“Berpalinglah engkau dari perbuatan-perbuatan maksiat agar engkau terhindar dari kemarahan dan siksa dari Allah SWT, setiap kali jiwamu mengajakmu untuk berbuat maksiat maka peringatkanlah ia bahwasanya Allah SWT selalu melihat dan mengawasi dirimu“
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Allah SWT berfirman:
انه من يأت ربه مجرما فان له جهنم لا يموت فيها ولا يحيى
Artinya: “Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.”. (Qs. Thaaha: 74)
أم حسب الذين يعمل السيئات أن يسبقونا ساء ما يحكمون
Artinya: “Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” (Qs. Al-Ankabut: 4)
ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا
Artinya: “Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda:
لا يزني الزانى حين يزنى وهو مؤمن, وللا يسرق السارق حين يسرق وهو مؤمن, ولا يشرب الخمر حين يشربها وهو مؤمن
Artinya: “Tidaklah seorang pezina ketika ia berzina ia dalam keadaan beriman, tidaklah seorang pencuri ketika ia mencuri ia dalam keadaan beriman, dan tidaklah seorang peminum ketika ia meminum arak ia dalam keadaan beriman.”
إذا أذنب العبد ذنبا كانت نكتة سوداء في قلبه, وإن عاد زاد ذلك حتى يسود قلبه
Artinya: “Jika seorang hamba berbuat suatu dosa maka timbullah bintik hitam di hatinya, dan apabila ia mengulanginya lagi, maka bintik itu semakin bertambah banyak hingga menghitamlah hatinya.”
Itulah arti dari firman Allah SWT:
كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون
Artinya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Qs. Al-Muthaffifin: 14)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda:
قسوة القلب من كثرة الذنوب
Artinya: “Kerasnya hati itu disebabkan terlalu banyaknya dosa.”
إن العبد ليحرم الرزق لذنب يصيبه
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba ter-cegah dari memperoleh rezeki karena dosa yang diperbuatnya.”
Allah SWT telah mewahyukan kepada Nabi Musa A.s:
يا موسى أول من مات من خلقي إبليس لعنه الله , لأنه أول من عصا ني ومن عصا ني كتبته ميتا
Artinya: “Wahai Musa, yang pertama kali mati dari makhluk-Ku adalah iblis, semoga Allah SWT melaknatnya, karena dialah yang pertama menentang-Ku, dan barangsiapa yang menentang-Ku Aku menganggapnya sudah mati.”
Said bin Musayyab R.a berkata: “Tidaklah para hamba menjadi mulia dirinya kecuali sebagaimana mereka mentaati Allah SWT, dan tidaklah para hamba menjadi hina dirinya kecuali sebagaimana mereka menentang Allah SWT, dan cukuplah bagi seorang mukmin yang Allah SWT telah menolongnya ketika ia melihat musuhnya berbuat kemaksiatan kepada Allah SWT.”
Muhammad bin Wasi’ berkata: “Perbuatan dosa ditambah lagi perbuatan dosa dapat mematikan hati.”
Berkata salah seorang dari para salaf kita: “Jika engkau bermaksiat kepada Allah SWT sedangkan engkau beranggapan bahwa Ia melihatmu, berarti engkau meremehkan pandangan Allah SWT. Dan apabila engkau bermaksiat kepada-Nya, sedangkan engkau beranggapan bahwa Ia tidak melihatmu, berarti engkau adalah orang kafir.”
Wuhaib bin Ward ra ditanya: “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah SWT akan merasakan kenikmatan beribadah?” Beliau berkata: “Tidak, dan begitu pula bagi orang yang berkeinginan untuk melakukan maksiat.”
Dahulu para shalihin sebelum kitaberkata:” Kemaksiatan merupakan suatu pengantar menuju kekafiran.”
Jadi kesimpulannya, bahwa perbuatan maksiat itu dapat menjatuhkan martabat seseorang dimata Allah SWT dan menimbul-kan kemurkaan Allah SWT atas pelaku perbuatan maksiat tersebut, bahkan orang yang terus menerus berbuat maksiat adalah orang yang paling dimurkai Allah SWT, merupakan teman dari syaitan dan termasuk yang paling dibenci oleh golongan orang yang beriman.
Oleh sebab itu wahai saudaraku, berpalinglah engkau dari perbuatan-perbuatan maksiat agar engkau terhindar dari kemarahan dan siksa dari Allah SWT, setiap kali jiwamu mengajakmu untuk berbuat maksiat maka peringatkanlah ia bahwasanya Allah SWT selalu melihat dan mengawasi dirimu.
Peringatkanlah ia akan ancaman Allah SWT bagi siapapun yang bermaksiat kepada-Nya akan mendapat siksa yang pedih, dan hukuman yang berat. Andaikan dalam melakukan perbuatan maksiat tidak mendapat balasan melainkan ia kehilangan kedudukan yang tinggi disisi Allah SWT dan ia diharamkan dari pahala orang-orang yang berbuat kebaikan, pastilah hal itu cukup baginya sebagai hukuman yang setimpal.
Lalu mau bagaimana lagi? Sedangkan dalam perbuatan maksiat terdapat kehinaan, siksa neraka, dan kemurkaan Allah SWT yang tidak mampu langit dan bumi untuk mengembannya.
Kita memohon kepada Allah SWT keselamatan berkat karunia-Nya.
Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli Khair Wad-Din Karya al-Alamah al-Habib Abdullah bin Alwi al Haddad
Barang siapa yang mempelajari satu bab dari ilmu yang dia dapat memperoleh manfaat dunia akhirat, maka hal itu lebih baik baginya dari pada umur dunia 70.000 tahun yang dipergunakan puasa pada siang hari dan salat pada malam hari dalam keadaan diterima, tidak ditolak.
Dari Mu'adz bin Jabal R.a berkata: Rasulullah S.a.w bersabda:
Pelajarilah ilmu, sebab mempelajari ilmu karena Allah adalah kebaikan, mendaras ilmu sama dengan bertasbih, membahas ilmu sama dengan berjuang, mencari ilmu adalah ibadah, mengajarkan ilmu adalah sedekah, memberikan ilmu kepada yang memerlukan adalah pendekatan diri kepada Allah, memikirkan ilmu sebanding dengan pahala puasa dan memusyawarahkan ilmu sebanding pahala salat malam.
“Tuntutlah ilmu, meskipun di antara kamu dan ilmu terbentang lautan api.“
Sabda Rasulullah S.a.w:
اُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
“Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahat.“
Mempelajari ilmu adalah wajib setiap saat dan keadaan. Sebagian dari para ulama salaf (ulama dahulu) berpendapat bahwa ilmu ada empat macam:
1). Ilmu untuk membetulkan amalan agama. 2). Ilmu kedokteran untuk menyehatkan badan. 3). Ilmu falak untuk menentukan waktu shalat. 4). Ilmu nahwu untuk membetulkan bacaan.
Ilmu dapat dihasilkan dengan dua cara:
1). Usaha, yaitu ilmu yang dapat diperoleh dengan jalan belajar dan membaca secara terus menerus.
2). Mendengarkan, yaitu belajar dari para ulama dengan mendengarkan permasalahan agama dan dunia. Hal ini tidak dapat berhasil kecuali dengan mencintai para ulama, bergaul dengan mereka, menghadiri majlis-majlis taklim mereka dan meminta penjelasan dari mereka.
Orang yang menuntut ilmu wajib berniat dalam usaha menghasilkan ilmu tersebut:
1). Mencari keridlaan Allah, 2). Mencari kebahagiaan akhirat, 3). Menghilangkan kebodohan dirinya dan semua orang yang bodoh, 4). Menghidupkan agama, 5). Mengabadikan agama dengan ilmu, dan 6). Mensyukuri kenikmatan akal dan kesehatan badan
Ia tak boleh berniat agar manusia menghadap kepadanya, mencari kesenangan dunia dan kemuliaan di depan pejabat dsb.
Menyebarkan Ilmu Agama
Nabi Muhammad S.a.w bersabda:
لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ
“Hendaklah orang yang hadir di antara kamu sekalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.“
Wajib bagi seseorang yang mendengarkan untuk menyampaikan segala sesuatu yang didengarkan kepada orang yang tidak hadir. Hadits ini ditujukan kepada para sahabat dan orang-orang sesudah mereka sampai hari kiamat. Jadi wajib bagi seseorang yang memiliki (ahli) ilmu untuk bertabligh. Setiap orang yang mengetahui satu masalah adalah ahli ilmu dalam masalah tersebut. Setiap orang awam yang mengetahui syarat salat, wajib mengajarkan kepada orang lain. Jika ia tidak mau mengajarkan, maka ia bersekutu dalam dosa dengan orang yang belum mengetahuinya.
Pada setiap masjid dan tempat wajib ada seorang ahli agama yang mengajar kepada manusia dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai masalah-masalah agama. Demikian juga halnya di setiap desa. Setiap ahli agama setelah selesai melaksanakan fardlu 'ain, yaitu mengajar di daerahnya sendiri, melakukan fardlu kifayah, yaitu keluar ke daerah yang berdekatan dengan daerahnya, untuk mengajarkan agama dan kewajiban syariat kepada penduduk desa tersebut. Ahli agama tersebut wajib membawa bekal untuk dimakan sendiri, dan tidak boleh ikut makan makanan orang yang diajar.
Jika sudah ada salah seorang yang menunaikan kewajiban ini, maka gugurlah dosa dari para ahli ilmu yang lain. Jika tidak ada sama sekali orang yang menunaikan kewajiban ini, maka dosanya akan menimpa semua orang. Orang yang alim berdosa karena keteledorannya tidak mau pergi ke daerah tersebut; sedangkan orang yang bodoh berdosa karena keteledorannya dalam meninggalkan menuntut ilmu. Ini adalah pendapat Syeikh Ahmad as-Suhaimi yang dinukil oleh Imam al-Ghozali.
Ada 3 tanda bagi orang alim yang ingin mencari kebahagiaan akhirat:
1). Ia tidak mencari kesenangan dunia dengan ilmunya.
2). Kesibukannya dalam ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, sehingga ia memperhatikan ilmu yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki batin dan hatinya.
3). Ia menyandarkan ilmunya pada taklid (mengikuti) kepada Pemilik Syariat, Nabi Muhammad saw, dalam ucapan dan perbuatannya.
Tanda orang yang tidak mencari kesenangan dunia dengan ilmunya ada lima:
1). Ucapannya tidak menyalahi perbuatannya, sehingga ia menjadi orang yang pertama kali melakukan perintah dan meninggalkan larangan.
2). Ia memperhatikan ilmu menurut kadar kemampuannya, dan senang kepada ketaatan serta menjauhi ilmu yang memperbanyak perdebatan.
3). Ia menjauhi kemewahan dalam makanan, tempat tinggal, perkakas rumah tangga dan pakaian.
4). Ia menahan diri dari mempergauli para pejabat, kecuali untuk memberi nasihat kepadanya atau untuk menolak kedlaliman, atau untuk memberikan pertolongan dalam hal yang diridlai oleh Allah Ta'ala.
5). Ia tidak cepat-cepat memberikan fatwa kepada orang yang bertanya, tetapi mengatakan: "Tanyakan kepada orang yang ahli memberi fatwa!", karena kehati-hatiannya. Ia mencegah diri dari berijtihad dalam sesuatu masalah, jika masalah tersebut tidak jelas bagi dirinya. Bahkan ia mengatakan: "Saya tidak tahu!" apabila ijtihad tersebut tidak mudah baginya.
Pahala Yang Besar Bagi Penyebab Hidayah Seseorang
“Sungguh pahala yang besar dijanjikan bagi mereka yang menjadi sebab seseorang mendapat hidayah karena penyampaiannya“
Siapapun berpotensi menjadi sebab hidayah seseorang, tidak tahu siapa dia, apa kedudukan dan jabatannya dan seberapa banyak ilmunya, Jika bersungguh-sungguh membantu dakwah agama ini pasti tidak akan sia-sia di mata Allah. Adakalanya seorang yang mempunyai ilmu agama namun sulit menembuskan hidayah kepada hati seseorang dan tidak sedikit seorang awam (masyarakat umum/orang biasa) dengan nasehat ringannya, seseorang akhirnya mendapat hidayah karenanya.
Sungguh pahala yang besar dijanjikan bagi mereka yang menjadi 'perantara' atau 'sebab' seseorang mendapat hidayah karena penyampaiannya.
.
Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf (12): 108).
قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِعَلِيٍّ: ((فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ)) (رواه البخاري ومسلم وأحمد)
Sabda Rasulullah S.a.w kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah S.w.t menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih baik bagimu dari unta merah.”. (HR. Bukhari, Muslim & Ahmad).
Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:
« يَا عَلِيُّ، لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ عَلَى يَدَيْكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » (رواه الحاكم في المستدرك)
“Wahai Ali, sesungguhnya Allah S.w.t menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih baik bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya).“. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
.
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa: “Unta merah adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab saat itu.”.
.
Hadits ini menunjukkan bahwa usaha siapapun yang menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah S.w.t, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan mewah miliknya.
.
Beratkah kita untuk menyampaikan sedikit nasehat yang kita bisa?, Beratkah kita membantu agama ini sebisa yang kita mampu?, Tidak inginkah kita meraih keutamaan yang besar dan pahala yang berlipat ganda ini?.
“Jangan hanya berbahagia atas apa yang kita dapat tetapi berbahagialah atas apa yang bisa kita bagikan. Karena seorang yang disebut sukses bukan hanya sukses untuk dirinya sendiri tetapi turut bisa mensukseskan orang lain disekitarnya. Sama halnya menjadi pribadi baik yang bernilai tidak cukup hanya melakukan kebaikan untuk dirinya saja tetapi akan mulia jika bisa membuat orang sekitarnya ikutan menjadi baik karena nasehatnya.“.
Dalam catatan Lontara yang diwariskan kerajaan Gowa-Tallo, disarikan data bahwa Syekh Yusuf lahir pada 3 Juli 1628 M, tepat pada 8 Syawal 1036 H. Dengan demikian, Syekh Yusuf lahir setelah dua dekade pengisalaman kerajaan kembar Gowa-Tallo oleh ulama Minangkabau, yakni Syekh Abdul Makmur, disebut Datuk Ri Bandang.
Catatan Lontara Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa, menyatakan bahwa ayah Syekh Yusuf bernama Gallarang Moncongloe, yang merupakan saudara dari Raja Gowa Sultan Alauddin Imang'rang' Daeng Marabbia, Raja Gowa yang beragama Islam. Sultan Alauddin menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan pada 1603 M. Ibu kandung Syaikh Yusuf, tak lain adalah Aminah binti Dampang Ko'mara, keturunan bangsawan kerajaan Tallo, kerajaan kembar yang berdampingan dengan kerajaan Tallo.
Kisah perjuangan Syekh Yusuf dalam mempertahankan kedaulatan di bumi Nusantara menjadikan dirinya diasingkan di Ceylon (Srilangka) dan Afrika Selatan. Syekh Yusuf tidak hanya milik masyarakat Bugis, namun juga warga muslim Nusantara, Ceylon dan Afrika. Presiden Afrika Selatan, pada 1994, menetapkan Syaikh Yusuf sebagai pejuang kemanusiaan. Sementara, di negeri ini, Syekh Yusuf dianggap sebagai waliyullah yang menyambungkan sanad keilmuan, menggerakkan perjuangan melawan kolonialisme hingga mewariskan jejaring tarekat yang dianut keluarga dan muridnya hingga kini.
Pada masa hidupnya, Syekh Yusuf membawa perubahan penting dalam perjuangan dakwah yang diembannya. Syaikh Yusuf dikenal di Kesultanan Banten, Tanah Bugis (Sulawesi Selatan), Ceylon (Sri Langka), dan Cape Town (Afrika Selatan). Dalam pengasingan di Ceylon dan Capetown, Syaikh Yusuf mengembangkan Islam dengan mengajar warga, hingga menjadi komunitas muslim di negeri tersebut. Jejak komunitas muslim dan keturunan Syekh Yusuf di Ceylon dan Capetown masih dapat dilacak hingga kini.
Pada 2009, Syekh Yusuf mendapatkan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan ini penting untuk mengenang sosok Syekh Yusuf di dataran Afrika, atas jasa besarnya dan menjadi inspirasi warga. Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, menyerahkan penghargaan langsung kepada tiga ahli warisnya, di antaranya Andi Makmun dan Syachib Sulton. Wapres Jusuf Kalla menyaksikan langsung prosesi penyerahan penghargaan ini, di Union Building, Pretoria, Afrika Utara.
Dari Bumi Bugis
Lahir di tanah Bugis, Syekh Yusuf mendapat tempaan pendidikan Islam dari keluarga dan ulama di kampungnya. Beliau mengaji al-Qur'an kepada Daeng ri Tamassang. Setelah itu, ia berkelana ke pesantren Bontoala untuk mengaji ilmu-ilmu bahasa, semisal Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan mantiq. Pada waktu itu, Syaikh Yusuf mengaji kepada ulama asal Yaman, Syed Ba'alawi bin Abdullah, yang dikenal sebagai al-allamah Tahir, pengasuh pesantren Bontoala. Setelah menamatkan belajar di Bontoala, Syaikh Yusuf melanjutkan mengaji kepada Syekh Jalaluddin Aidit, ulama asal Aceh yang mengembara ke Bugis. Di bawah asuhan Syekh Jalaluddin, di pesantren Cikoang, belajar selama beberapa tahun. Syekh Jalaluddin kemudian mengutus Syekh Yusuf untuk belajar ke tanah Hijaz, untuk mengaji lebih intens kepada ulama-ulama Haramain.
Tak lama berselang, pada 22 September 1644, Syekh Yusuf berangkat menuju Hijaz, dengan menggunakan kapal penumpang. Pada waktu itu, transportasi laut dari kawasan timur Nusantara melalui Banten untuk menyusuri selat Malaka, hingga menembus ke kawasan pesisir Arab. Ketika singgah di Banten, Syekh Yusuf berkenalan dengan putra mahkota kerajaan Banten, Abdul Fattah, yang merupakan putra Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), penguasa kerajaan Banten.
Selain Banten, dalam perjalanannya, Syaikh Yusuf singgah di Aceh. Di kawasan Serambi Makkah ini, Syekh Yusuf melakukan komunikasi dengan ulama dan pemimpin thariqah al-Qadiriyah di Aceh, Syaikh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniry. Ketika singgah di Banten dan Aceh, Syekh Yusuf menghabiskan waktu selama sekitar 5 tahun, untuk melakukan interaksi dengan ulama setempat.
Dalam perjalanan panjangnya, Syekh Yusuf singgah di Yaman, atas saran dari gurunya selama di Acceh, Syaikh Muhammad Jilani. Di Yaman, Syekh Yusuf berguru kepada Syekh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (w. 1664), ulama terkenal di Yaman, khalifah tarekat an-Naqsyabandiyah. Syekh Yusuf tidak berhenti di satu titik, di satu guru. Ia terus berupaya menyegarkan dahaga spritual, dahaga pengetahuannya. Dalam pengembaraannya, Syekh Yusuf meneruskan perjalanan ke Bandara al-Zubaid, berguru ke Syed Ali al-Zubaidy (w. 1084), seorang muhaddits dan sufi. Dengan Syed Ali, Syekh Yusuf mendapatkan ijazah thariqah dari silsilah keluarga al-Sadah al-Ba'alawiyah.
Perjalanan panjang di Yaman, diteruskan menembus Makkah untuk menunaikan ibadah Haji. Kemudian, Syekh Yusuf menuju Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah S.a.w. Di kota ini, Syekh Yusuf berguru kepada Syaikh Ahmad al-Qusysyi (w. 1661), Mullah Ibrahim al-Kawrany (w. 1690), dan Hassan al-Ajamy (w. 1701). Tiga ulama inilah, yang menjadi referensi keilmuan dan tradisi tasawuf yang menyambungkan jaringan ulama Nusantara dengan ulama Haramain.
Syekh Yusuf masih belum puas dengan dahaga pengetahuan, dan kehausan akan guru yang mencerahkan. Ia terus berjalan menuju Syam (Damaskus) dan Turki. Di Syam, Syaikh Yusuf memperdalam pengetahuan, dan mengasah kepekaan bathin, kepada beberapa guru. Di antaranya, Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalwaty al-Quraishi. Setelah berkelana Syam dan Turki, Syaikh Yusuf kembali ke Makkah, untuk mengaji dan mengajar. Ketika musim haji tiba, Syekh Yusuf mengajar santri-santri Nusantara, terutama yang berasal dari kawasan Bugis. Di antara murid-muridnya, ialah Syekh Abu al-Fath Abdul Basir al-Darir (Tuan Rappang), Abdul Hamid Karaeng Karunrung dan Abdul Kadir Majeneng, merekalah yang kemudian meneruskan ajaran tarekat Khalwatiyyah Syekh Yusuf di tanah Bugis.
Sufisme Syekh Yusuf
Bagaimana sufisme Syekh Yusuf, yang diwariskan kepada keturunan dan pengikutnya? Dalam pandangan Syekh Yusuf, Allah tidak ada yang menyerupai, tidak ada yang menandingi.
إ نه تعالى هو المو صوف بأ ية : ليس كمثله شى ء وسورة الأ خلاص
“Sesungguhnya, Allah Ta'ala disifati dengan ayat al-Qur'an al-Shura ayat II, yang bermaksud: Tiada Tuhan apapun yang menyerupai-Nya”.
Konsep tauhid Syekh Yusuf tidak lepas dari konsep tauhid ahl as-sunnah wal-jama'ah yang menetapkan zat dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur'an. Syekh Yusuf menyebutnya sebagai um al-i'tiqad, induk dari keimanan. Baginya, ayat tersebut menegaskan bahwa dasar Tauhid yang sebenarnya mesti dipegangi dan diyakini. Bahwa, unsur-unsur ketauhidan yang mesti diyakini orang yang menjalani suluk (pendekatan), di antaranya:
(1) Tauhid al-Ahad, meyakini bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Qadim (tidak berpemulaan), qadim bi-nafsih (berdiri sendiri), muqawwim lighairih (mengadakan selain-Nya). Allah Maha Tunggal, tidak bermula wujud-Nya, tiada ujung-Nya, dan tiada serupa-Nya.
(2) Tauhid al-Af'al, meyakini bahwa sesungguhnya Allah, pencipta segala sesuatu. Dialah yang memberi daya dan kekuatan dalam melaksanakan segala urusan. Allah berkehendak, dan semua kehendak manusia berada dalam kehendak Allah.
(3) Tauhid al-Ma'iyyah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya, di manapun berada.
(4) Tauhid al-Ihatah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu.
Dimensi tasawuf Syaikh Yusuf bergerak dalam konsep keyakinan terhadap Allah, mengelaborasi konsep tauhid sebagai pintu masuk untuk mengenal dzat yang Maha Besar, Allah Maha Agung. Inilah jalan pembuka, yang disadari Syaikh Yusuf sebagai pelajaran awal bagi pengikutnya untuk mengenal Allah, mengenal Sang Pencipta.
Dalam risalah al-Futuhah al-Ilahiyyah, Syekh Yusuf merinci rukun tasawuf dalam sepuluh perkara. Bagi Syekh Yusuf rukun tasawuf ini, menjadi penting bagi salik untuk berada dalam garis perjalanan mendekat menuju-Nya. Sepuluh rukun tasawuf, yakni:
Pertama, Tahrid al-Tauhid, memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami makna keesaan Allah, yang disarikan dari kandungan surat al-Ikhlas. Selain itu, meyakini Allah dengan menjauhi sifat tasybih dan tajsim.
Kedua, faham al-Sima'i, bermaksud memahami tata cara menyimak petunjuk dan bimbingan Syekh Mursyid dalam menjalani pendekatan diri, kepada Allah. Ketiga, Husn al-Ishra, bermaksud memperbaiki hubungan silaturahmi dan pergaulan. Keempat, Ithar al-Ithar, bermaksud mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri demi mewujudkan persaudaraan yang kukuh.
Kelima, tark al-ikhtiyar, bermaksud berserah diri kepada Allah tanpa i'timad kepada ikhtiar sendiri. Keenam, surat al-wujd, memahami secara jernih hati nurani yang seiring kehendak al-Haq. Ketujuh, al-kahf an al-khawatir, bermaksud membedakan yang benar dan salah.
Kedelapan, khatrat al-safar, bermaksud melalukan perjalanan untuk mengambil i'tibar dan melatih ketahanan jiwa. Kesembilan, tark al-iktisab, bermaksud mengandalkan usaha sendiri, akan tetapi lebih bertawakkal kepada Allah setelah berusaha. Kesepuluh, tahrim al-iddihar, bermaksud tidak mengandalkan pada amal yang telah dilakukan, melainkan tumpuan harapannya kepada Allah.
Bagi Syekh Yusuf, manusia yang sempurna (al-insan al-kamil) merupakan manusia yang sampai ke makam ma'rifat. Bukan hanya manusia biasa yang berislam secara dangkal. Syekh Yusuf memberi penekanan tentang hakikat ma'rifat dalam kekhususan tingkatan manusia sebagai al-insan al-kamil. Manusia sempurna akan ingat Allah dalam segala urusan, kapanpun dan di manapun berada.
Syekh Yusuf lahir pada 3 Juli 1628 M, di Gowa Sulawesi Selatan, dan wafat pada 23 Mei 1699 di Capetown, Afrika Selatan. Beliau sebagai pejuang, jembatan Ulama Nusantara dan Timur Tengah, serta sufi yang mengajarkan lautan ilmu kepada murid-muridnya. AlFatihah.***
Oleh: Munawir Aziz (esais dan peneliti, menulis beberapa buku tentang Islam Nusantara). Sumber: Halaman Pecinta Ulama Nusantara
“Adapun mengkomsumsi barang haram dan subhat tidak diragukan lagi, pasti akan mengalihkan seseorang dari perbuatan taat dan mendorongnya pada perbuatan maksiat“
Sebagaimana yang kita ketahui, dunia didirikan atas dasar ujian dan bencana, serta ditambah lagi dengan kesengsaraan dan kepedihan, dan diliputi oleh berbagai macam tipu daya dan hal-hal yang melalaikan. Oleh karena itu, banyak hal-hal yang menghalangi manusia dari perbuatan taat, dan banyak pula hal-hal yang dapat mengajak seseorang kepada kemaksiatan, kemudian walaupun banyak sekali yang menjadi penghalang bagi ketaatan dan pendorong kepada berbuat kemaksiatan. Maka kesemuanya (Penghalang dari Perbuatan Taat) itu tercakup dalam empat sebab utama, yaitu:
1. Kebodohan
2. Keimanan yang lemah
3. Angan-angan kosong
4. Memakan makanan haram dan subhat
Dan Insya Allah S.w.t kami akan menjelaskan tiap-tiap bagian dari empat perkara ini dengan penjelasan yang singkat, yang akan menjadikan kita lebih berhati-hati atas keburukan dan rintangan-rintangan yang ditimbulkannya, serta bagaimana cara membebaskan diri darinya. Semoga Allah S.w.t memberi taufiq-Nya.
1. Kebodohan
Adapun kebodohan merupakan sumber dari segala keburukan, penyebab dari berbagai macam bencana, kebodohan berikut orang-orangnya termasuk dalam sabda Nabi S.a.w secara umum:
الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكر الله وعالم ومتعلم
Artinya: “Dunia itu terlaknat, terlaknatlah apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikrullah, orang ‘alim dan orang yang menuntut ilmu.”
Dan diriwayatkan:
ان الله لما خلق الجهل قال له أقبل فأدبر , فقال له أدبر فأقبل , فقال له : وعزتي ما خلقت خلقا أبغض إلي منك ولأ جعلنك فى شرار خلقي
Artinya: “Sesungguhnya Allah ketika menciptakan kebodohan, Dia berkata kepadanya: “Kemarilah, ia pun pergi. Lalu Allah berkata kepadanya: “Pergilah”, maka ia pun datang. Allah berkata kepadanya: ”Demi Kemulian-Ku, Aku tidak pernah menciptakan suatu makhluk pun yang lebih Aku benci dari pada dirimu, dan Aku pasti akan menjadikanmu dikalangan makhluk-Ku yang paling jahat.”.
Imam Ali K.w berkata: “Tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari kebodohan, dan musuh seseorang adalah kebodohannya.”.
Celanya kebodohan itu telah diketahui baik secara akal maupun melalui riwayat-riwayat, hampir tidak ada yang tersembunyi dari seorangpun. Dan orang yang bodoh sudah pasti akan terjerumus dalam perbuatan meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, karena ia tidak mengetahui bagaimana cara melakukan ketaatan sebagai-mana yang diperintahkan Allah S.w.t, dan begitu pula terhadap perbuatan kemaksiatan seperti apa yang semestinya harus dihindari, dan tak seorang pun yang dapat keluar dari gelapnya kebodohan melainkan dengan cahaya ilmu. Sungguh indah syair yang dikatakan oleh Syeikh Ali bin Abi Bakar:
“Kebodohan bagaikan api yang membakar agama seseorang, sedangkan ilmu bagaikan air yang memadamkannya.“.
Oleh karena itu, hendaknyalah engkau mempelajari ilmu yang Allah S.w.t wajibkan bagimu untuk diketahui, sedangkan untuk lebih memperluas ilmu bukan merupakan kewajibanmu, Justru kewajibanmu adalah mempelajari ilmu aqidah, yang mana keimananmu tidak akan sempurna tanpanya. Dan hendaknya engkau juga mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya agar engkau dapat menunaikan setiap apa yang Allah S.w.t wajibkan bagimu dalam melaksanakan ketaatan kepadanya, dan bagaimana cara untuk menghindar dari setiap perbuatan kemaksiatan yang dilarang Allah S.w.t, karena hal ini merupakan suatu kewajiban yang harus segera dikerjakan tanpa di tunda-tunda lagi.
Malik bin Dinar R.a pernah berkata: “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk dirinya sendiri, maka ilmu yang sedikit dapat mencukupinya, dan barangsiapa yang menuntut ilmu untuk kepentingan manusia, sesungguhnya kepentingan manusia banyak sekali.”.
Adapun mengkomsumsi barang haram dan subhat tidak diragukan lagi pasti akan mengalihkan seseorang dari perbuatan taat dan mendorongnya pada perbuatan maksiat.
Telah diriwayatkan Rasulullah S.a.w bersabda:
من أكل الحلال أطاعت جوارحه شاء أم أبى ومن أكل الحرام عصت جوارحه شاء أم أبى
Artinya: “Barangsiapa yang makan dan sumber yang halal, niscaya seluruh anggota tubuhnya pasti akan berbuat ketaatan, dan Barangsiapa yang makan dari sumber yang haram, niscaya seluruh anggota tubuhnya pasti akan berbuat kemaksiatan.”.
Disebutkan dalam sebuah riwayat:
كل ما شئت فمثله تعمل
Artinya: “Makanlah apa saja yang engkau kehendaki, maka perbuatanmu sesuai dengan apa yang engkau makan.”
Salah seorang ‘Arifin Billah berkala: “Tidak ada sesuatu pun yang memutuskan makhluk dari kebenaran dan mengeluarkan mereka dari lingkungan kewalian kecuali dikarenakan mereka tidak teliti terliadap apa yang mereka makanan.”
Orang yang mengkonsumsi barang haram dan subhat meskipun ia adalah orang yang taat, ketaatannya itu tidak diterima karena Allah S.w.t berfirman :
إنما يتقبل الله من المتقين
Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”. (QS Al-Maidah: 27).
Dan Allah S.w.t itu dzat yang baik, tidak menerima melainkan yang baik.
Oleh karena itu, engkau harus benar-benar mencegah dirimu wahai saudaraku dari penggunaan barang haram, dan cegahlah dirimu dari penggunaan barang subhat karena wara’, dan engkau hendaknya mencari barang yang halal, karena mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban setelah hal-hal yang fardhu.
Apabila engkau telah mendapatkannya, maka makanlah darinya sesuai kebutuhanmu, dan pakailah pakaian yang halal sesuai dengan kebutuhanmu, janganlah engkau berlebihan dalam penggunaannya karena sesuatu yang halal bukan digunakan untuk berlebihan.
Hindarilah, janganlah engkau terlalu kenyang, walaupun didapat dari makanan yang halal, karena akan menjadi awal dari segala keburukan, lalu bagaimana jika makanan itu didapatkan dari barang haram?
Rasulullah S.a.w bersabda:
ما ملأابن ادم وعاء شرا من بطنه , حسب ابن ادم لقيمات يقمن صلبه, فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه
Artinya: “Tidak sekalipun manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya, cukuplah bagi manusia beberapa suap yang dapat menegakkan punggungnya, jika hal itu tidak dapat dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya.”.
~ al-Alamah al-Habib Abdullah bin Alwi al Haddad ~
Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli Khair Wad-Din
“Tiada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah S.a.w, dan tiada seorang pun lebih agung di mataku daripada Beliau S.a.w“
Dalam kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail Alaihis Salam, di antara inti makna penting yang terkandung di dalamnya adalah sebuah kemurnian tauhid dan hakikat iman itu sendiri. Bahwa, dalam hal ibadah kepada Allah S.w.t, Nabi Ibrahim tidak menimbang perkara agama dengan pikirannya, melainkan semata-mata tunduk dan pasrah terhadap kehendak dan perintah Allah S.w.t. Bahkan di saat pikiran dan akal 'sempit' manusia tidak bisa menerima bila harus membunuh (menyembelih) putranya sendiri, Nabi Ibrahim menafikan semua itu dan sepenuhnya tunduk patuh kepada perintah Allah S.w.t.
Bila itu adalah perintah Allah, tidak ada celah sedikit pun bagi akal untuk menimbangnya selain patuh dan tunduk kepada Yang Maha Pemberi perintah. Karena yang demikian itulah inti dan hakikat kemurnian tauhid yang sesungguhnya. Karena, bila dalam hal ini akal sempit manusia masuk, maka sesungguhnya dia tengah mencontoh perilaku makhluk Allah yang pertama kali menimbang-nimbang perkara agama hanya dengan akal pikirannya, yakni Iblis, yang karena perbuatannya itu Iblis terusir dari rahmat Allah S.w.t. Na‘udzu billah min dzalik.
Untuk lebih memahami dari makna-makna kemurnian tauhid dan hakikat iman, marilah kita menyimak apa yang dituturkan oleh Sayyidina Al Habib Ali Al-Jufri dalam salah satu majelisnya.
“Kita mengagungkan Nabi S.a.w karena Allah telah mengagungkan Nabi S.a.w dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengagungkan Beliau S.a.w“
Setelah Allah S.w.t menciptakan Adam A.s dari tanah dan meniupkan kepadanya ruh dari sisi-Nya dan memerintahkan para malaikat supaya bersujud kepada Adam, timbullah dua bentuk kesamaran. Yaitu, pertama, kesamaran yang berasal dari dzat yang tidak terdapat padanya kesombongan (al-kibr) akan tetapi ingin memahami sesuatu, mereka adalah para Malaikat. Dan, kedua, kesamaran yang berasal dari dzat yang padanya terdapat kesombongan, yakni Iblis.
Para malaikat berkata, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’.”. (QS Al-Baqarah: 30).
Ini adalah pertanyaan untuk mencari penjelasan. Perkataan itu diucapkan oleh para malaikat karena merasa samar dalam perkara tersebut.
Para malaikat adalah makhluk Allah S.w.t yang sepenuhnya beribadah kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya. Mereka makhluk yang tercipta dari cahaya, yang tidak pernah mendurhakai Allah dalam segala hal yang diperintahkan-Nya dan senantiasa menunaikan apa yang diperintahkan kepada mereka.
Tiba-tiba Allah ciptakan satu makhluk yang terbuat dari tanah, belum pernah satu kali pun sujud kepada-Nya, dan tidak pula tampak adanya keutamaan dan keistimewaannya dibanding mereka, para malaikat. Dalam kondisi semacam itu, Allah justru berfirman kepada mereka, “Sujudlah kalian kepadanya (Sesungguhnya Aku telah menjadikan seorang khalifah di muka bumi).”.
Malaikat berkata, “Bagaimana mungkin wujud seperti itu disebut khalifah (wakil Allah)? Padahal kami senantiasa bersujud dan menunaikan segala perintah?”
Allah S.w.t berfirman, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui segala apa yang tidak kalian ketahui.” (QS Al-Baqarah: 30).
Mendapat jawaban dari Allah S.w.t semacam itu, para malaikat pun berhenti sampai batas itu. “Benar, Maha Suci Engkau. Engkau Maha Mengetahui segala apa yang kami tidak ketahui.”. Maka selesailah masalahnya.
Sedangkan Iblis memiliki kesombongan di dalam dirinya. Ia menisbahkan segala perbuatan dan ibadahnya kepada dirinya sendiri dan tidak kepada taufiq Allah S.w.t. Ia memandang bahwa dirinya lebih mulia dari selainnya.
Kala itu Iblis berkata, “Bagaimana mungkin, ia tercipta dari tanah, dan Engkau ingin aku sujud kepadanya?”
Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” (QS Al-A`raf: 12).
Menjawablah Iblis, “Aku lebih baik daripadanya.” (QS Al-A`raf: 12).
Iblis membanding-bandingkan dirinya dengan Adam. “Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A`raf: 12).
Allah berfirman, “Turunlah engkau dari surga itu....” (QS Al-A`raf: 13).
Perhatikan!.. Di sini permasalahan sesungguhnya berasal dari dalam diri Iblis yang kemudian menjadi tabiat. Apa tabiatnya?.. Yakni menolak sujud, mendurhakai Allah S.w.t, dan tidak melaksanakan perintah Allah S.w.t.
Tabiat ini telah mencegah Iblis dari melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Setelah itu keluarlah darinya ucapan, “Aku lebih baik darinya.”. Setelahnya muncul lagi sikap untuk menetapkan dirinya dalam kebathilan dan kedurhakaan. “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS Shaad: 82).
Kepada siapa Iblis berkata demikian?.. Iblis berkata demikian kepada Tuhan, Yang Maha Agung. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi. Siapa yang dia tentang?!.. yang dia tantang adalah Allah S.w.t.
Demikianlah Iblis, yang karena kesungguhan ibadahnya kepada Allah sampai dijuluki thawus al-malaikah (mahkota para malaikat) harus terusir dari rahmat Allah S.w.t selama-lamanya karena dia telah menimbang perkara agama dengan kesempitan akal pikirannya, sehingga lahir di dalam hatinya sifat ujub, yang kemudian berkembang menjadi takabur, dan berkembang lagi menjadi hasad, dan seterusnya hingga menjadi makhluk terlaknat karena telah menobatkan dirinya sebagai penentang, pendurhaka, dan pengingkar sejati terhadap Allah S.w.t, Tuhan Penciptanya. Naudzu billah mindzalik.
Berkaitan dengan makna-makna ini, banyak di kalangan umat Islam, baik secara sadar maupun tidak, dan karena kebodohannya, telah menjerumuskan dirinya ke jurang perilaku dan sikap yang dipilih oleh Iblis dibanding memilih perilaku dan sikap yang dipilih oleh para malaikat dan Nabi Ibrahim A.s dan hamba-hamba Allah yang shalih seperti mereka. Yakni, menimbang perkara-perkara agama dengan kesempitan dan kepicikan akal pikiran mereka sendiri.
Di antara kesalahan sikap dan perilaku keberagamaan yang sangat fatal itu adalah pandangan mereka yang menganggap pengagungan terhadap Nabi S.a.w dan para Shalihin dalam bentuk apapun sebagai perbuatan kufur dan syirik, (juga beranggapan) hal tersebut bukan hanya wajib dijauhi tetapi juga harus diperangi pelakunya karena dianggap telah menyalahi syari’at Islam dan menyebarkan paham kufur dan syirik. Hal ini tidak lain semata-mata karena menurut akal dan pikiran mereka, bahwa Rasulullah S.a.w tidak lain hanyalah seorang manusia biasa, sama seperti manusia lainnya. Mengagungkan Nabi S.a.w berarti telah menyekutukan Allah S.w.t dengan makhluk, karena pengagungan semata-mata hanya ditujukan kepada Allah S.w.t.
Dalam hal ini, sesungguhnya mereka lupa dan bodoh terhadap makna bahwa sesungguhnya pengagungan terhadap Nabi S.a.w tidak lain semata-mata menunaikan perintah Allah S.w.t. Kita mengagungkan Nabi S.a.w karena Allah telah mengagungkan Nabi S.a.w dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengagungkan Beliau S.a.w. Mudahnya, bila kita mengagungkan Nabi S.a.w, berarti kita mengikuti jejak para malaikat, Nabi Ibrahim A.s, dan orang-orang yang mengikuti mereka, yang taat dan patuh kepada perintah Allah S.w.t. Dan bila kita berbuat sebaliknya, dengan meremehkan makna keagungan yang telah Allah berikan kepada Nabi S.a.w, kita telah mengikuti jejak Iblis, yang terusir dari rahmat Allah karena menimbang perkara agama dengan akal pikirannya yang sempit. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.
Untuk lebih memahami makna pengagungan antara makna adab dan ibadah, yang keduanya merupakan hakikat sesungguhnya dari penghambaan dan ibadah kepada Allah S.w.t, mari kita renungi dan cermati apa yang diungkapkan oleh Sayyidina Abuya Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dalam kitabnya Mafahim yajib an-tushahhah.
“Perkara agung yang harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya ialah kewajiban mengagungkan Nabi S.a.w dan meninggikan kedudukan Beliau S.a.w di atas sekalian makhluk“
Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani berkata, “Banyak orang salah dalam memahami hakikat ta`zhim (pengagungan) dan hakikat ibadah, sehingga mereka mencampur-adukkan antara keduanya secara jelas dan nyata. Mereka memandang segala bentuk pengagungan adalah ibadah kepada Yang Maha Agung. Berdiri (menyambut), mencium tangan, mengagungkan Nabi S.a.w dengan ucapan ‘Sayyidina dan Maulana’ (Penghulu dan Junjungan kami), berdiri di hadapan makam Beliau pada saat ziarah dengan penuh adab dan rendah diri, dalam pandangan mereka semua itu adalah ghuluw (perilaku berlebihan) yang mengarah kepada beribadah kepada selain Allah S.w.t, (dan juga dalam pandangan mereka) semua itu adalah kebodohan dan keingkaran yang tidak diridhai oleh Allah S.w.t, dan perbuatan tidak berdasar yang ditolak oleh ruh syari’at Islam.
Adalah Nabi Adam A.s manusia pertama dan hamba Allah pertama dari para hamba Allah yang shalih dari kalangan manusia. Allah perintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai penghormatan dan pengagungan baginya karena apa yang telah Allah anugerahkan kepadanya dari ilmu sekaligus juga sebagai pemberitahuan kepada mereka tentang kesuciannya di antara segenap makhluk-Nya.
Allah S.w.t berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian semua kepada Adam, maka mereka pun bersujud, kecuali Iblis. Ia berkata: Apakah aku bersujud kepada makhluk yang Engkau ciptakan dari tanah? Iblis berkata: Terangkanlah kepadaku, inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?’.” (QS Al-Isra’: 61-62). Dan pada ayat yang lain Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A`raf: 12). Dan pada ayat yang lain lagi Allah S.w.t berfirman, “Maka bersujudlah seluruh malaikat itu bersama-sama kecuali Iblis. Dia enggan untuk (ikut bersujud) bersama mereka yang sujud itu.” (QS Al-Hijr: 30-31).
Di sini, para malaikat mengagungkan siapa yang Allah agungkan sedangkan Iblis menyombongkan diri dari sujud kepada makhluk (Nabi Adam A.s) yang diciptakan dari tanah. Iblis adalah makhluk pertama yang 'menimbang' perkara agama hanya dengan pikirannya dan berkata, “Aku lebih baik darinya.” Dia mendasarkan pikirannya itu dengan dalil penciptaan dirinya yang tercipta dari api dan penciptaan Nabi Adam A.s yang berasal dari tanah. Dengan pendasaran semacam itu, Iblis menganggap remeh perkara penghormatan terhadap Nabi Adam dan menolak sujud kepadanya. Dengan itu, Iblis adalah makhluk pertama yang menyombongkan dirinya. Ia tidak mengagungkan siapa yang Allah agungkan, sehingga Iblis diusir dari rahmat Allah Sw.t karena kesombongannya terhadap hamba yang shalih ini (Nabi Adam Alaihi Salam). Dalam konteks ini, apa yang diperbuat Iblis itu sesungguhnya hakikat takabur (kesombongan) terhadap Allah S.w.t, karena sesungguhnya sujud kepada Nabi Adam itu tidak lain semata-mata karena perintah Allah S.w.t.
Dan sesungguhnya sujud kepada Nabi Adam di sini adalah pemuliaan dan penghormatan baginya yang diperintahkan atas mereka. Dan Iblis sesungguhnya bagian dari hamba-hamba yang mentauhidkan Allah, tetapi sungguh tiada berguna baginya tauhidnya.
Di antara penjelasan yang menerangkan ihwal pengagungan terhadap para Shalihin adalah firman Allah S.w.t yang mengisahkan Nabi Yusuf A.s, “Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka semua merebahkan diri seraya bersujud kepada Yusuf.” (QS Yusuf: 100). Mereka, para saudara Nabi Yusuf, sujud kepada Nabi Yusuf sebagai penghormatan dan pengagungan baginya. Dan sujud para saudara Nabi Yusuf kepadanya dijelaskan dalam firman Allah S.w.t “Wa kharruu (dan mereka bersujud)”, yang sujud semacam demikian dibolehkan dalam syari’at mereka, atau seperti sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan serta menjalankan perintah Allah S.w.t, yang itu adalah tafsir dari mimpi Nabi Yusuf Alaihi Salam, sedangkan mimpi para Nabi adalah wahyu.
Adapun mengenai Nabi kita, Sayyidina Muhammad S.a.w, Allah S.w.t berfirman pada hak Beliau S.a.w, “Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkannya dan membesarkannya....” (QS Al-Fath: 8-9).
Allah juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya....” (QS Al-Hujarat: 1). Firman-Nya juga, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi....” (QS Al-Hujarat: 2). Allah pun berfirman, “Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebahagian kalian kepada sebahagian yang lain....” (QS An-Nur: 63).
Allah S.w.t melarang untuk berbuat lancang di hadapan Beliau S.a.w, baik dengan ucapan maupun dengan adab yang buruk dengan mendahului Beliau S.a.w berkata-kata.
Abu Muhammad Makki berkata, “Yakni, jangan mendahului Beliau dalam pembicaraan, jangan berkata kasar kepada Beliau, dan jangan memanggil Beliau seperti kalian memanggil sebagian kalian yang lain. Akan tetapi, agungkanlah Beliau, besarkan Beliau, dan panggillah Beliau dengan panggilan yang paling mulia yang Beliau sukai untuk dipanggil dengan panggilan itu, yaitu ‘Wahai Rasulullah... Wahai Nabi Allah...’. Yang demikian ini sebagaimana firman Allah S.w.t, ‘Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebahagian kalian kepada sebahagian yang lain...’ (QS An-Nur: 63).”, Ayat ini turun karena ada sekelompok orang yang mendatagi Nabi S.a.w dan berseru, “Hai Muhammad, keluarlah dan temui kami.”, Allah menghardik mereka dengan mensifati mereka dengan kejahilan dan menegaskan bahwa kebanyakan mereka tidak memiliki akal.
Amr bin ‘Ash R.a berkata, “Tiada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah S.a.w dan tiada seorang pun lebih agung di mataku daripada Beliau S.a.w. Sungguh aku tiada sanggup untuk memenuhi pandangan mataku pada Beliau sebagai penggagunganku kepada Beliau S.a.w. Dan bila saja aku diminta untuk mensifati Beliau, sungguh aku tiada sanggup melakukannya, karena aku tidak dapat memenuhi pandangan mataku pada Beliau S.a.w.” (HR Muslim).
Urwah bin Mas‘ud berkata kepada orang-orang Quraisy: “Wahai segenap orang Quraisy, sungguh aku telah mendatangi Kisra di kerajaannya dan Kaisar di kerajaannya dan juga Najasyi di istananya. Demi Allah, aku tidak pernah sekali pun melihat seorang raja di tengah rakyatnya seperti Muhammad di antara para sahabatnya.”. Ungkapan ini dikatakan oleh Urwah setelah ia datang bersama serombongan Quraisy menghadap Nabi S.a.w pada peristiwa Qadhiyyah.
Urwah menyaksikan bagaimana pengagungan para sahabat kepada Rasulullah S.a.w, yang tidaklah Rasulullah S.a.w berwudhu kecuali mereka berebut sisa air wudhu Nabi S.a.w, seolah mereka hendak saling membunuh untuk mendapatkan bekas wudhu Beliau S.a.w, dan tidak pula Nabi S.a.w meludah atau membuang riak kecuali para Sahabat saling berebut untuk mendapatkan ludah mulia Rasulullah S.a.w dan mengusapkannya ke wajah dan badan mereka, tidak pula jatuh sehelai rambut pun dari rambut Rasulullah S.a.w kecuali mereka saling berebut mendapatkannya. Jika Beliau memerintahkan sesuatu, mereka bersegera menunaikan perintahnya. Bila Beliau berbicara, mereka merendahkan suara mereka di hadapan Beliau dan tidak menghadapkan pandangan mereka ke arah Beliau karena mengagungkan Beliau S.a.w....
Kesimpulannya, di sini terdapat dua perkara agung yang harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Pertama, kewajiban mengagungkan Nabi S.a.w dan meninggikan kedudukan Beliau S.a.w di atas sekalian makhluk. Kedua, memurnikan ketuhanan dan meyakini sepenuh hati bahwa Allah S.w.t Maha Esa pada dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan pada perbuatan-perbuatan-Nya dari sekalian makhluk-Nya. Barang siapa meyakini adanya kebersekutuan makhluk pada Tuhan Yang Maha Pencipta S.w.t pada semua itu, ia telah berbuat syirik, seperti orang-orang musyrik yang meyakini adanya sifat ketuhanan pada sekalian berhala dan kepatutannya untuk disembah. Dan barang siapa yang merendahkan Nabi S.a.w pada sesuatu dari kedudukan Beliau S.a.w, sungguh orang itu telah berbuat maksiat atau bahkan kafir.
Adapun siapa yang berbuat semaksimal mungkin dalam mengagungkan Nabi S.a.w dengan berbagai macam bentuk pengagungan dan tidak mensifati Beliau S.a.w dengan sesuatu dari sifat-sifat Al-Bari(Yang Maha Pencipta) S.w.t, sungguh orang itu telah melakukan kebenaran dan telah menjaga sisi ketuhanan dan risalah seluruhnya. Yang demikian itulah pandangan yang tiada ke-ekstreman di dalamnya.
Bila di dalam ungkapan kaum mukminin terdapat penyandaran (isnad) sesuatu kepada selain Allah S.w.t, kita wajib memaknai ungkapan itu kepada majaz ‘aqli (makna yang tidak sesungguhnya, bukan makna hakiki) dan tidak ada jalan (thariq) untuk mengkafirkan mereka. Karena majaz aqli telah digunakan dalam Al-Qur’an.
“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua anugerah-Mu di dunia dan akhirat sebagai bentuk penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi S.A.W”
Syekh Nawawi bin Umar Al-Jawi, menjelaskan ungkapan Imam Ibnu Hajar R.a, berkata, “Imam Ibnu Hajar R.a berkata, ‘Telah mengijazahkan kepadaku Sayyidi As-Sayyid Ahmad Al-Mirshafi Al-Mishri setelah sebelumnya aku diijazahi oleh guruku, Sayyidi As-Sayyid Abdul Wahhab bin Ahmad Farhat Asy-Syafi`i, dari masyayikh mereka, secara musalsal bil awwaliyah, sampai kepada Abdullah bin Umar bin Ash` dari Nabi S.a.w, bahwa Beliau, Sayyidul Akhlaq wal Khalaiq (Penghulu sekalian Akhlaq Mulia dan sekalian Makhluk) S.a.w bersabda:
‘Orang-orang yang hatinya penuh kasih sayang disayangi oleh Yang Maha Pemilik kasih sayang Tabaraka wa Ta`ala. Maka sayangi dan kasihilah siapa pun yang ada di muka bumi, niscaya kalian akan disayangi dan dikasihi oleh siapa pun yang ada di langit.’”.
Imam Ali bin Abi Thalib R.a berkata, “Jadilah engkau di sisi Allah sebaik-baik manusia dan jadilah engkau dalam pandangan nafsu seburuk-buruk manusia dan jadilah engkau seseorang di antara manusia.”.
Makna ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib, “Jadilah engkau di sisi Allah sebaik-baik manusia dan jadilah engkau dalam pandangan nafsu seburuk-buruk manusia”, janganlah pernah merasa memiliki kemuliaan yang membuatmu merasa lebih baik dari orang lain. Makna ini sebagaimana dikatakan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, qaddasallahu sirrahu. Beliau berkata, “Apabila bertemu dengan seseorang, hendaklah engkau melihatnya lebih mulia atas dirimu dan engkau katakan, ‘Tentu ia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya dariku di sisi Allah S.w.t’.
Bila yang engkau jumpai adalah seorang anak yang masih belia usianya, katakanlah, ‘Anak ini sungguh belum berbuat durhaka kepada Allah S.w.t sedang aku sungguh teramat banyak berbuat durhaka dan kemaksiatan kepada-Nya. Sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku.’. Dan bila yang engkau jumpai adalah seseorang yang sudah berumur, katakanlah, ‘Sungguh orang ini lebih dahulu beribadah kepada Allah S.w.t jauh sebelum aku, (maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’.
Bila yang engkau jumpai adalah seorang yang alim berilmu, katakanlah, ‘Sungguh orang ini telah dianugerahi sesuatu yang belum diberikan kepadaku, telah sampai kepada pengetahuan yang aku belum mengetahuinya, telah mengetahui berbagai sesuatu yang belum aku ketahui, dan ia beramal dengan ilmunya, (sedang aku beramal dengan kebodohanku, maka sungguh tiada diragukan bila ia lebih baik dariku).’.
Bila yang engkau jumpai adalah seorang yang bodoh, tidak berilmu, katakanlah, ‘Sungguh orang ini, bilapun berbuat dosa, ia berbuat dosa dengan kebodohannya, sedangkan aku berbuat dosa dengan ilmuku, dan sungguh aku tidak tahu bagaimana keadaannya di saat-saat kematian datang menjemput dan tidak tahu pula bagaimana diriku di saat-saat kematian menjemput diriku nantinya.’.
Bila yang engkau jumpai adalah seorang yang kafir, katakanlah, ‘Sungguh aku tidak tahu, boleh jadi kelak ia akan mati dengan husnul khatimah dan amal yang baik sedang aku boleh jadi pula akan menjadi kafir dan mati dalam keadaan su’ul khatimah — na`udzu billahi min dzalik (Sehingga, bila demikian adanya, sungguh tiada diragukan bila ia akan lebih baik dariku)’.”.
Adapun ungkapan, “…dan jadilah engkau seseorang di antara manusia”, maknanya adalah bahwa sesungguhnya Allah S.w.t membenci melihat seorang hamba yang membeda-bedakan diri dari orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi S.a.w.
Itulah sebabnya, sebagian ulama banyak mendawamkan doa ini dalam munajat mereka.
Allaahummaj‘alnii shabuuraa waj‘alni syakuuraa waj‘alni fi ‘ainii shaghiiraa wa fii a‘yuninnasi kabiiraa.
“Ya Allah, jadikanlah hambamu ini seorang yang sabar, dan jadikanlah daku seorang hamba yang senantiasa bersyukur atas segala karunia-Mu. Jadikanlah daku seorang hamba yang senantiasa merasa kecil dalam pandangan mataku dan besar dalam pandangan manusia.”.
Maknanya, orang-orang yang hatinya penuh dengan sifat-sifat kasih sayang dan belas kasih terhadap siapa pun yang ada di atas permukaan bumi, baik dari kalangan anak Adam bahkan juga hewan, selain hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, dengan berbuat kebaikan terhadap mereka, niscaya Yang Maha Rahman akan mengasihi dan mencintainya. Karena itulah sayangi dan belas kasihilah siapa pun yang dapat engkau sayangi dari berbagai macam dan jenis makhluk Allah S.w.t, bahkan yang tidak memiliki akal sekalipun, dengan memberikan kasih sayang, berbuat baik kepada mereka, dan banyak mendoakan mereka dengan doa rahmat dan ampunan, niscaya kalian akan disayangi dan dikasihi oleh para malaikat dan Dia, Yang rahmat-Nya meliputi bagi seluruh penduduk langit, yang jumlah mereka jauh lebih besar dari jumlah penduduk bumi.
Seorang shalihin bermimpi bertemu Imam Al-Ghazali R.a. Imam Al-Ghazali pun ditanya, “Apa yang Allah S.w.t perbuat padamu?”, Imam Al-Ghazali menjawab, “Aku dibawa dan dihadapkan di hadapan-Nya kemudian Allah S.w.t berfirman kepadaku, ‘Dengan bekal apa engkau menghadap-Ku?’. Maka aku pun mulai menyebutkan amal-amalku.
Lalu Allah S.w.t berfirman, ‘Aku tidak menerimanya. Sesungguhnya yang Aku terima darimu adalah saat suatu hari seekor lalat singgah di atas tempat tintamu untuk minum darinya di saat engkau tengah menulis. Kemudian engkau tidak melanjutkan menulis sampai lalat itu kenyang menghirup darinya karena engkau berbelas kasih terhadapnya.’.
Kemudian Allah S.w.t berfirman, ‘Wahai para malaikat-Ku, bawalah hambaku ini dan hantarkan ia ke dalam surga’.”.
Teramat mahalnya nilai kasih sayang ini, bahkan Syekh Nawawi menegaskan, dan di antara sebab yang mendatangkan husnul khatimah di antaranya adalah mendawamkan doa berikut ini:
Allaahumma akrim hadzihil-ummatal muhammadiyyah bi jamiili ‘awa-idika fid-daarain ikraaman liman ja‘altahaa min ummatihi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.
“Ya Allah, muliakanlah umat Nabi Muhammad ini dengan semua anugerah-Mu di dunia dan akhirat sebagai bentuk penghormatan dari-Mu bagi mereka yang telah Engkau jadikan sebagai bagian dari umat Baginda Nabi S.a.w.”.
Di antaranya pula mendawamkan doa berikut ini di antara sunnah Subuh dan fardhunya:
Allaahummaghfir li ummati sayyidinaa Muhammad. Allaahummarham ummata sayyidinaa muhaamad. Allaahummastur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaahummajbur ummata sayyidinaa Muhammad. Allaahumma ashlih ummata sayyidinaa Muhammad. Allahumma ‘aafi ummata sayyidina Muhammad. Allahummahfazh ummata sayyidinaa Muhammad. Allahummarham ummata sayyidinaa Muhammad rahmatan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin. Allaahummaghfir li ummati sayyidinaa muhmmad maghfiratan ‘aammah ya rabbal‘aalamiin. Allaahumma farrij ‘an ummati sayyidinaa muhammad farajan ‘aajilan ya rabbal ‘aalamiin.
“Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, tutupilah (segala aib dan cela) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, tamballah (segala kekuarangan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, perbaikilah (keadaan) umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, sehatkan dan sejahterakanlah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, peliharalah umat penghulu kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, rahmatilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan rahmat yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, ampunilah umat penghulu kami, Nabi Muhammad, dengan ampunan yang menyeluruh, wahai Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, berikanlah kelapangan bagi umat penghulu kami, Nabi Muhammad, kelapangan yang segera tiada tertunda, wahai Tuhan seru sekalian alam.”.
Juga dengan mendawamkan doa berikut ini:
Ya rabba kulli syai’ biqudratika ‘alaa kulli syai’ ighfir lii kulla syai’ wa laa tasalnii ‘an kulli syai’ wa laa tuhaasibnii fii kulli syai’ wa a‘thinii kulla syai’.
“Wahai Tuhan segala sesuatu, dengan kekuasaan-Mu atas segala sesuatu, ampunilah aku atas segala sesuatu (dari kesalahan yang aku lakukan), jangan Engkau pertanyai aku tentang segala sesuatu (dari dosa dan kedurhakaan yang aku perbuat), jangan Engkau hisab aku pada segala sesuatu (dari semua keburukan yang aku berani untuk melakukannya), dan karuniakanlah kepadaku segala sesuatu (dari segala kebaikan di dunia dan akhirat).”.
~ Nashaih al-‘Ibad Syarh al-Munbbihat ‘ala al-Istimdad li Yaum al-Ma‘ad li Al-Imam Syihab ad-Din Ahmad ibn Hajar karya Syaikh Muhammad An-Nawawi bin Umar Al-Jawi ~
“Orang yang bertaqarrub kepada Allah, selain mengerjakan kewajiban, ia juga bersungguh-sungguh melaksanakan nawafil (sunnah-sunnah) dan menahan diri dari makruhat (sesuatu yang dibenci, namun tidak haram). Hamba demikian inilah yang berhak mendapatkan kecintaan Allah Subhannahu wa Ta'ala“.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam: “Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: Barang siapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada bentuk taqarrub seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding (mengerjakan) apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan nawafil (amalan sunnah) sehingga Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya, menjadi tangannya yang dia gunakan memukul, serta menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku, maka Aku pasti memberinya, dan jika dia minta tolong kepada-Ku niscaya Aku pasti menolongnya.“. (HR al-Bukhari).
Tinjauan Rawi
Beliau adalah Sayyidul Huffazh seorang Sahabat yang mulia, Abu Hurairah R.a. Nama asli beliau dan ayahnya diperselisihkan oleh banyak kalangan, namun yang paling rajih (kuat) adalah Abdur Rahman bin Shahr ad-Dausi. Beliau masuk Islam pada awal tahun ke tujuh setelah hijrahnya Nabi S.a.w pada tahun terjadinya perang Khaibar.
Al-Imam adz-Dzahabi berkata: “Abu Hurairah telah membawa dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ilmu yang sangat banyak, sangat bagus dan diberkahi tiada tertandingi“. Dan tidak ada seorang pun yang meriwayatkan hadits dari Nabi S.a.w melebihi dari apa yang ia riwayatkan, dikarenakan ia selalu mendampingi Nabi S.a.w. Hadits yang diriwayatkannya mencapai sekitar 5374 buah hadits.
Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan darinya (Abu Hurairah R.a) bahwa dia berkata, "Sesungguhnya kalian mengatakan: "Sungguh Abu Hurairah telah mendapatkan hadits yang amat banyak dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam", dan kalian juga mengatakan, "Apa yang dilakukan oleh kaum Muhajirin dan Anshar sehingga tidak memperoleh hadits sebanyak yang diperoleh Abu Hurairah?", Sesungguhnya saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin sibuk dengan jual beli (bekerja/berdagang) di pasar sedangkan aku mendampingi Rasulullah sepanjang hari, maka aku hadir tatkala mereka pergi dan aku hafal tatkala mereka lupa. Sedangkan saudara-saudaraku dari kaum Anshar sibuk mengurus harta (kebun/ladang) mereka, sementara aku merupakan salah seorang dari orang-orang miskin ash-Shuffah. Aku memahami pada saat mereka terlupa.
Rasulullah S.a.w pernah berkata dalam sebuah sabda yang beliau (Abu Hurairah R.a) sampaikan: "Sungguh tidak seorangpun yang membentangkan pakaiannya sehingga aku menyelesaikan keseluruhan ucapanku ini, kemudian ia mendekap pakaiannya itu, kecuali dia akan faham terhadap apa yang aku ucapkan.".
Maka aku (Abu Hurairah) membentangkan selimut yang kupakai, sehingga ketika Rasulullah S.a.w selesai dari pembicaraannya, aku mendekap selimut itu ke dadaku. Maka aku pun tidak pernah lupa terhadap sabda Rasulullah S.a.w tersebut sedikitpun.".
Penjelasan Matan Hadits
Sabda Nabi Shalallaahu Alaihi Wasalam: "Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman,", menunjukkan bahwa hadits ini merupakan hadits qudsi (firman Allah S.w.t dengan redaksi dari Nabi S.a.w).
"Barang siapa memusuhi wali-Ku,", dalam riwayat lain barangsiapa yang menyakiti, dan dalam riwayat lain lagi barang siapa yang menghina. Wali berasal dari kata muwalah arti aslinya adalah kedekatan, sedang mu'aadah (memusuhi) arti aslinya adalah jauh. Yang dimaksudkan wali di sini adalah orang yang sangat dekat dengan Allah, senantiasa menjalankan ketaatan dan menjauhi segala maksiat.
"Maka Aku maklumkan (mengumumkan) perang terhadapnya,", yaitu Aku umumkan bahwa Aku memeranginya sebagai mana dia telah memerangi wali-Ku.
"Tidak ada suatu bentuk taqarrub seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada (mengerjakan) apa yang aku wajibkan atasnya.". Setelah Allah mnyebutkan bahwa memusuhi wali-Nya sama saja dengan memusuhi Allah, maka selanjutnya Dia menyebut kan ciri wali-Nya yang haram dimusuhi dan wajib berwala' (cinta dan loyal) kepadanya. Disebutkan bahwa wali Allah adalah orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, dan yang pertama kali dikerjakan adalah menunaikan kewajiban-kewajiban.
"Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia melihat dengannya, tangannya yang dengan tangan itu dia memukul dan kakinya yang dia gunakan untuk berjalan.". Maksudnya adalah bahwa barang siapa yang yang sungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan kewajiban, kemudian nawafil (amalan-amalan sunnah) maka Allah akan mendekatkan orang itu kepada-Nya, dan akan mengangkatnya dari derajat iman ke derajat ihsan. Ia beribadah kepada Allah dengan rasa muraqabah (pengawasan) Allah, seakan-akan melihat-Nya. Hatinya penuh dengan ma'rifatullah, kecintaan terhadap-Nya, pengagungan kepada-Nya, rasa takut, jinak (tunduk/patuh) dan rindu kepada-Nya. Sehingga ma'rifat (mengenal) Allah ini menjadikan ia seperti melihat Allah dengan mata bashirah (mata hati). Maka kalau dia berbicara.. berdasar petunjuk Allah, kalau mendengar.. berdasar petunjuk Allah, kalau melihat.. berdasar petunjuk Allah dan jika memukul.. berdasarkan dengan petunjuk Allah S.w.t.
"Jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku memberinya"…dan seterusnya. Bahwasanya orang yang dicintai Allah dan didekatkan kepada-Nya, dia memiliki kedudukan khusus yang menyebabkan ia selalu diberi oleh Allah apabila meminta, dilindungi Allah S.w.t jika memohon perlindungan dari sesuatu, dan dikabulkan jika berdoa.
Faidah Hadits
Seorang hamba hendaknya membiasakan untuk menjalankan ketaatan baik yang wajib maupun yang sunnah serta menjauhi segala maksiat baik kecil maupun besar agar termasuk wali Allah yang Dia cintai dan mereka cinta kepada-Nya, serta cinta kepada orang yang dicintai Allah. Allah permaklumkan untuk memusuhi siapa saja yang memusuhi, menyakiti, membenci dan mengganggu mereka. Allah juga akan melindungi dan menolong Wali-wali-Nya dan akan membela mereka.
Wajib wala' (setia/loyal) kepada Wali-wali Allah dan mencintai mereka, serta haram memusuhi mereka. Sebaliknya wajib memusuhi musuh-musuh Allah dan haram berwala' kepada mereka. Allah S.w.t berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (QS al-Mumtahanah: 1) dan Firman Allah S.w.t, yang artinya: “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. [5]: 56).
Hadits di atas menunjukkan bahwa orang yang bertaqarrub kepada Allah itu ada dua macam:
1). Orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban, dan ini merupakan tingkatan paling 'sederhana' dari seorang hamba (yakni pas-pasan). Sayyidina Umar bin Khatthab R.a berkata: "Amalan yang paling utama adalah melaksanakan apa yang diwajibkan Allah dan menjaga diri (wara') dari yang diharamkan Allah, serta niat yang jujur terhadap apa yang di sisi Allah (yakni ikhlas dalam beramal).".
2). Orang yang bertaqarrub kepada Allah, selain mengerjakan kewajiban, dia juga bersungguh-sungguh melaksanakan nawafil (sunnah-sunnah) dan menahan diri dari makruhat (sesuatu yang dibenci, namun tidak haram). Dan hamba yang demikian inilah yang berhak mendapatkan kecintaan Allah Subhannahu wa Ta'ala.
Orang yang telah dicintai Allah maka akan diberi kecintaan, kataatan, kesibukan berdzikir dan beribadah kepada-Nya, dan ia merasa betah mengerjakan amalan yang mendekatkan kepada Allah S.w.t. Maka akhirnya dia menjadi orang yang dekat kepada Allah dan memperoleh bagian yang besar dari sisi-Nya. Allah S.w.t berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS [5]: 54).
Kecintaan Allah Subhannahu wa Ta'ala adalah tujuan yang amat penting dan bahkan paling penting. Siapa saja yang mendapatkannya maka telah memperoleh kabaikan dunia dan akhirat. Ini semua akan terwujud, di antaranya dengan cara-cara berikut:
1). Melakukan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah S.w.t sebagaimana tersebut di dalam hadits di atas. Di antara kewajiban yang terpenting adalah bertauhid secara benar, shalat wajib lima waktu, zakat, puasa Ramadhan, haji bagi yang mampu, birul walidain, silaturrahim, berakhlak yang baik, jujur, tawadhu', dan lain-lain.
2). Menjauhi hal hal yang diharamkan baik berupa dosa besar maupun dosa kecil, dan menjauhi yang makruh semaksimal mungkin.
3). Bertaqarrub dengan nawafil (amalan sunnah) baik shalat, puasa, shadaqah, amar ma'ruf nahi mungkar dan amal kebajikan lainnya, seperti: banyak membaca dan mendengarkan al-Qur'an dengan penghayatan terhadap isinya, menghafal yang mampu dihafal dan terus mengulanginya. Orang yang sudah sangat cinta kepada al-Qur'an maka baginya tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding Kalam (firman) Allah yang ia cintai.
4). Banyak mengingat Allah dengan hati dan lisan, Allah S.w.t berfirman: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.”. (QS [2]: 152).
5). Mencintai para kekasih Allah dan para wali-Nya karena Allah, dan memusuhi musuh-musuh Allah karena Allah.
Berdasarkan hadits di atas, maka seluruh cara atau jalan menuju Allah dan meraih cinta-Nya yang tidak pernah disyariatkan melalui lisan Rasul adalah klaim dusta dan bathil. Sebagaimana orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah dengan persangkaan bahwa hal itu dapat mendekatkan mereka kepada-Nya. (lihat QS az-Zumar ayat 3). Orang yahudi dan nashara juga mengklaim, "Kami anak-anak Allah dan kekasih-Nya," padahal mereka terus menerus mendustakan para Rasul, melanggar larangan Allah serta meninggalkan kewajiban.
Setiap muslim berharap agar doanya terkabul, amalnya diterima, permintaannya dipenuhi, dan permohonan perlindungannya dikabulkan. Ini semua merupakan pemberian yang amat besar yang tidak akan didapat kecuali oleh orang yang dekat kepada Allah, mengerjakan kewajiban, nawafil dan sunnah dengan dibarengi niat yang ikhlas, serta mutaba'ah (mengikuti) Nabi Shalallaahu Alaihi Wasalam.