhajirin, engkau memang Muhajir. Dan, jika ingin digologkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai." Sekalipun kedua-duanya disayangi oleh Rasulullah, ternyata Hudzaifah memilih digolongkan kepada Anshar.

Kedua orang tua Hudzaifah sudah masuk Islam sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Dan, Hudzaifah pun sudah masuk Islam sebelum bertemu dengan Nabi. Setelah Nabi hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau, turut bersama Nabi dalam seluruh peperangan kecuali Perang Badar. Dalam Perang Khandaq, Hudzaifah mendapatkan tugas yang sangat berat dari Nabi. Tugas yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang cerdas, tangggap, dan berdisiplin tinggi.

Pada malam gelap gulita, Hudzaifah ditugaskan oleh Nabi masuk ke jantung pertahanan musuh, mengintai gerak-gerik mereka. "Hai Hudzaifah," kata Nabi. "Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali melapor kepadaku."

Hudzaifah sukses menjalankan tugas itu. Dia bahkan bisa berada sangat dekan dengan Abu Sufyan, panglima perang musuh. Kata Hudzaifah: "Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku." Demikianlah sekelumit tentang Hudzaifah bin al-Yaman RA, sang penjaga rahasia.

Prof Yunahar Ilyas

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia